Negara yang berbagi tempat di Pulau Hispaniola dengan Republik Dominika dan bekas jajahan Prancis itu memiliki Produk Domestik Bruto (PDB) 39,2 miliar dolar AS, atau hanya 2,5 persen dari PDB Indonesia yang mencapai 1,54 triliun dolar AS.
Menurut data UNDP, Haiti merupakan negara termiskin di kawasan Amerika Latin dan Karibia dengan Indeks Kemiskinan Multidimensi (MPI) sebesar 0,200. Sekitar 41 persen penduduknya hidup dalam kemiskinan, sementara 22 persen lainnya rentan jatuh ke kemiskinan akut.
Jangankan membayangkan bagaimana Haiti bisa mencuri poin dari Skotlandia, salah satu tim Britania Raya yang acap tampil dalam putaran final Piala Dunia, mengetahui cara Haiti lolos ke putaran final Piala Dunia 2026 saja sudah seperti mendengar dongeng.
Haiti memuncaki Grup C babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Concacaf sehingga lolos otomatis ke putaran final Piala Dunia 2026. Mereka menjadi negara di Kepulauan Karibia pertama yang lolos ke putaran final Piala Dunia.
Di Grup C itu terdapat Kosta Rica yang perempat finalis Piala Dunia 2014 dan sudah empat kali masuk putaran final Piala Dunia. Juga ada Honduras yang sudah dua kali masuk putaran final Piala Dunia.
Namun ajaib, kedua negara itu finis di bawah Haiti. Baik Kosta Rika maupun Honduras gagal ke Piala Dunia 2026.
Ketidakhadiran Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada dalam kualifikasi zona Concacaf karena lolos langsung sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026, membawa berkah kepada negara miskin seperti Haiti dan negara kecil seperti Curacao.
Kedua negara ini lolos ke putaran final Piala Dunia 2026, sebagai dua dari tiga wakil Concacaf, selain Panama, yang juga tak begitu besar profil sepak bolanya.
Curacao adalah debutan yang bisa menjadi dongeng menarik lain dalam Piala Dunia 2026.
Tapi Haiti yang sudah pernah mencicipi putaran final Piala Dunia edisi 1974 di Jerman, adalah juga tim yang siap menguntai cerita bak dongeng dalam Piala Dunia.
Bagaimana tidak, Haiti mencapai prestasi ini dengan tak pernah memainkan laga kandangnya di negeri sendiri. Semua laga kandangnya diadakan di Curacao.
Masih terlalu kuat
Skuad Haiti tak bisa bermain di negeri sendiri karena Haiti terlalu kacau dan terlalu tidak aman untuk menggelar pertandingan sepak bola standar FIFA, gara-gara kerusuhan dan perang antargeng kriminal yang tak kunjung berhenti.
Selain diuntungkan oleh ketidakhadiran Meksiko, Amerika Serikat, dan Kanada dalam kualifikasi Concacaf, tim asuhan pelatih Sebastien Migne ini juga diuntungkan oleh kehadiran pemain-pemain diaspora.
Dari 26 pemain yang dibawa Migne ke Piala Dunia 2026, hanya satu pemain yang produk sepak bola domestik Haiti. Sisanya bermain di berbagai negara Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Iran.
16 dari ke-26 pemain itu bahkan lahir dan besar di luar negeri, yang kebanyakan Prancis. Itu termasuk tiga penjaga gawang mereka, yang mungkin malah tak pernah menjejakkan kaki di bumi Haiti.
Migne sendiri meloloskan Haiti ke Piala Dunia tanpa pernah menginjakkan kaki di Haiti, apalagi ibu kota Port-au-Prince yang menjadi pusat perang antargeng penjahat.
Namun demikian, Skotlandia tetap mesti mewaspadai Haiti dalam laga kedua Grup C Piala Dunia 2026.
Bersama para pemain yang hampir semuanya jebolan liga-liga kompetitif di Eropa dan Amerika Utara, Haiti memiliki kemampuan menumbangkan tim lebih besar.
Kosta Rika dalam kualifikasi Piala Dunia 2026, dan Selandia Baru yang penguasa Oseania, pernah merasakan sengatan Haiti itu. Kedua negara dikalahkan oleh Haiti, bahkan Selandia Baru dipermalukan 1-4 dalam laga persahabatan.
