JAKARTA (kabarpublik.id) – Gerakan Aktivis Jakarta menggelar diskusi publik bertajuk “Membangun Kesadaran Kolektif: Peran Aktif Masyarakat dalam Pengelolaan Sampah Mandiri” di Dapur Biranda, Jatinegara, Selasa (2/6/26). Kegiatan ini menjadi upaya mendorong partisipasi masyarakat dalam mengatasi persoalan sampah yang kian mendesak di Ibu Kota.
Berdasarkan data yang disampaikan dalam forum tersebut, volume sampah di Jakarta mencapai sekitar 9.000 ton per hari. Kondisi ini dinilai membutuhkan langkah konkret dari pemerintah, swasta, dan masyarakat untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Ketua Panitia sekaligus Presidium Gerakan Aktivis Jakarta, M. Awab Zimah, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk komitmen untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah secara mandiri.
“Kami ingin membangun kesadaran bahwa sampah bukan sekadar masalah, tetapi tanggung jawab bersama yang harus dikelola secara berkelanjutan,” ujarnya.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Cyril Raoul Hakim, menilai perubahan pola pikir masyarakat menjadi faktor penting dalam menyelesaikan persoalan sampah. Menurutnya, kota-kota maju telah berhasil membangun budaya pengelolaan sampah yang konsisten dan terintegrasi.
“Jakarta harus bertransformasi menjadi kota global yang bersih, sehat, dan berkelanjutan melalui pemanfaatan teknologi serta kolaborasi seluruh elemen masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Ketua Panitia Khusus (Pansus) Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Yudistira Hermawan, menegaskan komitmen pihaknya dalam mengawal pelaksanaan Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sampah.
Ia menyebut DPRD akan mendorong alokasi anggaran yang lebih besar untuk edukasi masyarakat, pelatihan, serta pemeliharaan fasilitas pengolahan sampah.
Dari sisi teknis, perwakilan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta, M. Adib Awaludin, menjelaskan bahwa bank sampah tidak hanya berfungsi sebagai unit ekonomi, tetapi juga sebagai sarana edukasi perubahan perilaku masyarakat.
“Pemilahan sampah dari sumber menjadi langkah penting agar proses pengolahan lanjutan, seperti komposting maupun budidaya maggot, dapat berjalan efektif,” ujarnya.
Perwakilan PD Pasar Jaya, Yohanes Daramonsidi, menambahkan bahwa pasar menjadi salah satu penghasil sampah organik terbesar di Jakarta. Karena itu, pihaknya terus meningkatkan edukasi kepada para pedagang serta menjajaki kerja sama teknologi pengolahan sampah di lingkungan pasar.
Diskusi tersebut menghasilkan sejumlah komitmen bersama yang akan dikawal implementasinya, antara lain optimalisasi dukungan operasional bagi bank sampah aktif, penyusunan standar teknis pemilahan sampah, penguatan anggaran untuk pemberdayaan masyarakat, kewajiban pengelolaan sampah mandiri bagi sektor swasta, serta pelatihan daur ulang yang bernilai ekonomi.
Koordinator Presidium Gerakan Aktivis Jakarta, Agus Harta, berharap kolaborasi lintas sektor dapat mempercepat terwujudnya Jakarta yang lebih bersih dan mandiri dalam pengelolaan sampah.
“Ini adalah langkah awal untuk membangun sinergi yang lebih luas. Kami ingin memastikan gerakan ini menghasilkan perubahan nyata bagi Jakarta dalam beberapa tahun ke depan,” katanya.





