“Evakuasi ini merupakan bentuk kehadiran negara dalam memberikan perlindungan kepada masyarakat sipil yang terdampak situasi gangguan keamanan di wilayah pedalaman Papua Pegunungan,” kata Kepala Penerangan Koops Habema Letkol Inf M. Wirya Arthadiguna dalam siaran pers resmi yang diterima di Jakarta, Senin.
Walau demikian, Wirya tidak menjelaskan secara rinci kronologi mereka bisa melarikan diri dari kawanan OPM.
Wirya hanya menjelaskan proses evakuasi bermula ketika ke 44 warga itu sampai di Pelabuhan Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel menggunakan tiga unit long boat dari Kampung Kawe, Distrik Awimbon.
- REMBUK BERSAMA DI PERBATASAN, DIRLANTAS POLDA GORONTALO – SULUT BAHAS PROSEDUR MASUK KELUAR WARGA
- TINGKATKAN KESEJAHTERAAN RAKYAT GORONTALO, KOPERASI KKRG MULAI DIBENTUK
- Sosialisasi Pendaftaran Tanah Ulayat, Kementerian ATR/BPN Jadi Motor Penggerak dalam Memberikan Perlindungan bagi Masyarakat Hukum Adat
Setibanya di Pelabuhan Tanah Merah, seluruh warga langsung mendapat pengamanan dan pendampingan dari personel Koops TNI Habema bersama aparat gabungan guna menjalani pendataan, pemeriksaan, dan pengamanan lanjutan.
Setelah mendampingi para warga, personel Koops Habema langsung meningkatkan pengamanan di beberapa wilayah untuk memastikan masyarakat aman.
“Koops TNI Habema bersama aparat terkait terus berupaya memastikan situasi keamanan tetap kondusif serta meningkatkan langkah-langkah pengamanan guna mencegah terjadinya gangguan keamanan lanjutan,” kata dia.
Wirya memastikan hingga saat ini ke 44 warga telah mendapat pelayanan terbaik dari jajarannya.
Hingga saat ini, pihaknya terus memperkuat sinergi antar aparat terkait untuk memastikan seluruh wilayah aman dari aktivitas OPM (ant)








