JAKARTA (kabarpublik.id) – Epidemiolog dari Griffith University, Dicky Budiman, menjelaskan bahwa hantavirus dapat menular melalui udara yang terkontaminasi partikel dari urin, feses, atau air liur tikus yang terinfeksi.
Menurutnya, penularan utama terjadi melalui inhalasi aerosol, yakni ketika seseorang menghirup debu dari urin tikus yang telah mengering atau partikel lain yang terkontaminasi.
“Hantavirus pulmonary syndrome merupakan penyakit zoonosis. Penularannya terutama melalui udara yang terkontaminasi partikel dari tikus yang terinfeksi,” ujar Dicky dalam keterangan daring, Rabu.
Ia menambahkan, penularan juga bisa terjadi melalui kontak dengan permukaan yang terkontaminasi kotoran tikus. Namun, penularan antarmanusia sangat terbatas dan hanya terjadi pada jenis tertentu, seperti Andes virus.
Pada tahap awal infeksi, penderita umumnya mengalami gejala seperti demam, nyeri otot, dan tubuh lemas. Jika tidak ditangani, kondisi dapat berkembang menjadi fase kritis berupa kerusakan pembuluh darah paru, kebocoran cairan, hingga menyebabkan edema paru dan gagal napas akut.
Dicky mengungkapkan, tingkat kematian akibat infeksi ini bisa mencapai sekitar 40 persen, terutama akibat kondisi kebocoran pembuluh darah (vascular leakage) yang memicu penumpukan cairan di paru-paru dan hipoksia berat.
“Perburukan bisa terjadi dalam hitungan hari. Karena itu, deteksi dan penanganan dini sangat penting untuk mencegah kondisi fatal,” jelasnya.
Hingga kini, belum tersedia terapi antivirus khusus untuk hantavirus. Penanganan masih bersifat suportif, seperti pemberian oksigen melalui ventilator dan pengelolaan cairan secara ketat.
Meski berbahaya, Dicky menegaskan potensi hantavirus menjadi pandemi global relatif kecil karena penularannya bukan melalui interaksi antarmanusia secara luas.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan, terutama di area berisiko tinggi seperti ruang tertutup dengan ventilasi buruk atau lokasi yang berpotensi menjadi habitat tikus. (Ant)





