Bagian Pertama tulisan Alyun Hippy
PEPATAH bijak mengatakan, “bekerja keraslah dalam keheningan dan buatlah kebisingan saat merayakan kemenangan”. Pepatah ini barangkali cukup mewakili suasana kebatinan para simpatisan, kader dan pengurus Partai Nasdem atas capaian kinerja Pemilu 2019.
Fenomena kesuksesan Partai Nasdem meraih kursi di DPR RI, DPRD provinsi, DPRD Kabupaten/Kota memang cukup membuat beberapa kalangan politisi tercengang hebat.
Faktor pemicu lahirnya ketercengangan itu, tidak lain adalah sosok Rachmad Gobel. Tokoh Internasional, putra kebanggaan rakyat Gorontalo yang kini memutuskan mengabadikan sisa hidupnya untuk Gorontalo. Provinsi yang pernah ia perjuangkan bersama para tokoh pejuang lainnya. Tanah dimana kedua orang tuanya dimakamkan, dan tempat ia berkarya dan mengabdikan diri dalam keheningan dan jauh dari hiruk pikuk sejak 20 tahun lalu, sebelum Ia memasuki dunia politik.
Ia sukses meyakinkan pemilih, bahwa Pemilu bukan sarana untuk menunjukkan arogansi dan ambisi untuk berkuasa melalui praktek kotor yang menghalalkan segala cara-cara kotor dan menjijikkan.
Iya mampu membangkitkan kembali semangat Patriotisme rakyat Gorontalo dalam mengaktualisasikan militansinya untuk memenangkan kehormatan dan harga diri, melawan praktik politik uang dan praktek politik kotor lainnya yang merendahkan derajat harkat dan martabat rakyat.
Mengajak rakyat untuk mengambil bagian dalam perjuangan secara sukarela bukan perkara mudah. Terlebih di tengah budaya praktik politik uang dan cara-cara kotor yang berangsur perlahan, bergeser menjadi tata nilai yang bukan tabu dalam budaya politik kita.
Untuk menghadirkan militansi dalam arena juang. Dibutuhkan ketokohan yang terpercaya karena telah teruji integritas jati dirinya oleh ruang dan waktu.
Barangkali jika ajakan itu bukan terlahir dari perkataan seorang Rahmat Gobel mungkin hasilnya tidak akan seperti yang kita lihat hari ini. Dan praktek yang dilakukan Rachmad Gobel punya kemiripan dengan yang dilakukan Nani Wartabone, saat mengajak mengajak rakyat untuk memerangi kaum kolonial. Dasar perjuangan karena ketulusan, kecintaan terhadap rakyat dan Gorontalo, membuat mereka hadir disetiap hati rakyat Gorontalo.##





