JAKARTA (kabarpublik.id) – Indonesia menyerukan penguatan kerja sama internasional untuk menjamin keberlanjutan pendidikan anak-anak Palestina yang terdampak konflik berkepanjangan. Dukungan pendanaan dan perlindungan fasilitas pendidikan dinilai mendesak agar generasi muda Palestina tidak kehilangan masa depannya.
Seruan tersebut disampaikan Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, IGAK Satrya Wibawa, dalam Sidang ke-225 Dewan Eksekutif UNESCO di Paris, Prancis.
Dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Selasa (20/10/2026), Satrya menegaskan pentingnya menjaga keberlangsungan layanan pendidikan yang dijalankan Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA).
“Bagi Indonesia, pendidikan bukan sekadar kebutuhan selama masa konflik, melainkan fondasi bagi pemulihan, pembangunan, dan masa depan Palestina. Anak-anak Palestina tidak boleh kehilangan kesempatan belajar akibat konflik yang berkepanjangan,” kata Satrya.
Indonesia mengapresiasi peran UNESCO dalam mendukung program pendidikan UNRWA. Namun, pemerintah juga menyampaikan keprihatinan atas kerusakan fasilitas pendidikan, pembatasan mobilitas, serta berbagai hambatan operasional yang mengancam hak belajar anak-anak Palestina.
Ratusan Ribu Pelajar Gaza Kehilangan Akses Pendidikan
Krisis pendidikan di Palestina semakin mengkhawatirkan akibat konflik yang berlangsung sejak Oktober 2023.
Berdasarkan data UNESCO, sekitar 745.000 pelajar di Jalur Gaza kehilangan akses pendidikan sekolah selama lebih dari dua tahun akademik. Jumlah tersebut mencakup sekitar 88.000 mahasiswa perguruan tinggi.
Situasi serupa juga terjadi di Tepi Barat. Pada Maret 2026, UNRWA memperingatkan sekitar 48.000 pelajar pengungsi Palestina menghadapi risiko terganggunya pendidikan.
Ancaman tersebut dipicu oleh pengungsian, penutupan sekolah, serta kondisi keamanan yang belum stabil.
Indonesia menilai situasi ini membutuhkan perhatian serius masyarakat internasional, terutama untuk memastikan anak-anak Palestina tetap mendapatkan layanan pendidikan yang aman dan layak.
Indonesia Dorong Pendanaan Berkelanjutan untuk UNRWA
Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya dukungan pendanaan internasional yang memadai dan berkelanjutan bagi UNRWA.
Pendanaan tersebut harus dikelola secara transparan dan akuntabel agar layanan pendidikan serta perlindungan bagi anak-anak pengungsi Palestina dapat terus berjalan.
“UNRWA memiliki peran yang tidak tergantikan dalam menjamin akses pendidikan bagi pengungsi Palestina. Karena itu, solidaritas internasional harus diwujudkan melalui dukungan pendanaan dan kerja sama nyata yang berkelanjutan,” ujar Satrya.
Selain dukungan pendanaan, Indonesia mendorong UNESCO memperluas program pembelajaran darurat, pelatihan guru, layanan psikososial, pendidikan inklusif, serta akses pendidikan tinggi dan vokasi.
Berdasarkan laporan UNESCO pada 15 Oktober 2026, sekitar 40.000 mahasiswa telah memperoleh manfaat dari program Gaza Virtual Campus dan fasilitas pembelajaran sementara.
Program tersebut menjadi salah satu upaya mempertahankan kegiatan pendidikan di tengah kerusakan infrastruktur akibat konflik.
Meski demikian, Indonesia menilai pembangunan kembali sekolah dan perguruan tinggi tetap menjadi kebutuhan mendesak untuk memulihkan sistem pendidikan Palestina.
Indonesia Siapkan Beasiswa untuk 200 Mahasiswa Palestina
Komitmen Indonesia terhadap pendidikan Palestina juga diwujudkan melalui program beasiswa bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi.
Pada 9 September 2026, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi meluncurkan program beasiswa magister bagi 200 mahasiswa Palestina.
Program dengan anggaran Rp22 miliar tersebut memberikan kesempatan kepada penerima beasiswa untuk menempuh pendidikan di sejumlah perguruan tinggi Indonesia.
Sebelumnya, pada April 2026, Indonesia juga memperkuat kerja sama pendidikan dengan Palestina melalui dialog yang melibatkan Australia.
Kerja sama tersebut mencakup reformasi pendidikan, peningkatan kapasitas kelembagaan, serta pengembangan sistem pendidikan yang lebih inklusif.
Bantuan Kemanusiaan Indonesia untuk Gaza Terus Mengalir
Selain pendidikan, Indonesia terus menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat Palestina.
Berdasarkan laporan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kairo, hingga Februari 2026, bantuan kemanusiaan yang tercatat melalui Mesir mencapai sekitar 22,55 juta dolar AS atau setara Rp405 miliar.
Total bantuan tersebut memiliki berat sekitar 2.580 ton.
Pada April 2026, bantuan tambahan juga dikirim melalui konvoi 24 truk yang membawa sekitar 500 ton logistik senilai Rp20 miliar.
Bantuan tersebut ditujukan untuk memenuhi kebutuhan sekitar 150.000 warga Gaza yang terdampak konflik.
Indonesia Tegaskan Hak Palestina atas Sistem Pendidikannya
Dalam forum UNESCO, Indonesia turut menegaskan bahwa proses pemulihan pendidikan Palestina harus menghormati kewenangan dan kepentingan nasional bangsa Palestina.
Pengembangan kurikulum, pengelolaan lembaga pendidikan, serta kebijakan pemulihan harus tetap berada dalam kerangka kewenangan Otoritas Palestina.
Indonesia juga mendorong penguatan kerja sama UNESCO dan UNRWA dengan mengutamakan kebutuhan masyarakat Palestina.
Menurut Satrya, pendidikan memiliki peran strategis dalam menjaga harapan generasi muda sekaligus memperkuat kemampuan Palestina membangun masa depannya.
“Mempertahankan pendidikan Palestina berarti menjaga harapan sebuah generasi sekaligus memperkuat kemampuan bangsa Palestina membangun masa depannya sendiri. Indonesia akan terus mendukung upaya internasional agar hak atas pendidikan tidak menjadi korban konflik,” tegasnya.




