Breaking News
Live Update Berita Terkini

Prof Ahmad Tholabi: Zakat Tidak Berubah, Tetap Rukun Islam yang Bersifat Qat’i

Minggu, 1 Mar 2026
Editor: Eky
Foto: Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie. (Ist)
Dengarkan dgn suara Siap
30.1K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Prof. Dr. Ahmad Tholabi Kharlie, menegaskan bahwa zakat tetap menjadi rukun Islam yang kedudukannya tidak dapat diubah, meski muncul polemik terkait pernyataan Menteri Agama menjelang Ramadan.

Menurut Prof. Tholabi, publik perlu menjaga kejernihan berpikir dan tidak terjebak pada pemahaman parsial atas suatu pernyataan. Ia menilai dinamika di ruang publik sering kali mempercepat penyebaran opini tanpa verifikasi yang memadai.

“Zakat adalah kewajiban individual yang bersifat qat‘i. Secara normatif, tidak ada ruang untuk mengubah atau merelatifkannya dalam ajaran Islam,” ujarnya saat dimintai tanggapan media.

Ia menjelaskan, Al-Qur’an secara tegas dan berulang kali memerintahkan zakat berdampingan dengan salat. Hal itu menunjukkan zakat bukan sekadar instrumen sosial, melainkan bagian integral dari ajaran Islam yang menyatukan dimensi spiritual dan sosial.

Prof. Tholabi menilai klarifikasi yang telah disampaikan Menteri Agama justru mempertegas bahwa tidak ada pergeseran terhadap kewajiban zakat sebagai rukun Islam. Karena itu, masyarakat diminta membaca persoalan secara utuh dan tidak membangun asumsi di luar substansi pernyataan.

Ia menambahkan, isu yang berkembang sebenarnya lebih berkaitan dengan penguatan tata kelola filantropi Islam secara terintegrasi. Optimalisasi wakaf, infak, dan sedekah dinilai sebagai langkah strategis dalam memperbesar dampak kesejahteraan sosial dan pembangunan ekonomi syariah.

“Optimalisasi wakaf dan instrumen sosial lainnya harus dipahami sebagai penguatan ekosistem ekonomi syariah, bukan pengurangan peran zakat,” tegasnya.

Dalam perspektif maqāṣid al-syarī‘ah, integrasi berbagai instrumen filantropi bertujuan memperluas kemaslahatan, menjaga keseimbangan distribusi kekayaan, serta mengurangi ketimpangan ekonomi.

Sebagai Wakil Rektor UIN Jakarta, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga etika publik selama Ramadan. Ia mengajak masyarakat mengedepankan sikap husnuzan, tabayun, serta kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pandangan.

“Ramadan adalah momentum memperkuat solidaritas dan kepedulian sosial, bukan memperbesar polemik. Kritik itu penting, tetapi harus berbasis informasi lengkap dan disampaikan secara proporsional,” pungkasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.