News Update
Live Update Berita Terkini

GI Tourism, Cara Baru Menikmati Dieng

Minggu, 4 Okt 2026
Editor: Jamalul Insan
Peserta uji GI Tourism Dieng mengunjungi kebun carica di Desa Sembungan, Wonosobo, Jawa Tengah (21/9/2026). (ANTARA/Laily Rahmawaty)
Dengarkan dgn suara Siap
1.6K pembaca
JAKARTA  (Kabarpublik.id) – Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) Kementerian Hukum melaksanakan uji jalur Geographical Indication (GI) Tourism di kawasan Dieng yang berada di Wonosobo dan Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 21–23 September 2026.

Berkunjung ke Dieng biasanya identik dengan menikmati pemandangan, berfoto, menginap, lalu membawa pulang oleh-oleh. Namun, perjalanan uji jalur GI Tourism menawarkan pengalaman berbeda: mengenal kekayaan alam, tradisi, dan kearifan lokal masyarakat dari hulu hingga hilir.

Perjalanan hari pertama dimulai dari Kampung Gagot, Kabupaten Banjarnegara. Peserta uji disambut tarian dan pengalungan syal batik hasil kerajinan masyarakat setempat.

Hari Kesaktian Pancasila 1 Oktober 2026

Keterangan foto: Poster peringatan Hari Kesaktian Pancasila yang diperingati setiap 1 Oktober.

Sembari menikmati alunan gamelan, pengelola menyediakan penganan dan minuman tradisional berupa pisang rebus, kacang, getuk, kopi, teh hangat, dan wedang jahe. Hidangan khas masyarakat lokal juga disajikan, seperti nasi tiwul, nasi jagung, ketupat bakar sekam, ayam petis, dan buntil tahu.

Kampung Gagot terasa asri. Berbagai jenis pepohonan tumbuh di pekarangan rumah warga, antara lain kopi, jati, markisa, dan japan. Suasana itu tergambar melalui tembang yang dilantunkan seorang sinden untuk menyambut pengunjung.

“Berkunjunglah ke Banjarnegara, kota yang indah berkilau. Aspalnya halus, jalannya mulus. Seperti kita merawat halaman dengan bunga warna-warni,” demikian petikan tembang yang dilantunkan sinden dalam bahasa Jawa pada 21 September pagi.

Menjaga alam dan lingkungan tetap asri menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Kampung Gagot. Sebuah pepatah yang ditulis pada papan kayu dan digantung di area tersebut bertuliskan “Nandur wit dadi duwit” (menanam pohon jadi duit).

Falsafah caping petani Dieng

Perjalanan pembuka ini menjadi gerbang untuk mengenal Dieng lebih dari sekadar tempat wisata, sekaligus melihat falsafah yang hidup di masyarakatnya.

Mahmud Shodiq (53), tokoh masyarakat setempat yang akrab dipanggil Ki Shodiq, menerangkan falsafah caping yang digunakan petani Dieng saat bekerja di ladang.

Caping berbahan dasar bambu itu merupakan hasil anyamannya sendiri. Pengunjung dapat menyaksikan proses menganyam bambu tersebut di sela-sela kunjungan di Kampung Gagot.

“Caping ini punya dua permukaan, yang kasar berada di bagian dalam, sedangkan permukaan bagian luar itu yang halus,” kata Ki Shodiq.

Caping atau tudung dipakai di kepala untuk melindungi petani dari terik matahari. Bagian kerucut atasnya mengarah ke langit yang merepresentasikan arah menuju Tuhan.

Menurut Ki Shodiq, permukaan kasar di bagian dalam melambangkan kekurangan dan sifat buruk manusia, sedangkan permukaan luar yang halus menggambarkan sifat baik. Caping yang dikenakan di kepala menjadi simbol bahwa akal dan pikiran manusia harus selalu tertuju kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Selain caping, Ki Shodiq juga membuat kipas dari bambu dan kain batik yang menurutnya melambangkan kesederhanaan dalam menjalani kehidupan.

