Breaking News
Live Update Berita Terkini

Australia vs Turki: Produktivitas Bulan Sabit-Bintang Diuji Socceroos

Sabtu, 13 Jun 2026
Editor: Jamalul Insan
Grafik ilustrasi pertandingan penyisihan Grup D Piala Dunia 2026 antara Australia melawan Turki yang dijadwalkan berlangsung di Stadion BC Place, Vancouver, British Columbia, Kanada, Sabtu (13/6/2026) waktu setempat. ANTARA INFOGRAFIK
Dengarkan dgn suara Siap
4.3K pembaca
JAKARTA  (Kabarpublik.id) – Timnas Turki akan menandai kembalinya mereka ke panggung Piala Dunia setelah 24 tahun absen pada besok Minggu (14/6) pukul 11.00 WIB di Stadion BC Place Vancouver, Kanada, menghadapi Australia.

Ini menjadi penampilan ketiga Turki di Piala Dunia setelah edisi 1954 di Swiss dan 2002 di Korea Selatan dan Jepang. Turki sejatinya sudah empat kali lolos ke putaran final Piala Dunia, tetapi mereka mengundurkan diri setelah memesan tempat di edisi Brasil 1950.

Dari pelatih lokal Turki Senol Gunes yang mengantarkan Pasukan Bulan Sabit-Bintang bermain di Piala Dunia terakhir mereka, kini sejarah diteruskan oleh pelatih asal Italia, yaitu Vincenzo Montella.

Montella, yang semasa bermain berposisi sebagai striker, menyulap Turki menjadi tim dengan pendekatan permainan menyerang.

Tim yang dipimpin oleh generasi gelandang Real Madrid Arda Guler dan penyerang Juventus Kenan Yildiz ini kembali ke Piala Dunia setelah mereka mengalahkan Kosovo dengan skor 1-0 pada babak final Playoff Kualifikasi Piala Dunia 2026 Jalur C zona Eropa.

Secara total, permainan menyerang ala Montella di Turki membuat mereka menyelesaikan babak kualifikasi zona Eropa dengan torehan 18 gol dari delapan laga atau rata-rata mencetak 2,25 gol setiap pertandingan.

Kemenangan terbesar mereka di babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 adalah saat membantai Bulgaria 6-1. Bulgaria adalah negara yang mengalahkan Indonesia pada FIFA Series 2026 bulan Maret lalu dengan skor 1-0 melalui gol penalti.

Tepat setelah laga melawan Bulgaria, kemenangan kedua terbesar Turki diraih saat mengalahkan Georgia dengan skor 4-1.

Dari 18 gol selama di babak kualifikasi, Guler berkontribusi satu gol dan empat assist, sementara Yildiz dengan tiga gol selama membawa negaranya kembali tampil di Piala Dunia setelah absen dalam lima edisi setelahnya.

Mayoritas penghuni skuad Turki saat ini masih bocah ingusan ketika negara mereka tampil di Piala Dunia 2002, bahkan Guler dan Yildiz sama sekali belum lahir.

Dan Australia akan menjadi ujian Turki di laga pertama Piala Dunia 2026. Berbeda dengan pendekatan Montella, Pelatih Timnas Australia Tony Popovic memilih filosofi bermain lebih bertahan.

Latar belakangnya sebagai pemain bertahan, tepatnya menjadi seorang bek tengah, membuat wajar bahwa Australia menerapkan gaya permainan yang nyaman tanpa bola. Mereka akan membuat Turki terperangkap saat menguasai jalannya laga, dengan sennjata serangan balik yang mematikan.

Australia bisa lolos ke Piala Dunia 2026 setelah lolos otomatis bersama Jepang di Grup C sebagai runner-up dan juara grup. Dari 10 laga babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia, Socceroos hanya kemasukan tujuh gol.

Rekor ini membuat mereka, bersama timnas Uzbekistan dari Grup A, sebagai tim kedua dengan pertahanan terbaik di babak kualifikasi. Rekor ini dipegang oleh Jepang yang hanya kemasukan tiga gol, dimana mereka juga memegang rekor sebagai tim tersubur selama babak kualifikasi dengan 30 gol.

