JAKARTA (kabarpublik.id) – Perumda Pasar Jaya memperkuat gerakan pengurangan penggunaan plastik sekali pakai di seluruh pasar yang dikelolanya sebagai bagian dari upaya mewujudkan Jakarta yang lebih bersih, sehat, dan bebas dari pencemaran sampah plastik.
Direktur Utama Perumda Pasar Jaya, Agus Himawan, mengatakan persoalan sampah plastik saat ini tidak hanya berdampak pada kebersihan lingkungan, tetapi juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat, ekonomi, dan keberlanjutan pembangunan perkotaan.
“Masalah sampah plastik telah menjadi tantangan serius yang membutuhkan keterlibatan seluruh pihak untuk mencari solusi yang berkelanjutan,” ujar Agus di Jakarta, Kamis (30/7).
Sebagai langkah nyata, Pasar Jaya terus mendorong pengurangan penggunaan kantong plastik sekali pakai dan mengajak masyarakat beralih menggunakan tas belanja ramah lingkungan yang dapat digunakan berulang kali.
Selain itu, perusahaan daerah tersebut juga menggencarkan edukasi kepada pedagang dan konsumen mengenai pentingnya mengurangi sampah plastik serta membiasakan pemilahan sampah sejak dari sumber.
Agus menjelaskan, Pasar Jaya menerapkan prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dan terus mengembangkan inovasi pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular agar sampah dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber daya yang bernilai.
Pasar Jaya juga mendukung program pemerintah dalam penerapan teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau Waste to Energy (WtE) dengan melibatkan dunia usaha dan masyarakat untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Menurut Agus, pasar tradisional memiliki peran strategis karena menjadi pusat aktivitas ekonomi yang setiap hari berinteraksi langsung dengan jutaan warga. Karena itu, perubahan perilaku di lingkungan pasar diyakini dapat memberikan dampak signifikan terhadap pengurangan sampah plastik.
Saat ini, Perumda Pasar Jaya mengelola sekitar 153 pasar rakyat yang tersebar di berbagai wilayah Jakarta. Jaringan pasar tersebut dinilai menjadi sarana efektif untuk mengedukasi masyarakat mengenai penggunaan tas belanja ramah lingkungan dan pengelolaan sampah yang lebih baik.
Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Laksmi Widjajayanti, mengungkapkan Jakarta menghasilkan sekitar 9.000 ton sampah setiap hari sehingga diperlukan strategi pengelolaan yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Menurutnya, teknologi Waste to Energy merupakan salah satu solusi untuk mengolah residu sampah menjadi energi listrik. Namun, pendekatan tersebut tidak dapat berdiri sendiri dan harus didukung upaya pengurangan sampah sejak dari sumbernya.
“Pengurangan sampah, pemilahan, penggunaan kembali, dan daur ulang tetap menjadi fondasi utama dalam sistem pengelolaan sampah nasional,” kata Laksmi.
Analis Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Erma Putri, menambahkan bahwa sampah plastik perlu mendapat perhatian serius karena berpotensi mencemari lingkungan dan mengancam kesehatan manusia melalui mikroplastik.
Di sisi lain, Pemprov DKI Jakarta terus mendorong masyarakat, perkantoran, kawasan permukiman, dan pelaku usaha untuk memilah sampah ke dalam empat kategori, yakni sampah organik, anorganik, bahan berbahaya dan beracun (B3), serta residu.
Pengamat Kebijakan Publik Sugiyanto menilai pasar tradisional merupakan salah satu lokasi paling strategis untuk menekan timbulan sampah plastik. Menurutnya, Pasar Jaya memiliki peran penting dalam membangun kesadaran pedagang dan konsumen melalui kebijakan pengurangan plastik sekali pakai dan pengelolaan sampah yang berkelanjutan.
Ia juga menekankan pentingnya pengembangan teknologi Refuse Derived Fuel (RDF) dan Waste to Energy sebagai bagian dari ekonomi sirkular yang mampu mengubah sampah menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Sugiyanto menegaskan keberhasilan pengelolaan sampah modern membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, media, dan masyarakat untuk menciptakan Jakarta yang lebih bersih, sehat, tangguh, dan berkelanjutan.





