Prakirawan BMKG Henokvita dalam siaran cuaca yang diikuti dari Jakarta, Sabtu, mengatakan pusaran sistem cuaca ekstrem tersebut saat ini membawa kecepatan angin maksimum hingga 35 knot dengan tekanan udara minimum 998 hektopascal (HPa).
“Diprediksi bergerak ke arah barat laut utara dan akan terus meningkat dalam 48 hingga 72 jam ke depan. Siklon ini menginduksi terbentuknya daerah konvergensi dan konfluensi di Samudera Pasifik utara, Maluku Utara hingga utara Papua,” kata dia.
Henokvita menjelaskan, selain faktor Jangmi, pembentukan awan hujan nasional juga disumbang oleh kemunculan sirkulasi siklonik lain di Laut Cina Selatan yang daerah konvergensinya memanjang hingga ke Kepulauan Natuna.
Anomali dinamika atmosfer tersebut merangsang pembentukan sabuk konvergensi sekunder yang membentang dari Papua hingga Teluk Cenderawasih, Sulawesi Tenggara, Kalimantan, hingga wilayah Jawa Tengah.
- Lumpur Di Teluk Buli, Sahril Taher Anggota Komisi III DPRD Propinsi Malut Anggap Orang yang berikan Ijin itu adalah Orang Gila”
- DPRD Kota Payakumbuh Simak Nota Penjelasan Wali Kota tentang Rancangan KUA PPAS APBD T.A 2025
- Kemenhut dan Yayasan Pertamina Perkuat Optimalisasi KHDTK untuk Ketahanan Lingkungan
Kombinasi fenomena ini berdampak langsung pada potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat di beberapa daerah, termasuk ancaman tiupan angin kencang yang berpotensi melanda sewaktu-waktu di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT).
Untuk prakiraan kota-kota besar di Indonesia bagian barat, cuaca ekstrem berupa hujan petir membayangi wilayah Jambi, Banjarmasin, dan Tanjung Selor, sementara Jakarta, Banda Aceh, Palembang, hingga Surabaya diprediksi berada dalam kondisi berawan tebal.
Sementara itu, wilayah Indonesia bagian timur didominasi oleh potensi hujan ringan di kota-kota seperti Palu, Kendari, Ternate, Ambon, hingga Merauke, dengan pengecualian untuk Gorontalo yang berpotensi dilanda hujan disertai petir. (ant)







