JAKARTA (kabarpublik.id) – PT MRT Jakarta (Perseroda) menegaskan bahwa pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi wilayah di sekitar stasiun dan pusat transportasi publik.
TOD Planning Department Head MRT Jakarta, Sagita Devi, mengatakan pengembangan kawasan transit tidak hanya meningkatkan mobilitas masyarakat, tetapi juga menciptakan efek ganda yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan transformasi ruang perkotaan.
“Pengembangan kawasan TOD memberikan multiplier effect yang mampu mengubah kawasan transit menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru,” ujar Sagita dalam MRTJ Fellowship Program 2026 di Jakarta, Kamis (30/7).
Menurutnya, manfaat TOD terlihat dari meningkatnya tingkat hunian bangunan, tumbuhnya berbagai jenis usaha dan ruang komersial baru, serta bertambahnya jumlah pengguna transportasi publik.
Sagita menjelaskan, MRT Jakarta berperan sebagai katalis regenerasi perkotaan melalui penyediaan transportasi publik yang andal, integrasi antarmoda, revitalisasi ruang publik, dan penguatan konektivitas antarwilayah.
Dalam implementasinya, pengembangan TOD difokuskan pada peningkatan konektivitas pejalan kaki melalui integrasi stasiun dengan bangunan di sekitarnya secara mulus (seamless), serta pengembangan infrastruktur pendukung, termasuk sistem parkir yang terintegrasi.
Selain itu, MRT Jakarta juga mengembangkan konsep kawasan campuran (mixed-use) yang menggabungkan fungsi komersial, hunian, dan ruang publik dalam satu kawasan. Salah satu contoh penerapannya adalah kawasan Transport Hub Dukuh Atas.
“Pengembangan mixed-use memungkinkan terciptanya kawasan yang lebih hidup, terintegrasi, dan efisien bagi masyarakat,” kata Sagita.
Ia menambahkan, optimalisasi aset menjadi salah satu strategi utama dalam pengembangan TOD. Langkah tersebut dilakukan melalui pemanfaatan aset pemerintah daerah secara maksimal, kerja sama dengan badan usaha milik daerah (BUMD), serta kolaborasi dengan sektor swasta.
Selain optimalisasi aset, MRT Jakarta juga mengembangkan komersialisasi kawasan transit untuk menciptakan infrastruktur yang mandiri secara finansial. Salah satu contohnya adalah Blok M Hub yang kini berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat yang terintegrasi dengan berbagai moda transportasi.
Sagita juga menilai TOD memiliki potensi besar dalam mendukung pariwisata perkotaan Jakarta. Kawasan Dukuh Atas, misalnya, telah dirancang dengan konektivitas yang terhubung langsung dengan berbagai moda transportasi publik, termasuk kereta bandara.
Menurutnya, wisatawan yang tiba dari Bandara Soekarno-Hatta dapat langsung menuju pusat kota menggunakan kereta bandara dan terhubung dengan berbagai fasilitas di kawasan Dukuh Atas yang mengusung konsep mixed-use, termasuk hotel dan area komersial.
Ia menekankan pentingnya pengembangan jalur pedestrian yang aman, nyaman, dan terintegrasi untuk mendorong lebih banyak masyarakat menggunakan transportasi umum sekaligus memperkuat konektivitas kawasan transit di Jakarta.







