Breaking News
Live Update Berita Terkini

Pelemahan Rupiah Jadi Peluang Dorong Konsumsi Produk Lokal

Rabu, 10 Jun 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Ilustrasi - Perajin menata tas berbahan karung goni untuk dijual di Namaste 21 Handmade, Denpasar, Bali, Selasa (19/5/2026). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo
Dengarkan dgn suara Siap
1.7K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai dapat menjadi momentum untuk mendorong peningkatan konsumsi produk dalam negeri. Kondisi ini terjadi karena harga barang impor cenderung naik sehingga membuka ruang lebih besar bagi produk lokal untuk bersaing di pasar domestik.

Pengamat ekonomi sekaligus dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), Toto Pranoto, mengatakan depresiasi rupiah membuat biaya impor meningkat dan berdampak pada kenaikan harga berbagai produk luar negeri.

“Dengan depresiasi rupiah, harga barang impor menjadi lebih mahal sehingga peluang produk domestik untuk bersaing semakin terbuka,” kata Toto saat dihubungi di Jakarta, Rabu (10/6).

Menurutnya, situasi tersebut berpotensi meningkatkan kontribusi produk lokal terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, terutama jika didukung kebijakan yang berpihak pada penggunaan produk dalam negeri.

Toto menilai implementasi kebijakan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) secara konsisten dapat menjadi instrumen penting untuk memperkuat daya saing industri nasional di tengah tekanan nilai tukar.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa masih terdapat sejumlah tantangan yang harus diatasi agar pelaku usaha dalam negeri dapat memanfaatkan momentum tersebut secara optimal.

Salah satu persoalan utama adalah maraknya peredaran barang impor ilegal yang berpotensi menggerus daya saing produk lokal. Menurutnya, praktik penyelundupan harus menjadi perhatian serius pemerintah karena dapat merugikan industri nasional.

“Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana industri lokal terlindungi dari barang impor ilegal yang belakangan semakin marak,” ujarnya.

Selain itu, Toto menyoroti tingginya ketergantungan sejumlah sektor usaha, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), terhadap bahan baku impor. Ketersediaan bahan baku yang stabil dinilai menjadi faktor penting agar proses produksi tidak terganggu saat nilai tukar rupiah mengalami tekanan.

Ia mendorong pemerintah untuk memperketat pengawasan di pintu masuk impor guna mencegah penyelundupan sekaligus memastikan kebijakan TKDN berjalan efektif.

Di sisi lain, pelaku industri juga perlu meningkatkan efisiensi produksi, memperkuat rantai pasok bahan baku, serta membangun citra merek yang kuat agar mampu bersaing dengan produk impor.

“Brand perusahaan yang kuat dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan daya saing produk lokal di masa mendatang,” kata Toto.

No More Posts Available.

No more pages to load.