Kriminolog UI: Deteksi Dini dan Pengawasan Digital Penting Cegah Dampak Konflik AS-Iran di Indonesia

Jumat, 22 Mei 2026
Ilustrasi - Sebuah rudal diluncurkan dari sebuah kapal perang selama latihan militer Iran. ANTARA/Anadolu/am
Dengarkan dgn suara Siap
2.4K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Kriminolog dari Universitas Indonesia, Tegar Bimantoro, menilai pengawasan ruang digital dan langkah deteksi dini menjadi kunci penting untuk mencegah dampak konflik antara Amerika Serikat dan Iran meluas hingga ke Indonesia.

Menurut Tegar, kesiapsiagaan aparat keamanan seperti TNI dan Polri selama 24 jam tetap diperlukan untuk menjaga situasi nasional tetap kondusif. Namun, ia mengingatkan bahwa penyebaran radikalisme modern tidak lagi dibatasi oleh faktor geografis.

“Ketegangan global dan visualisasi konflik internasional dapat menciptakan tekanan emosional yang kuat, terutama bagi individu yang memiliki kerentanan ideologis,” ujar Tegar dalam keterangannya di Jakarta, Jumat.

Ia menjelaskan, individu yang merasa frustrasi terhadap situasi global tetapi tidak mampu menyalurkan aspirasi secara politik berpotensi melampiaskan tekanan tersebut melalui tindakan menyimpang, termasuk aksi terorisme domestik atau serangan lone wolf.

Tegar menilai eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran kini berada pada fase yang semakin mengkhawatirkan dan dapat berdampak terhadap situasi keamanan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Menurut dia, ancaman paling berbahaya bagi Indonesia bukan berupa serangan militer langsung, melainkan munculnya kriminalitas ideologis dan radikalisme di dalam negeri.

Ia juga menyoroti pernyataan terbaru Korps Garda Revolusi Islam Iran atau IRGC yang dinilai dapat memicu efek domino bagi kelompok radikal di Indonesia.

Pada 20 Mei lalu, melalui saluran resmi Sepah News, IRGC menyatakan siap memperluas konflik jika terjadi agresi militer terhadap Iran. Pernyataan tersebut disebut membuka kemungkinan konflik meluas melampaui kawasan Timur Tengah.

Tegar menilai kondisi tersebut dapat memunculkan berbagai skenario ancaman keamanan yang perlu diantisipasi sejak dini.

Ia menyebut dua potensi ancaman yang perlu diwaspadai, yakni aktivasi sel tidur dan aksi lone wolf, serta meningkatnya propaganda anti-Barat yang mempercepat proses radikalisasi melalui media sosial.

“Pernyataan perang terbuka dari kelompok besar seperti IRGC berpotensi dimanfaatkan kelompok ekstremis lokal untuk membangun narasi solidaritas dan memicu aksi teror mandiri,” katanya.

Selain itu, eskalasi konflik yang melibatkan negara Muslim dinilai kerap dimanfaatkan kelompok radikal sebagai bahan propaganda di ruang digital.

Menurut Tegar, kondisi tersebut dapat mempercepat penyebaran paham radikal, mempermudah rekrutmen jaringan teror, dan meningkatkan sentimen kebencian terhadap aset-aset Barat di Indonesia.

No More Posts Available.

No more pages to load.