Laporan : Yadi / Editor : YR
TERNATE [Kabarpublik.id] – Salah satu pedagang singkong, Batomi Muhasim meminta pada pemerintah Kota Ternate memperhatikan nasib mereka saat ini. Sebab selama berjualan dimasa pandemi omset mereka menurun drastis
Apalagi kondisi tempat ia berjualan bersama beberapa rekan – rekannya di samping pasar Bahari Berkesan Tiga Ternate itu pembeli kurang masuk.
Maka dari itu, Ibu lima orang anak ini berharap ada perhatian serius dari Pemerintah Kota Ternate terhadap nasib mereka saat ini ditempat tersebut.
“Saya berjualan disamping pasar Bahari Berkesan Tiga ini mungkin sudah lima tahun,” ujar Ibu Batomi saat ditemui ditempat jualannya, Kamis (16/9/2021).

Ibu Batomi yang saat ini sudah berusia 60 tahun itu mengisahkan, sebelum ia berjualan ditempat ini, awalnya sebagai pencuci pakaian milik orang lain, dengan diberi upah kerja sebesar Rp 50.000 ribu
“Jadi dari hasil cucian itu saya beli beras untuk anak-anak. Karna saat itu mereka masih kecil-kecil. Dan apalagi waktu itu suami saya sudah meninggal beberapa tahun lalu,” ucap Ibu Batomi mengisahkn sambil mengusap air mata.
Ia mengungkapkan, setelah kepergian suami, dirinya kemudian mencari hidup hingga saat ini. Meskipun saat ini anak-anak sudah tumbuh dewasa, dan sudah berumah tangga, tapi harus bekerja.
“Anak-anak saya sudah menikah semua, dua di sini (Ternate), satu di Sanana Kabupaten Kepulauan Sula, sedangkan satu di Kabupaten Buton, dan satunya lagi di Malaysia,” tuturnya.
“Kalau di Ternate tinggal dengan anak saya di Akhuda Ternate Utara. Jadi saya tinggal di Ternate langsung berjualan dari pada saya nganggur.Apalagi tinggal brsama anak dan sudah rumah tangga,” jelas Ibu Batomi.
Ibu Batomi asal Kabupaten Lumajang ini juga menyampaikan, saat ini dagangan yang di jual diantaranya, singkong, ubi, bawang merah, bawang putih, daun kelor atau merunggai, daun pandan, dan kunyit.
“Kalau singkong saya jual satu ikat itu harga Rp 20.000 ribu, sampai harga Rp 10.000 sesuai ukurannya. Sementara bawang merah satu piring plastik kecil hrganya Rp 5000 ribu hingga Rp 10.000 ribu,” ungkapnya lagi.

Sedangkan untuk bawang putih satu piring plastik harganya Rp 5000 ribu hingga Rp 10.000 ribu. Kunyit satu ikat Rp 5000, daun kelor satu ikat Rp 5000 ribu, sedangkan daun pandan satu ikat Rp 5000 ribu.
Selain itu, untuk pendapatan dalam satu hari itu Rp 50.000 ribu hingga Rp 30.000 ribu. Pendapatan menurun ini, karena pembeli jarang beli. Dulu, Ibu Batomi mengatakan, pendapatan yang ia diraup itu sampai Rp 200.000 ribu. Namun dagangan yang dijual itu milik orang.
“Dari hasil penjualan itu mereka berikan kepada saya sebesar Rp 50.000 ribu. Setelah saya sudah mendapatkn modal, saya langsung membuka usaha sendiri,” ucapnya seraya menyampaikan, sudah tidak mengetahui berapa modal yang ia dikeluarkan saat itu untuk membuka usaha.
Dirinya menuturkan, terkait dengan Leo atau penarikan retribusi saat ini belum dilakukan, sebab masih dalam keadaan pandemi, sehingga pemerintah kota masih memberikan kelonggaran.
“Kalau sebelum pandemi kita berikan penarikan retribusi itu Rp 2000 ribu. Tapi untuk saat ini belum. Semoga apa yang menjadi masalah kami (pedagang) yang ada disamping pasar Bahari Berkesan Tiga ini pemerintah kota bisa melihat,” pungkasnya.#[KP]







