“MELAWAN LUPA: ANTARA SEJARAH, MERDEKA DAN CINTA”

Rabu, 22 Jan 2020
Dengarkan dgn suara Siap
5.5K pembaca

Oleh : The Presnas Center

TAK ada ujung pangkalnya, Kakanda Hamid Dude, tiba-tiba melempar pertanyaan begini: “Apa yang bisa membuat kita bangga dengan Gorontalo hari ini?”

Gambar konten
Sumber: Kabarpublik.id

Sejenak kamipun terdiam,  mencari pembenaran untuk merasa bangga berprovinsi,  setelah hampir 20 tahun.

Dicari-cari alasan nyaris tak ketemu. Delapan program unggulan, terutama yang (katanya) digratiskan, biasa-biasa saja. Urusan kesehatan direncanakan dibiayai dengan beban hutang tahunan, nyaris menjadi beban rakyat. Fungsi infrastruktur lagi didera masalah hukum. Pengembangan sumber daya mamusia, apa lagi?

Mari mundur ke belakang sejenak. Bukankah dulu kita inginkan “merdeka” dari kemiskinan dan keterbelakangan… Lantas,  bagaimana sekarang…? Sungguh keberdayaan kita, tetap masih sangat berjarak, ketika mau disandingkan dengan provinsi lain, Maluku Utara, Bangka Belitung, Banten,  yang sama usianya.

Wacana kekinian kita cenderung menunjukkan fakta terbalik. Ambil contoh soal SDM. Di awal (20 tahun lalu), SDM aparatur kita sangat terbatas, hampir di semua sektor. Solusinya (saat itu),  menggunakan yg ada,  dan import SDM dari luar. Sekarang, justru SDM tersedia melimpah, tapi (maaf) hampir tidak digunakan. Kalaupun ada,  dianggap tidak mampu… Kasihan sekali…

Konteks “melawan lupa” dalam kaitannya dengan momentum Peringatan 20 tahun Deklarasi Pembentukan Provinsi Gorontalo,  setidaknya harus diterjemahkan sebagai otokritik sekaligus merajut kembali semangat perjuangan membangun Gorontalo.

Pertama, tentu kita tidak boleh lupa dengan janji perjuangan, bahwa  23 Januari adalah hari “pembebasan”, hari di mana Gorontalo menyatakan “merdeka” di bawah naungan NKRI.

Kedua,  bahwa etos merdeka, harus terus digelorakan, agar Gorontalo bisa merdeka dari kemiskinan dan keterbelakangan. Merdeka untuk mengembangkan platform pembangunan dan kebudayaan yang maju dan modern.

Ketiga, bahwa seluruh elemen dan terutama pemangku kepentingan, untuk bersinergi, bersatu demi rakyat Gorontalo.

Keempat,  bahwa Gubernur, Bupati dan Walikota, dan seluruh Politisi, harus bertanggung jawab untuk mendahulukan kepentingan bangsa dan negara,  di atas kepentingan dinasti politik atau kelompok.

Kelima,  bahwa seluruh masyarakat berperan penting untuk mendorong dan mendukung penuh kebijakan penegakan hukum tanpa pandang bulu, dan pencegahan tindak radikalisme/terorisme yang mengancam keutuhan bangsa.

Kita mencintai Gorontalo ini…..

Dan cinta itu,  lebih tulus diberikan oleh anak kandungnya sendiri…

Bukan oleh anak pungut ataupun anak asuh…

Semoga…

Mari bangun Gorontalo…

Setulus-tulusnya…

No More Posts Available.

No more pages to load.