Kemenhut Optimalkan Pemanfaatan Kayu Hanyutan Pascabencana

Kamis, 8 Jan 2026
Dengarkan dgn suara Siap
17.9K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengintensifkan pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana hidrometeorologi di Aceh Utara dan Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Langkah ini dilakukan sesuai Surat Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 863 Tahun 2025 tentang Pemanfaatan Kayu Hanyutan Akibat Bencana Banjir sebagai sumber material rehabilitasi dan pemulihan di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Gambar konten
Sumber: Kabarpublik.id

Di Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, proses pembersihan, pemilahan, dan pemanfaatan kayu hanyutan didukung 35 unit alat berat. Rinciannya, 30 unit berasal dari Kemenhut (14 excavator capit, 11 excavator bucket, dan 5 dozer), 4 unit dari TNI (1 bulldozer, 1 excavator bucket, dan 2 excavator capit), serta 1 unit excavator dari Kementerian PUPR.

Seluruh alat difokuskan untuk membersihkan kayu di lingkungan permukiman warga serta memilah kayu di aliran sungai agar dapat dimanfaatkan secara aman.

Hingga 6 Januari 2026, kayu hanyutan yang telah diukur dan dinyatakan layak dimanfaatkan di Aceh Utara mencapai 454 batang dengan total volume 730,95 meter kubik. Kepala Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) Subhan menyatakan, pemanfaatan dilakukan secara tertib dan terkontrol guna mempercepat pemulihan masyarakat terdampak.

“Dengan dukungan alat berat, pemilahan dapat berlangsung lebih cepat dan aman. Kayu yang layak dimanfaatkan untuk kebutuhan darurat warga,” ujarnya.

Kayu hanyutan tersebut antara lain digunakan untuk pembangunan hunian sementara (huntara) yang dikembangkan berdasarkan kajian dan riset Universitas Gadjah Mada (UGM).

Saat ini, pemanfaatan oleh masyarakat dan lembaga kemanusiaan tercatat mencapai 28,86 meter kubik, dengan progres dua unit huntara dalam pembangunan dan satu unit telah rampung.

Sementara itu, di Desa Garoga, Huta Godang, dan Aek Ngadol, Kabupaten Tapanuli Selatan, pemanfaatan kayu hanyutan juga dilakukan secara intensif dengan dukungan 20 unit alat berat dan 10 unit dump truck.

Kayu yang telah dipilah dan diolah digunakan untuk kebutuhan pengungsian dan penanganan darurat.

Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Sumatera Utara, Novita Kusuma Wardani, menegaskan seluruh proses dilakukan sesuai ketentuan.

“Sebanyak 430 keping kayu olahan dengan volume 6,95 meter kubik dimanfaatkan sebagai alas lantai 267 unit tenda darurat. Penatausahaan dan pengawasan terus kami lakukan agar pemanfaatannya tepat sasaran,” jelasnya.

Kemenhut menegaskan, pemanfaatan kayu hanyutan pascabencana mengedepankan prinsip legalitas, transparansi, dan kebermanfaatan sosial, sekaligus mencegah pemanfaatan yang tidak terkendali di lapangan.

No More Posts Available.

No more pages to load.