Breaking News
Live Update Berita Terkini

Relawan SAR Bagikan Pengalaman Kehilangan Tangan Akibat Gigitan Ular, Soroti Pentingnya Penanganan Cepat

Jumat, 10 Jul 2026
Editor: Eky
Erdipriyai atau yang akrab disapa Bangor, seorang relawan Tim SAR Basarnas sekaligus pegiat edukasi penanganan gigitan ular. (Dok. Pribadi)
Dengarkan dgn suara Siap
4.5K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Pengalaman pahit dialami Erdipriyai atau yang akrab disapa Bangor, seorang relawan Tim SAR Basarnas sekaligus pegiat edukasi penanganan gigitan ular. Pria yang telah bertahun-tahun memberikan edukasi kepada masyarakat itu harus kehilangan tangan kirinya setelah mengalami gigitan ular berbisa.

Melalui kisah pribadinya, Bangor berharap pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bagi masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan agar sistem penanganan korban gigitan ular di Indonesia terus diperbaiki.

Menurut Bangor, selama menjadi relawan ia beberapa kali mengalami gigitan ular, baik ular yang tidak berbisa maupun ular berbisa tinggi. Pada kejadian-kejadian sebelumnya, ia selalu berhasil pulih tanpa mengalami komplikasi serius.

Namun, nasib berbeda terjadi saat dirinya digigit ular hijau berbisa jenis Trimeresurus albolabris. Dalam tiga jam pertama setelah kejadian, kondisinya masih relatif stabil. Pembengkakan belum meluas dan belum muncul gejala sistemik yang berat.

Ia mengaku sempat mengurangi aktivitas dan melakukan penanganan awal berdasarkan pengalaman yang dimilikinya. Beberapa jam kemudian keluarganya mengetahui kondisi tersebut dan membawanya ke rumah sakit setelah melihat pembengkakan pada tangan semakin parah.

Saat tiba di rumah sakit, Bangor mengaku tangannya diimobilisasi menggunakan ikatan yang menurutnya terlalu kuat. Tak lama kemudian ia merasakan nyeri hebat, disertai perubahan warna pada tangan dan kuku hingga akhirnya memutuskan melepas ikatan tersebut.

Meski demikian, kondisi tangannya terus memburuk hingga tidak lagi dapat digerakkan. Selanjutnya, ia mengalami sesak napas, penurunan kesadaran, serta gangguan pada denyut nadi yang memerlukan tindakan penyelamatan medis.

Bangor juga mengungkapkan bahwa serum antibisa belum diterimanya hingga keesokan hari. Berdasarkan informasi yang diperolehnya, keterlambatan tersebut terjadi karena masih menunggu persetujuan sesuai prosedur yang berlaku saat itu.

Ia kemudian disarankan menjalani tindakan operasi untuk mengurangi tekanan akibat pembengkakan jaringan. Namun, Bangor memilih menolak tindakan tersebut karena memiliki pertimbangan pribadi. Setelah berdiskusi bersama keluarga dan rekan-rekan relawan, ia akhirnya melanjutkan pencarian serum antibisa secara mandiri hingga menemukannya di salah satu klinik.

Sayangnya, menurut pengakuannya, kondisi jaringan pada tangannya saat itu sudah mengalami kerusakan berat dan berkembang menjadi nekrosis. Bangor kemudian dirujuk ke RSUD Welas Asih Bandung. Setelah melalui pemeriksaan medis, tim dokter memutuskan amputasi sebagai langkah untuk menyelamatkan nyawanya.

Meski harus kehilangan satu tangan, Bangor menegaskan bahwa kisah ini bukan untuk menyalahkan tenaga kesehatan ataupun pihak tertentu. Ia justru berharap pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi bersama guna meningkatkan kualitas penanganan kasus gigitan ular di Indonesia.

Menurutnya, edukasi kepada masyarakat, ketersediaan serum antibisa ular, peningkatan kompetensi tenaga kesehatan, komunikasi antartenaga medis, serta kecepatan dalam pengambilan keputusan merupakan faktor penting yang dapat menentukan keselamatan pasien.

“Saya telah kehilangan satu tangan. Saya berharap tidak ada lagi orang lain yang harus kehilangan anggota tubuh, bahkan kehilangan nyawa, akibat keterlambatan atau ketidaktepatan penanganan kasus gigitan ular,” ujar Bangor.

Ia berharap pengalamannya dapat meningkatkan kesadaran masyarakat sekaligus mendorong perbaikan sistem penanganan medis terhadap korban gigitan ular di Indonesia agar kejadian serupa tidak kembali terulang.

No More Posts Available.

No more pages to load.