News Update
Live Update Berita Terkini

Radinka Wiratama, Sang “Bungsu” Esports yang Menembus Asian Games

Minggu, 20 Sep 2026
Editor: Jamalul Insan
Atlet esports nomor eFootball Radinka Wiratama ditemui di sela pemusatan latihan (pelatnas) di Jakarta, Selasa (15/9/2026). ANTARA/Arindra Meodia.
Dengarkan dgn suara Siap
5.8K pembaca
NAGOYA, JEPANG  (Kabarpublik.id) – Hampir dua bulan Radinka Wiratama tidak duduk di bangku sekolah seperti anak seusianya.

Alih-alih mengikuti pelajaran di kelas, remaja 16 tahun itu lebih banyak menghabiskan waktunya di tempat pemusatan latihan, menjalani rutinitas sebagai atlet esports yang sedang mempersiapkan diri menuju panggung olahraga Asia.

Pagi Radinka dimulai dengan sarapan dan persiapan latihan. Setelah itu, waktunya diisi dengan sesi latihan, apel, dan kembali berlatih hingga sore. Ketika malam tiba, barulah ia memiliki waktu yang lebih longgar untuk beristirahat atau melakukan aktivitas fisik seperti gym.

Rutinitas itu sudah dijalani selama beberapa minggu. Sesekali ia pulang ke rumah karena tempat tinggalnya tidak terlalu jauh dari lokasi pelatnas. Namun, lebih sering keluarganya yang datang menjenguk.

Bagi anak seusianya, mungkin ada banyak hal yang harus dilewatkan. Waktu bersama teman, bermain, hingga rutinitas sekolah menjadi sesuatu yang harus ia kompromikan.

Berawal dari Mobile Legends

Radinka menyadari betul konsekuensi tersebut. Ia mulai meniti karier sebagai atlet esports profesional pada awal 2025. Saat itu, usianya baru 15 tahun ketika dipinang oleh salah satu tim esports ternama.

Pilihan itu datang dari kegemarannya bermain game bersama teman-temannya. Sejak kelas tiga sekolah dasar, Radinka sudah mengenal gim. Mobile Legends menjadi salah satu permainan yang pertama ia mainkan. Ketertarikannya kemudian beralih ke game sepak bola pada 2020, ketika eFootball sedang banyak dimainkan.

Awalnya hanya rasa penasaran. Bermain bersama teman berubah menjadi kebiasaan, lalu berkembang menjadi sesuatu yang lebih serius. Dari sana, Radinka mulai berlatih lebih teratur, mengikuti kompetisi, dan perlahan masuk ke lingkungan profesional.

Pilihan tersebut sempat membuat orang tuanya khawatir. Seperti kebanyakan orang tua, keluarga Radinka sempat melihat aktivitas bermain gim sebagai sesuatu yang perlu dibatasi, terutama karena pendidikan tetap menjadi perhatian

Radinka kemudian memilih tidak banyak berdebat. Ia mencoba membuktikan melalui prestasi. Juara pada turnamen pertamanya pada 2024 menjadi salah satu momen yang mengubah pandangan keluarganya. Setelah merasakan hasil dari kompetisi tersebut, dukungan orang tua mulai tumbuh.

Dukungan itu pula yang kemudian mengiringi perjalanan Radinka hingga ke tingkat internasional.

Pada Juli 2026, ia tampil dalam kejuaraan dunia di Thailand. Turnamen tersebut menjadi kompetisi internasional pertamanya. Radinka mampu melangkah hingga empat besar atau semifinal.

Sang ibu ikut mendampinginya di Thailand. Bagi Radinka, pengalaman tersebut menjadi salah satu kenangan yang paling membekas. Bukan semata karena berhasil mencapai posisi empat besar, tetapi karena untuk pertama kalinya ia merasakan langsung atmosfer kompetisi internasional dengan membawa ambisi yang lebih besar.

Beberapa waktu berselang, kesempatan yang jauh lebih besar datang. Nama Radinka masuk dalam skuad tim nasional esports Indonesia untuk Asian Games 2026 Aichi-Nagoya, Jepang. Di usianya yang baru 16 tahun, ia menjadi atlet termuda dalam tim nasional esports Indonesia untuk ajang tersebut.

