JAKARTA (kabarpublik.id) – Akademisi Hubungan Internasional Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Moch Faisal Karim menilai Indonesia memiliki peluang untuk menjadi penggerak isu lingkungan dalam forum kerja sama BRICS.
Menurut Faisal, Indonesia juga dapat berperan sebagai jembatan di antara negara-negara anggota BRICS. Peran tersebut dinilai sejalan dengan pengalaman Indonesia yang selama ini kerap menjadi bridge builder atau penengah dalam kerja sama di ASEAN.
“Ada satu hal yang semuanya sepakat, yaitu isu lingkungan, isu climate change (perubahan iklim). Nah, di sini mungkin kita harus mampu mencari satu titik temu, dan dari situ kita bisa jalan bareng,” ujar Faisal saat dihubungi ANTARA dari Jakarta, Kamis (10/9).
Ia mengatakan upaya menyatukan negara-negara BRICS dalam isu ekonomi dan politik relatif lebih sulit karena setiap negara memiliki kepentingan masing-masing.
Sebaliknya, isu perubahan iklim dinilai memiliki ruang kerja sama yang lebih besar karena dampaknya dirasakan hampir seluruh negara di dunia.
Karena itu, Faisal mendorong pemerintah lebih proaktif menyampaikan gagasan Indonesia dalam forum BRICS, meskipun Indonesia bukan negara pendiri dan baru bergabung pada Januari 2025.
“Indonesia ini terbiasa membuat sesuatu, kita menjadi inisiator. Kita memiliki semacam posisi sebagai norm entrepreneur, pihak yang mengusung berbagai ide dan nilai baru ke dalam sistem internasional agar diadopsi oleh negara-negara anggota,” katanya.
Selain isu lingkungan, Faisal menilai Indonesia juga dapat mendorong pembentukan struktur kelembagaan yang lebih formal di BRICS.
Pandangan tersebut sejalan dengan Guru Besar Ilmu Hukum Internasional Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana yang menyebut BRICS hingga kini belum memiliki piagam pendirian, anggaran dasar, maupun sekretariat pusat.
Hikmahanto mendorong Indonesia mengambil inisiatif dengan menyusun rancangan anggaran dasar untuk memperkuat kerja sama BRICS agar lebih komprehensif dan efektif.
KTT BRICS ke-18 dijadwalkan berlangsung di New Delhi, India, pada 12–13 September 2026. Tahun ini, forum tersebut mengusung tema “Building for Resilience, Innovation, Cooperation and Sustainability”.
Indonesia resmi bergabung sebagai anggota BRICS pada 6 Januari 2025.





