Breaking News
Live Update Berita Terkini

Cangkang Sawit Dinilai Jadi Energi Biomassa Paling Efektif, APCASI Dorong Insentif BPDP

Jumat, 8 Mei 2026
Editor: Eky
APCASI menyebut cangkang sawit memiliki potensi besar sebagai energi biomassa pengganti batu bara. Namun, tingginya biaya logistik dinilai masih menjadi hambatan pemanfaatan di dalam negeri. (Ist)
Dengarkan dgn suara Siap
17K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Cangkang sawit atau oil palm shell dinilai memiliki potensi besar sebagai sumber energi biomassa ramah lingkungan di tengah percepatan transisi energi global. Komoditas limbah kelapa sawit ini disebut lebih efektif dibandingkan biomassa lain, baik untuk kebutuhan ekspor maupun pasar domestik.

Hal tersebut disampaikan Chairman APCASI (Asosiasi Pengusaha Cangkang Sawit Indonesia), Dikki, di sela pameran teknologi kelapa sawit internasional PALMEX Jakarta 2026 di Jakarta International Expo, Rabu (6/5/2026).

Menurut Dikki, permintaan cangkang sawit diperkirakan terus meningkat dalam dua hingga tiga tahun ke depan, terutama dari negara-negara Asia Timur seperti Jepang dan Korea Selatan yang memanfaatkan biomassa sebagai pengganti batu bara di pembangkit listrik.

“Cangkang sawit adalah biomassa yang paling bagus dan paling efektif dibandingkan biomassa lainnya,” ujar Dikki.

Berdasarkan data APCASI, produksi cangkang sawit nasional saat ini mencapai sekitar 12 hingga 14 juta ton per tahun. Sebagian besar produksi masih diekspor, sementara pasar dalam negeri dinilai memiliki peluang besar untuk mendukung program co-firing PLTU dan bahan bakar PLTD milik PLN.

Dikki menilai regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) tidak memberikan dampak signifikan terhadap ekspor cangkang sawit Indonesia. Pasalnya, pasar Eropa untuk komoditas tersebut masih relatif kecil.

Ia menjelaskan, negara-negara Eropa cenderung membatasi pengiriman energi hijau dari jarak jauh karena transportasi laut masih menghasilkan emisi karbon dari bahan bakar fosil.

“Pasar utama cangkang sawit justru berada di Asia karena jarak distribusinya lebih dekat,” katanya.

Meski peluang ekspor terus terbuka, APCASI mendorong pemanfaatan cangkang sawit lebih besar di dalam negeri. Selain mendukung kemandirian energi, langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan perputaran ekonomi pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor biomassa.

Menurut Dikki, salah satu kendala utama saat ini adalah tingginya biaya logistik pengiriman cangkang sawit dari pabrik kelapa sawit ke pembangkit listrik, terutama di wilayah Indonesia Timur.

Karena itu, APCASI mengusulkan agar Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP) memberikan insentif khusus untuk pengembangan biomassa cangkang sawit.

“Saya mengusulkan biaya logistik cangkang sawit untuk masuk ke PLTD PLN diberikan insentif melalui anggaran BPDP. Jangan hanya biodiesel yang menyerap sebagian besar dana BPDP,” tegasnya.

Ia menambahkan, dukungan insentif biomassa dapat memberikan dampak ekonomi yang luas, khususnya bagi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang masih menghadapi keterbatasan akses energi.

PALMEX Jakarta 2026 yang digelar pada 6–7 Mei 2026 sendiri menjadi momentum untuk mendorong hilirisasi dan digitalisasi industri sawit nasional, termasuk pengembangan biomassa berbasis limbah sawit sebagai energi alternatif berkelanjutan.

No More Posts Available.

No more pages to load.