Carica Dieng, dari oleh-oleh hingga produk GI

Penjabaran Ki Shodiq membuka cara pandang lain untuk mengenal kearifan lokal Dieng. Hal itu menjadi salah satu alasan DJKI menjadikan Dieng sebagai proyek percontohan GI Tourism dengan memadukan produk khas daerah, pengalaman wisata, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.

Setidaknya ada tiga produk khas Dieng yang telah didaftarkan sebagai indikasi geografis, yakni carica (Vasconcellea pubescens), purwaceng (Pimpinella pruatjan), dan kopi Arabika (Coffea arabica).

Indikasi geografis merupakan tanda yang menunjukkan daerah asal suatu barang atau produk yang karena faktor lingkungan geografis, termasuk faktor alam, manusia, atau kombinasi keduanya, memberikan reputasi, kualitas, dan karakteristik tertentu pada produk tersebut.

Jika selama ini sebagian masyarakat hanya mengenal carica sebagai oleh-oleh khas Dieng, melalui GI Tourism mereka diajak mengenal sejarahnya sekaligus melihat langsung proses pengolahannya.

UD Podang Mas, salah satu pelopor oleh-oleh carica Dieng, telah mendaftarkan carica sebagai indikasi geografis. Di rumah produksinya, wisatawan bisa melihat carica diolah menjadi berbagai produk, seperti koktail, sirop, strudel, asinan, teh, pupuk, hingga produk kecantikan.

Hampir seluruh bagian carica dapat dimanfaatkan. Buah dan bijinya digunakan untuk manisan, asinan, dan minuman, sedangkan kulit dan getahnya dimanfaatkan untuk produk kecantikan, bahan masakan pelembut daging, hingga pupuk.

Ketua Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) Carica Dieng, Wak Shofi Diantoro, yang akrab dipanggil Toro, menjelaskan carica merupakan tanaman asal Amerika Latin yang dibawa ke Indonesia oleh pemerintah kolonial Belanda. Tanaman itu kemudian dicoba dibudidayakan di berbagai wilayah Indonesia, tetapi hanya tumbuh baik di pegunungan Dieng.

Carica masih satu famili dengan pepaya (Carica papaya), tetapi berbeda spesies. Toro mengatakan carica memiliki kandungan flavonoid, serat, dan antioksidan.

Menurut Toro, terdapat sejumlah faktor yang mendukung pertumbuhan carica, antara lain curah hujan minimal 10.000 milimeter per tahun, ketinggian minimal 1.700 meter di atas permukaan laut, suhu di bawah 8 derajat Celsius, serta tanah dan udara yang mengandung sulfur.

“Mungkin beberapa faktor itu ada di tempat lain, tapi faktor yang utama itu hanya ada di Pegunungan Dieng. Karena ini produk yang spesifik hanya ada di pegunungan Dieng, kami mendaftarkan untuk dijadikan produk indikasi geografis,” kata Toro.

Di UD Podang Mas, rumah produksi carica Dieng, wisatawan juga dapat melihat bagaimana usaha tersebut mempertahankan kemitraan dengan petani. Rum Wikaningtyas, generasi kedua pengelola usaha, pernah mendapat tawaran untuk mengekspor carica, tetapi eksportir mensyaratkan dia memiliki perkebunan sendiri.

Rum mengaku tidak tergiur dengan tawaran ekspor tersebut karena tidak ingin mengkhianati petani dengan membuka perkebunannya sendiri.

Sejak berdiri pada 1982, UD Podang Mas bermitra dengan 10 pengepul carica Dieng. Kemitraan tersebut terus dipertahankan untuk menjaga keberlangsungan usaha petani dan masyarakat desa.

Purwaceng, dari pekarangan ke industri jamu

Produk indikasi geografis Dieng lainnya yang menyimpan cerita menarik adalah purwaceng, tanaman yang dikenal sebagai “ginseng jawa” dan kerap dikaitkan dengan peningkatan stamina.