Dalam lima pertandingan terakhir, Haiti mencatatkan hasil yang cukup baik dengan meraih kemenangan atas Selandia Baru dan Nikaragua, bermain imbang melawan Islandia, serta menelan kekalahan dari Peru dan Tunisia.
Meski demikian, catatan tersebut masih kalah dibandingkan Skotlandia yang meraih tiga kemenangan atas Bolivia, Curacao, dan Denmark. Tim Britania Raya itu hanya kalah dalam dua laga lainnya, masing-masing dari Pantai Gading dan Jepang.
Kecuali Curacao, lawan-lawan yang dihadapi Skotlandia dalam lima pertandingan terakhir umumnya memiliki kualitas lebih tinggi dibandingkan lawan-lawan Haiti pada periode yang sama.
Fakta Skotlandia mengalahkan Curacao 4-1 menjadi petunjuk tim asuhan Steve Clarke tersebut masih terlalu kuat untuk tim menengah Concacaf, termasuk Haiti yang pernah dibantai 1-5 oleh Curacao dalam babak kedua kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Concacaf.
Kuncinya jangan remehkan
Statistik tersebut menunjukkan bahwa Skotlandia seharusnya tidak mengalami banyak kesulitan saat menghadapi Haiti dalam laga kedua Grup C di Boston Stadium, yang lebih dikenal sebagai Gillette Stadium, di Foxborough, Massachusetts.
Skotlandia lolos ke Piala Dunia 2026 yang merupakan Piala Dunia kesembilannya, setelah menjuarai Grup C kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Eropa, yang di dalamnya terdapat tim kuat Denmark dan Yunani. Kedua negara yang pernah menjuarai Piala Eropa itu gagal ke Amerika Utara.
Dalam ukuran apa pun, Haiti masih berada di bawah level Denmark maupun Yunani. Karena itu, Skotlandia memiliki alasan kuat untuk percaya diri meraih tiga poin dari wakil Karibia tersebut.
Skotlandia memang harus memiliki keyakinan itu karena inilah peluang terbaik mereka menabung poin krusial di awal kompetisi, sebelum menghadapi favorit juara Brasil dan Maroko, juara Afrika yang mewarisi gelar setelah Senegal didiskualifikasi akibat melakukan walk out pada menit ke-15 laga final Piala Afrika.
Brasil yang juara dunia lima kali dan Maroko yang semifinalis edisi 2022, bermain imbang 1-1 dalam laga pertama Grup C.
Bagi Skotlandia, Piala Dunia dengan peserta lebih banyak akan memberi kesempatan lebih luas untuk lolos ke fase gugur pertamanya setelah selalu gagal dalam delapan edisi Piala Dunia terdahulu yang mereka ikuti. Jika tak berhasil menjadi juara dan runner up Grup C, Skotlandia bisa mencari tiket fase gugur dari status peringkat ketiga terbaik.
Dengan para bintang seperti Scott McTominay, Scott McKeenna, Andy Robertson, Lewis Ferguson, Che Adams, John McGinn dan Kieran Tierney, Tartan Army masih terlalu kuat untuk Haiti.
Duckens Nazon yang pencetak gol terbanyak sepanjang masa Haiti, gelandang Wolverhampton Wanderers Jean-Ricner Bellegarde, dan striker Sunderland Wilson Isidor, adalah di antara pemain Haiti yang paling menonjol yang harus dicermati Skotlandia.
Kunci tak kalah penting dalam mengalahkan Haiti adalah tetap terukur, kompak, dan tak lengah karena meremehkan lawan. Sikap-sikap ini akan penting guna mendapatkan tiga poin dari Haiti.
Bagi Haiti sendiri, satu poin dari Skotlandia sudah cukup menjadikan mereka sebagai berita besar dalam Piala Dunia 2026.
52 tahun lalu Haiti gagal mendapatkan poin dari debutnya, setelah kalah dan menjadi ladang gol untuk Polandia, Argentina, dan Italia. Mereka kebobolan 14 gol dan cuma memasukkan dua gol.
Menghindari catatan buruk 1974 akan menjadi impian Haiti. Sebaliknya, memenangkan laga pertamanya dalam Piala Dunia 2026, menjadi titik masuk bagus bagi Skotlandia untuk memupus predikat spesialis fase grup. (ant)