Menjadi yang paling muda ternyata tidak membuat Radinka merasa berada di bawah para senior. Ia justru melihat seluruh anggota tim sebagai atlet yang memiliki tujuan sama: berjuang untuk Indonesia.

Perbedaan usia tidak menjadi jarak baginya. Lingkungan pelatnas justru menjadi ruang belajar baru, terutama karena ia berada satu tim dengan pemain-pemain yang sudah lebih dahulu memiliki pengalaman profesional.

Salah satu sosok yang paling dekat dengannya adalah Rizky Faidan, partner satu tim Radinka di nomor eFootball.

Faidan berperan sebagai senior sekaligus rekan berbagi selama persiapan. Dari situ, Radinka mendapatkan pengalaman dan pelajaran yang tidak semuanya bisa diperoleh hanya dari latihan mandiri.

Asian Games nanti juga menghadirkan tantangan baru bagi dua atlet tersebut. Radinka akan bermain pada sektor mobile, sementara Faidan turun di konsol. Hasil keduanya kemudian digabungkan dalam sistem agregat.

Format itu membuat performa keduanya sama-sama penting.

Persaingan pun diperkirakan berlangsung ketat. Jepang, Thailand, dan Malaysia menjadi beberapa negara yang diwaspadai Radinka. Namun, ia tidak ingin membiarkan daftar lawan tersebut berubah menjadi beban.

Rasa gugup tetap ada menjelang pertandingan. Hanya saja, Radinka berusaha menjaga pikirannya tetap pada apa yang harus dilakukan di dalam pertandingan, bukan pada hasil akhirnya.

Kebiasaan kecil membantunya menjaga fokus. Sebelum bertanding, ia biasa berdoa, mendengarkan musik, melakukan visualisasi, dan mengatur pernapasan agar lebih rileks.

Di pelatnas, latihan mental juga menjadi bagian dari persiapan. Para atlet mendapatkan pembekalan psikologi, selain materi teknis dari pelatih.

Bahkan, jadwal latihan mulai disesuaikan dengan waktu pertandingan di Jepang. Pola tidur dan jam bermain diatur agar tubuh terbiasa tampil pada waktu yang sama dengan jadwal pertandingan Asian Games.

Bagi Radinka, semua itu merupakan bagian dari proses yang harus dijalani. Ia tahu bahwa keputusan menjadi atlet profesional di usia muda berarti ada hal-hal yang harus dikorbankan. Sekolah menjadi salah satunya. Namun, ia juga masih memiliki rencana untuk masa depan di luar arena pertandingan.

Setelah menyelesaikan SMA, Radinka ingin membuka peluang untuk melanjutkan kuliah sambil tetap berkarier sebagai atlet esports.

Untuk sekarang, ia belum ingin terlalu jauh memikirkan apa yang akan terjadi setelah Asian Games.

Perjalanannya masih panjang.

Karier profesionalnya baru dimulai dan semangatnya masih tinggi. Ia memilih menjalani proses yang ada, terus belajar mengikuti perubahan strategi dan meta permainan, serta menjaga kedisiplinan.

Kerja keras dan pantang menyerah menjadi prinsip yang ia pegang. Hal-hal sederhana seperti datang tepat waktu pun menurutnya menjadi bagian dari kedisiplinan seorang atlet.

Sebagai anak tunggal, Radinka kini membawa dirinya ke panggung yang mungkin tidak pernah dibayangkan ketika pertama kali bermain gim bersama teman-temannya.

Dulu, eFootball hanyalah permainan yang membuatnya penasaran. Kini, gim tersebut justru membawanya mengenakan seragam kebanggaan tim nasional Indonesia.​

Radinka sedang menghitung hari menuju Asian Games pertamanya. Ia datang bukan sebagai atlet paling berpengalaman, melainkan sebagai salah satu yang termuda di antara para pejuang Merah Putih.

​Di tengah perjalanan kariernya yang masih panjang, Asian Games 2026 menjadi panggung penting bagi Radinka Wiratama untuk mengukur sejauh mana mimpinya dapat mengembara dan seberapa jauh ia mampu membawanya menjadi nyata. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.