Breaking News
Live Update Berita Terkini

Penguatan Relawan Kebajikan BPIP, Marinus Gea Dorong Relawan Kebajikan Pancasila Wujudkan Transformasi Karakter Masyarakat

Jumat, 3 Jul 2026
Editor: Ati Modjo
Dengarkan dgn suara Siap
4.2K pembaca

TANGERANG (kabarpublik.id) – Anggota MPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Marinus Gea, menegaskan pentingnya menghadirkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari melalui penguatan Relawan Kebajikan Pancasila. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri kegiatan Penguatan Relawan Kebajikan yang diselenggarakan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), di Kampus Universitas Insan Pembangunan Indonesia, Tangerang, Kamis (2/7/26).

Menurut Marinus, Indonesia dibangun di atas kesepakatan luhur bernama Pancasila yang menjadi titik temu kebangsaan, rumah bersama, sekaligus jalan tengah yang mempersatukan keberagaman masyarakat Indonesia.

Anggota Komisi XIII DPR RI ini menekankan, nilai-nilai Pancasila tidak boleh berhenti pada sebatas pemahaman maupun hafalan. Yang lebih penting, Pancasila harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

“Pancasila harus dihidupi. Pancasila harus diwujudkan. Pancasila harus dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Inilah yang saya sebut sebagai Kebajikan Pancasila,” ujar Marinus.

Lebih jauh, Marinus mengatakan, Kebajikan Pancasila merupakan perwujudan nilai-nilai Pancasila dalam perilaku sehari-hari, mulai dari cara memimpin, melayani, hingga memperlakukan sesama.

“Sesungguhnya ukuran keberhasilan Pancasila bukanlah seberapa banyak orang menghafal lima sila, melainkan seberapa banyak nilai lima sila itu hidup dalam kehidupan bangsa,” katanya.

Tantangan Bangsa Ada pada Implementasi Nilai Pancasila

Dalam kesempatan itu, Marinus juga menggaris bawahi tentang pentingnya Sosialisasi Empat Pilar MPR RI yang meliputi Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai bentuk negara, serta Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan pemersatu bangsa.

Namun, Marinus mengingatkan bahwa persoalan terbesar yang dihadapi bangsa saat ini bukan lagi terletak pada aspek pemahaman, melainkan implementasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kita menyaksikan masih adanya intoleransi. Masih adanya korupsi. Masih adanya ketidakadilan sosial. Masih adanya penyalahgunaan teknologi digital. Masih adanya budaya saling mencurigai dan saling menyerang di ruang publik,” ujarnya.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa bangsa Indonesia tidak kekurangan pengetahuan, tetapi masih kekurangan keteladanan dan figur-figur yang mampu menjadi penggerak kebajikan.

“Artinya, persoalan kita bukan kekurangan pengetahuan. Persoalan kita adalah kekurangan keteladanan. Kekurangan penggerak kebajikan. Kekurangan warga negara yang bersedia menjadi contoh,” ucapnya.

Karena itu, Marinus menilai kehadiran Relawan Kebajikan Pancasila menjadi langkah penting untuk mengubah pendekatan pembinaan ideologi dari sekadar penyampaian materi menjadi gerakan pembentukan karakter.

“Dari sekadar penyampaian materi menjadi gerakan kebajikan sosial. Dari sekadar transfer pengetahuan menjadi transformasi karakter. Dari sekadar memahami nilai menjadi menghidupi nilai. Di sinilah lahir gagasan Relawan Kebajikan Pancasila,” terangnya.

Marinus menegaskan, Relawan Kebajikan Pancasila bukanlah organisasi yang dibentuk untuk kepentingan politik elektoral maupun kelompok tertentu. Menurutnya, gerakan tersebut merupakan gerakan moral kebangsaan yang menghimpun warga negara untuk menjadi teladan dalam mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

“Perubahan bangsa tidak selalu dimulai dari kekuasaan. Perubahan bangsa sering kali dimulai dari keteladanan. Karena itu sesungguhnya kekuatan bangsa bukan terletak pada gedung-gedung yang megah, bukan pada teknologi yang canggih, bukan pada sumber daya alam yang melimpah. Kekuatan bangsa terletak pada karakter manusianya,” jelasnya.

Menjelang terwujudnya visi Indonesia Emas 2045, Marinus mengingatkan bahwa bangsa yang maju bukan hanya bangsa yang memiliki kekayaan, melainkan juga bangsa yang berkarakter, berintegritas, menjunjung keadilan, dan memiliki kepedulian sosial.

“Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya berbicara tentang kebaikan. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang melakukan kebaikan. Indonesia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang hanya menghafal Pancasila. Indonesia membutuhkan lebih banyak orang yang menghidupi Pancasila,” tandasnya.

No More Posts Available.

No more pages to load.