Di laga nanti, transisi cepat akan menjadi andalan pasukan Popovic, yang selama babak kualifikasi mencetak 16 gol. Adapun, transisi serangan balik ini akan menakutkan bagi Turki yang lemah dalam bertahan setelah di babak kualifikasi kebobolan 12 gol, termasuk enam gol yang bersarang dari kekalahan 0-6 melawan juara Eropa Spanyol.

Senjata lainnya dari Australia adalah mereka memiliki pemain-pemain berpostur besar yang pastinya akan menyakiti Turki dari skema bola mati. Hal ini diakui oleh kapten Turki, Hakan Calhanoglu.

“Kami tahu Australia adalah tim yang kuat secara fisik dan berbahaya dalam situasi tendangan sudut maupun tendangan bebas karena mereka memiliki pemain-pemain yang tinggi dan kuat. Namun, saya pikir kami akan mendominasi pertandingan karena kami memiliki kualitas yang lebih baik dan tim yang lebih bertalenta,” kata pemain yang baru memenangkan Liga Italia dan Piala Italia bersama Inter Milan tersebut, dikutip dari laman resmi FIFA, Sabtu.

Rekor pertemuan

11v11 mencatat bahwa kedua tim baru bertemu dua kali, dua-duanya pada laga persahabatan pada Mei 2004, dua tahun setelah Turki meraih tempat ketiga di Piala Dunia 2002. Dalam dua laga itu, Turki keluar sebagai pemenang dengan skor 3-1 dan 1-0.

Dua laga terakhir

Tak hanya memiliki modal dari rekor pertemuan, Turki juga menatap laga perdana Piala Dunia 2026 dengan dua kemenangan dalam dua laga terakhir.

Dalam dua laga pemanasan menuju Piala Dunia 2026, Pasukan Bulan Sabit-Bintang meraih kemenangan 4-0 atas Makedonia Utara dan juga 2-1 atas Venezuela. Dua kemenangan ini membuat mereka datang ke Pala Dunia 2026 dengan rekor sembilan laga terakhir tanpa kekalahan, yang enam di antaranya berakhir kemenangann

Di sisi lain, persiapan Australia yang tak mentereng Turki setelah mereka tak pernah menang dalam dua laga pemanasan melawan sesama tim kontestan Piala Dunia 2026. Pertama, mereka dikalahkan salah satu tuan rumah, Meksiko, dengan skor 0-1 dan kemudian bermain imbang 1-1 melawan Swiss.

Ambisi Montella

Montella baru menangani Turki pada September 2023, dan sejak itu ia telah membawa tim ini meraih 20 kemenangan, lima seri, dan delapan kekalahan dalam 33 laga.

Pria asal Italia itu selalu berhasil mengantarkan Turki bermain di dua turnamen besar. Piala Eropa 2024 adalah awal unjuk giginya, saat ia membawa tim ini sampai pada babak perempat final sebelum kemudian disingkirkan Belanda dengan skor 1-2.

Piala Dunia merupakan arena berikutnya. Tergabung di Grup D bersama Amerika Serikat, Australia, dan Paraguay, Turki sangat bisa berbicara banyak. Dengan modal positif yang mereka bawa, untuk sekedar lolos dari babak grup juga sangatlah mungkin.

Kendati demikian, Montella tak ingin meremehkan persaingan di grup ini. Menurutnya, di Grup D tak ada tim terkuat atau tim terlemah karena menurutnya semua memiliki kualitas yang sama, semua bisa memberikan kejutan.

“Saya pikir ini adalah grup yang sangat seimbang, dan keempat tim tentu berharap bisa lolos dari fase grup. Sejujurnya, saya tidak merasa ada tim yang lebih kuat atau lebih lemah dibanding tim lainnya. Kalau pun ada perbedaan, mungkin justru kami bisa dianggap sebagai tim keempat di antara mereka,” kata Montella. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.