News Update
Live Update Berita Terkini

Dokter: Hipertensi dan Merokok Jadi Faktor Risiko Utama Penyakit Jantung Koroner

Rabu, 26 Agu 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Ilustrasi : Seseorang terkena serangan jantung. ANTARA/Pexels/Towfiqu Barbhuiya/am.
Dengarkan dgn suara Siap
2.4K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Dokter Spesialis Jantung IHC RS Pusat Pertamina, Maya Munigar Apandi, mengatakan hipertensi dan kebiasaan merokok menjadi faktor risiko yang sering berkaitan dengan penyakit jantung koroner di Indonesia.

Menurut Maya, risiko tersebut dapat semakin besar apabila hipertensi dan kebiasaan merokok terjadi secara bersamaan. Kedua faktor tersebut dapat memicu kerusakan pada pembuluh darah dan meningkatkan pembentukan plak atau kerak yang berpotensi menyebabkan penyumbatan.

“Merokok merupakan salah satu gaya hidup yang bisa dimodifikasi. Kami tetap menyarankan untuk berhenti merokok dengan metode apa pun, baik rokok konvensional maupun rokok elektrik,” kata Maya dalam diskusi kesehatan di RS Pusat Pertamina, Jakarta, Rabu (26/8).

Maya menjelaskan hipertensi dapat membuat pembuluh darah menjadi kaku dan kehilangan elastisitas. Sementara itu, zat yang terkandung dalam rokok dapat membuat dinding pembuluh darah lebih rentan mengalami kerusakan dan pembentukan plak.

Risiko tersebut dapat semakin meningkat jika disertai pola makan yang tidak sehat, terutama konsumsi makanan tinggi lemak, gula, dan karbohidrat secara berlebihan.

Penyakit jantung koroner terjadi ketika arteri koroner yang bertugas memasok oksigen dan nutrisi ke otot jantung mengalami penyempitan atau penyumbatan. Kondisi tersebut dapat mengganggu aliran darah ke jantung.

Karena itu, Maya mengingatkan masyarakat untuk menjaga pola makan dengan menyesuaikan jumlah dan kebutuhan tubuh. Asupan makanan yang berlebihan dan tidak seimbang dapat meningkatkan berbagai faktor risiko penyakit jantung.

Ia merekomendasikan pola makan dengan asupan protein yang cukup, memperbanyak serat, serta membatasi lemak dan konsumsi susu maupun produk olahannya secara berlebihan.

Selain pola makan, kualitas dan durasi tidur juga perlu diperhatikan. Kurang tidur dalam jangka panjang disebut dapat meningkatkan risiko hipertensi yang kemudian dapat berkontribusi terhadap penyakit jantung.

“Kalau istirahat kurang, tidur kurang, lima sampai 10 tahun ke depan kita punya risiko sakit jantung. Mungkin tidak langsung sakit jantung, kita mulai dari hipertensi dulu. Kurang tidur sudah memiliki data yang berhubungan dengan peningkatan risiko hipertensi di kemudian hari,” ujarnya.

Maya juga menekankan pentingnya pengelolaan stres sebagai bagian dari pola hidup sehat. Setiap orang dapat memilih cara yang berbeda untuk mengelola stres, seperti bepergian, membaca buku, bernyanyi, makan secara terkontrol, atau meluangkan waktu untuk beristirahat dan memulihkan energi.

Aktivitas fisik juga dianjurkan dilakukan secara rutin dengan menyesuaikan kemampuan masing-masing individu. Bagi masyarakat yang tidak terbiasa berolahraga, latihan sebaiknya dimulai dari intensitas ringan dan ditingkatkan secara bertahap.

Sebagai contoh, durasi olahraga dapat ditingkatkan dari 30 menit menjadi 45 menit atau frekuensinya dari tiga kali menjadi empat hingga lima kali dalam sepekan.

Menurut Maya, konsistensi berolahraga lebih penting dibandingkan melakukan aktivitas fisik secara berlebihan tetapi tidak rutin. Pola tersebut juga dapat membantu menekan risiko cedera.

Selain menjaga gaya hidup, masyarakat yang memiliki faktor risiko seperti tekanan darah tinggi, diabetes, atau kadar kolesterol tinggi perlu melakukan pemeriksaan dan pengendalian secara teratur.

“Mengontrol faktor risiko kalau memang punya, misalnya darah tinggi, kencing manis, kolesterol, itu wajib dikontrol. Semuanya harus optimal dan diusahakan,” kata Maya.

No More Posts Available.

No more pages to load.