Purwaceng Dieng merupakan tanaman endemik yang hanya tumbuh di kawasan Dieng pada ketinggian 1.800–2.300 mdpl. Tanaman ini tumbuh pada suhu sekitar 15–20 derajat Celsius pada siang hari dan 10–15 derajat Celsius pada malam hari, serta terkadang mencapai 0 derajat Celsius pada pagi hari saat musim kemarau.

Ketua Kelompok MPIG Purwaceng Dieng Uswatun Hasanah mengatakan budidaya purwaceng dimulai pada 1995 dari pekarangan rumah. Kini, purwaceng rutin digunakan sebagai bahan baku oleh industri jamu di Indonesia.

Kandungan antioksidan purwaceng Dieng telah diuji melalui penelitian sejumlah perguruan tinggi dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro).

“Jadi memang kalau minum purwaceng, khusus laki-laki setelah minum sering buang air kecil, karena khasiatnya mengeluarkan toksin,” kata Uswatun.

Kopi Arabika dan menjaga alam

Kopi Arabika menjadi produk indikasi geografis lain dari Pegunungan Dieng yang menghubungkan potensi ekonomi dengan upaya menjaga lingkungan.

Peserta uji GI Tourism Dieng menanam bibit pohon kopi di Desa Babadan, Banjarnegara, Jawa Tengah (22/9/2026). (ANTARA/Laily Rahmawaty)

Untuk melihat sentra produksi kopi Arabika Dieng, pengunjung bisa mendatangi Desa Babadan, Banjarnegara. Perjalanan menggunakan mobil jip memakan waktu sekitar satu jam melalui jalan yang menanjak dan berkelok, dengan pemandangan perkebunan di kawasan pegunungan Dieng.

Ketua MPIG Kopi Arabika Pegunungan Dieng, Turno, mengatakan luas kebun kopi Arabika saat ini mencapai sekitar 4.000 hektare dengan produksi 700–800 kilogram biji kopi per hektare per tahun. Kopi Arabika Dieng tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar Singapura, Malaysia, dan Australia.

Turno mengatakan masyarakat di sekitar perkebunan mendapatkan penghasilan dari alam dengan tetap menjaga kelestariannya. Menurut dia, mata air di bawah perkebunan tetap jernih meski hujan deras, sementara lahan perkebunan tidak mengalami erosi.

“Kami makan dari menjaga alam, itu gampangnya, mudahnya kami berpikir. Kami menanam kopi, sudah pasti aman. Di (kebun) kopi ini, di bawahnya ada mata air jernih, hujan selebat apa pun tidak ada erosi,” katanya.

Ia menambahkan pihaknya terus mengedukasi para petani tentang GI Tourism.

“Kami dapat profit dari kopi itu iya, tapi menjaga alam itu harus. Satu kesatuan tidak bisa dilepaskan,” kata Turno.

Produk GI sebagai pengalaman wisata

GI Tourism Dieng mempertemukan tiga produk indikasi geografis dalam satu perjalanan wisata, yakni carica, purwaceng, dan kopi Arabika. Ketiganya memiliki karakter berbeda, tetapi tumbuh dalam lingkungan geografis dan masyarakat yang sama.

Hasil uji jalur tersebut kemudian dituangkan dalam sebuah panduan atau booklet GI Tourism Dieng yang dapat menjadi acuan bagi pengembangan pengalaman wisata berbasis produk indikasi geografis.

Pengembangan konsep GI Tourism juga membuka peluang untuk mengidentifikasi produk lain yang berpotensi didaftarkan sebagai indikasi geografis.

“Yang ingin kami angkat dari GI Tourism adalah bagaimana memanfaatkan produk indikasi geografis serta tempat wisata sehingga menjadi tempat yang menarik dan juga menyejahterakan masyarakat setempat,” kata Fajar. (anT)

No More Posts Available.

No more pages to load.