Setelah berbulan-bulan konflik yang mengguncang kawasan, kedua negara akhirnya mencapai kerangka perdamaian yang membuka jalan bagi negosiasi lebih lanjut mengenai program nuklir Iran, sanksi ekonomi, hingga stabilitas kawasan Teluk.
Namun, implementasi kesepakatan tersebut masih menghadapi tantangan besar, terutama akibat konflik yang masih berlangsung di Lebanon dan ketegangan antara Israel dan kelompok Hizbullah.
Upaya mewujudkan perdamaian
Iran dan Amerika Serikat mengonfirmasi penyusunan draf nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) telah selesai pada Minggu (14/6).
Memorandum tersebut menyepakati penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk Lebanon. Para pihak juga saling berkomitmen untuk tidak memulai perang atau operasi militer, menahan diri menggunakan kekuatan serta menjamin integritas wilayah dan kedaulatan Lebanon.
Draf kesepakatan tersebut juga memberikan waktu 60 hari bagi kedua negara untuk merundingkan kesepakatan final terkait program nuklir Iran dan sanksi Amerika Serikat.
Selain itu, draf memorandum juga menetapkan jadwal bagi Amerika Serikat untuk mencabut blokade angkatan laut mereka dan semua gangguan atau hambatan terhadap Iran, dan akan sepenuhnya mengakhiri blokade angkatan laut dalam waktu 30 hari.
Amerika Serikat berjanji dengan mitra regional untuk mengembangkan rencana definitif yang disepakati bersama dengan dana sedikitnya 300 miliar dolar AS (sekitar Rp5.353 triliun) untuk rekonstruksi dan pembangunan ekonomi Iran.
Isu nuklir tak luput dari memorandum tersebut. Amerika Serikat berjanji akan mengakhiri semua jenis sanksi terhadap Iran.
Republik Islam Iran menegaskan kembali bahwa mereka tidak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir. Amerika Serikat dan Iran sepakat menyelesaikan penanganan stok bahan yang telah diperkaya melalui mekanisme yang akan disepakati.
Sambil menunggu kesepakatan akhir, Amerika Serikat dan Iran sepakat untuk mempertahankan status quo. Iran akan mempertahankan status quo program nuklirnya saat ini, dan AS tidak akan memberlakukan sanksi baru apa pun dan tidak akan mengerahkan pasukan tambahan di kawasan.
Pembicaraan Swiss yang tertunda
Setelah kedua negara menyetujui kerangka penghentian konflik yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir, Swiss seharusnya menjadi tuan rumah peresmian kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran pada 19 Juni.
Namun di hari jadwal pelaksanaan kesepakatan, Kementerian Luar Negeri Swiss mengumumkan bahwa pembicaraan Amerika Serikat dan Iran tersebut dibatalkan, tanpa menyebutkan alasan yang pasti.
Sebelumnya, Wakil Presiden AS JD Vance belum berangkat ke Swiss untuk penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Iran karena rencana teknis terkait pembicaraan tersebut belum final.
Adapun Iran menunda perundingan tingkat teknis itu sebagai protes atas pelanggaran gencatan senjata yang disebut terus berlanjut oleh Israel, terutama di Lebanon selatan, menurut sejumlah sumber pemerintah Pakistan.
Sejumlah sumber mengatakan perunding utama Iran Bagher Qalibaf dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah bersiap terbang ke Swiss untuk menggelar perundingan langsung dengan AS, tetapi rencana perjalanan itu dibatalkan di saat-saat terakhir setelah menerima arahan dari kepemimpinan tertinggi Iran.
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Jumat (19/6) turut memberikan komentar dengan menyampaikan bahwa dirinya memperkirakan Iran akan menyetujui kesepakatan final dalam kurun waktu 60 hari setelah penandatanganan nota kesepahaman.
Jika tidak ada kesepakatan yang tercapai dalam 60 hari, terhitung mulai Kamis (18/6), “Kami akan melakukan hal-hal yang tidak akan membuat mereka senang,” ujar Trump di Pangkalan Gabungan Andrews di Maryland, sembari menambahkan bahwa menurutnya hal itu tidak akan sampai terjadi.
Berlanjutnya pembicaraan teknis di Swiss
Tak lama setelah batalnya pertemuan antara delegasi AS dan Iran di Swiss, Pakistan yang berperan sebagai negosiator, mengumumkan pada Sabtu (20/6) bahwa pembicaraan tingkat teknis antara kedua delegasi akan diselenggarakan di resor pegunungan mewah Burgenstock, Swiss, pada Minggu, 21 Juni waktu setempat.
Resor di Burgenstock sengaja dipilih karena Swiss menyatakan bahwa pihaknya terus menyediakan “lingkungan yang tertutup dan andal” untuk memfasilitasi perundingan terkait implementasi MoU antara AS dan Iran.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Ismail Baghaei mengatakan bahwa dalam perundingan tersebut, delegasi Iran akan mendesak AS untuk memenuhi komitmennya berdasarkan nota kesepahaman yang telah ditandatangani kedua pihak.
Juru bicara itu juga memperingatkan jika beberapa komitmen AS tidak dipenuhi, memorandum akan berada dalam bahaya.
Baghaei menekankan bahwa AS harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan sesegera mungkin. Jika tidak, seluruh kesepakatan akan berada dalam bahaya.
Iran juga akan meminta penjelasan terperinci mengenai langkah-langkah yang akan diambil AS untuk memenuhi komitmen tersebut.
Sementara itu, Wakil Presiden Amerika Serikat JD Vance bergabung dalam tim negosiator AS dalam perundingan dengan Iran di Swiss. Sebelum bertolak pada Sabtu waktu setempat, Vance mengatakan ia akan tetap berada di Swiss selama satu atau dua hari untuk melakukan pembicaraan dengan delegasi Iran.
Mengawali negosiasi tingkat teknis antara Iran dan Amerika Serikat serta negara-negara mediator yaitu Pakistan dan Qatar, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Swiss Ignazio Cassis di resor pegunungan mewah Burgenstock.
Menurut laporan Islamic Republic of Iran Broadcasting (IRIB), pertemuan itu merupakan bagian dari agenda resmi delegasi Iran dan pembicaraan teknis akan berlangsung secara tertutup. (ant)







