“Ada yang gangguan mungkin post-testicular biasanya transportasinya, misalnya ada varikokel di situ. Nah ini jadinya faktor prianya, paling besar pertama itu adalah, varikokel, tapi bukan berarti ada varikokel spermanya jelek,” kata Silvia di Klinik Yasmin RSCM di Jakarta, Selasa.
Ia mengatakan, varikokel bisa terjadi karena kebiasaan atau gaya hidup yang seringkali tidak disadari seperti angkat beban, berendam air panas, atau memakai celana ketat yang membuat area kantung zakar menjadi panas.

Penyebab utama varikokel adalah kerusakan atau tidak berfungsinya katup satu arah di dalam vena. Kondisi ini menyebabkan darah mengalir balik dan menumpuk di area skrotum, sehingga pembuluh darah membengkak.
Silvia mengatakan varikokel dengan keluhan tidak nyaman atau sakit dapat diterapi dengan operasi namun tidak wajib dilakukan. Pria yang memiliki varikokel bisa saja masih memiliki jumlah sperma yang banyak untuk membuahi sel telur, atau masih memiliki DNA yang baik.
“Yang kita lebih khawatirkan bagaimana kualitas spermanya dulu, itu untuk fertilitas, kalau misalnya varikokel grade 3 untuk indikasi operasi tapi spermanya masih banyak, DNA-nya masih bagus ya nggak apa-apa, kita mesti lihatnya per kasus,” kata Silvia.
Dia mengatakan untuk mengatasi gangguan kesuburan pada pria bisa mengonsumsi vitamin yang memperbaiki nutrisi tubuh, memperbaiki gaya hidup untuk meningkatkan kualitas sperma seperti protein dan pengolahannya tidak dibakar dan digoreng, serta olahraga dan menghentikan kebiasaan merokok. Oleh sebab itu sebaiknya laki-laki memeriksakan kualitas spermanya pada sebelum menikah atau pada saat program bayi tabung untuk mengetahui apakah ada masalah kesuburan.
“Bahwa memang infertilitas itu tidak ngomongin yang ibunya saja, tapi ada bapak-bapaknya. Sebenarnya laki-laki juga menyebabkan faktor infertilitas, jadi kalau kita menyelesaikan infertilitas pria, berarti kita sudah menyelesaikan faktor infertilitas sebanyak separuhnya,” kata Silvia. (ant)





