Laporan: Achmad Ariesmen Herosy (JMSI), Editor : Jumadi/ Mahmud
KOTA BANDUNG [KP] – Pemkot Bandung akan mengetes secara agresif di tiga kelompok yang berisiko tinggi terpapar corona virus disease 2019 (Covid-19), yaitu tenaga kesehatan, pedagang pasar, dan ojek. Hal itu dilakukan mengingat telah ditemukannya beberapa kasus positif Corona diklaster tersebut.
Dinkes Kota Bandung telah melakukan pengetesan swab kepada 1.046 pegawai di 30 Puskesmas. Sebanyak 27 orang diantaranya dinyatakan positif Covid-19. Mereka terdiri dari tenaga kesehatan dan pegawai lain termasuk Satpam. Hal tersebut terjadi setelah pengetesan selama dua pekan terakhir.
“Mereka tidak semua terpapar di tempat kerja, ada juga yang dilingkungan rumahnya. Kebetulan ada Satpam yang tetangganya positif Covid-19, ‘confirmed’,” ungkap Kepala Dinkes Kota Bandung, Rita Verita, Senin (08/06/2020).
Rita menyatakan bahwa seluruh Puskesmas di Kota Bandung masih beroperasi seperti biasa. Namun para pegawai diberlakukan ‘Work From Home’ secara bergiliran. Pegawai yang positif pun sudah dikarantina secara mandiri.
Selain tenaga Kesehatan, kasus rentang terpapar Covid-19 juga ditemukan di pasar tradisional. Sebanyak 4 orang pedagang pasar dinyatakan positif terpapar Corona.
“Dari 1.044 pedagang di 43 pasar, 45 orang reaktif terhadap rapid test. Sudah ditindaklanjuti dengan swab. Hasilnya, 4 orang dinyatakan positif,” lanjutnya.
Empat orang tersebut terdiri dari satu orang pedagang Pasar Haur Pancuh, satu orang pedagang Pasar Sadang Serang, dan dua orang Pasar Leuwipanjang. Atas penemuan tersebut, PD Pasar Bermartabat langsung menutup di salah satu blok pasar tersebut.
“Saya tanya ke Direktur Pasar, apa sih kegiatan yang mereka lakukan? Begitu pagi-pagi datang ke pasar, dia di jongko itu saja tidak ke mana-mana karena melayani pembeli. Sehingga tentu saja blok itu saja yang ditutup, karena pasar itu luas,” terangnya.
Ke depan, pihaknya akan menguji kepada sejumlah pedagang pasar yang diduga berinteraksi intensif dengan pasien positif.. Saat ini, para pedagang diminta untuk melakukan karantina mandiri.
Sementara itu, pelacakan terhadap ojek masih berlangsung. Hingga saat ini, Dinkes baru mengetes 3 pangkalan ojek di kawasan Jalan Muhamad Ramdan dan depan Puskesmas Pasundan.
“Baru 3 pangkalan. Dari 45 orang, ada 2 orang yang rapidnya reaktif. Sudah ditindaklanjuti dengan swab dan sedang menunggu hasil,” katanya.
Namun Rita menegaskan, penemuan tersebut bukan berarti ada penambahan klaster. Sebab jumlah kasus tidak signifikan kendati tetap perlu diwaspadai.
“Nggak lah (bukan klaster). Cuma empat orang kok klaster. Kalau satu pasar semuanya (itu klaster),” ujarnya.
“Tidak ada klaster baru. Apalagi ojol (yang ditemukan) cuma dua. Tidak bisa disebut klaster. Dan (itupun hasil tes) rapid, bukan swab,” tutupnya. #*[KPJabar]





