IHSG ditutup melemah 94,03 poin atau 1,51 persen ke posisi 6.147,86. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 9,30 poin atau 1,50 persen ke posisi 611,81.
“Sentimen eksternal dan internal membebani pergerakan IHSG. Dari eksternal, bursa regional Asia cenderung bergerak melemah seiring ketidakpastian yang kembali muncul di Timur Tengah dan harga minyak yang lebih tinggi,” ujar Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus alias Nico dalam kajiannya di Jakarta, Senin.
Dari mancanegara, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menolak proposal terbaru Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Trump juga mengatakan bahwa Teheran telah bertindak berlebihan dan mengharapkan negosiasi dilanjutkan pada pekan ini.
Selain itu, sentimen lainnya yaitu kenaikan imbal hasil obligasi Pemerintah AS, dengan imbal hasil 10 tahun mendekati 5,17 persen, yang menimbulkan kekhawatiran tentang kondisi keuangan global yang lebih ketat dan kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Presiden Fed Cleveland, Beth Hammack mengatakan faktor-faktor tersebut bersamaan dengan kekhawatiran atas utang pemerintah, yang berkontribusi terhadap imbal hasil obligasi Treasury jangka panjang yang lebih tinggi.
Dari dalam negeri, Nico mengatakan kekhawatiran tetap ada seiring tingginya biaya minyak yang berpotensi berdampak ke fiskal.
BEI resmi mengubah batas bawah harga saham dari sebelumnya Rp50 menjadi Rp1, sebuah langkah reformasi pasar yang dinilai sebagai jawaban langsung atas kekhawatiran MSCI terkait struktur pasar modal domestik dan
Pada saat sama, BEI memperketat memperketat kriteria Full Call Auction (FCA), dengan menghapus pemicu non-fundamental yang mengakibatkan 92 saham keluar dari Papan Pemantauan Khusus.
Nico menilai penyesuaian harga tersebut untuk meningkatkan kepercayaan institusi global yang menunjukkan pasar modal Indonesia semakin terbuka, transparan, dan adaptif.
“Di sisi lain berpotensi menciptakan tekanan psikologis atau kepanikan bagi sebagian investor ritel dan rawan dimanfaatkan oleh para spekulan pasar modal untuk melakukan manipulasi jangka pendek,” ujar Nico.
Dibuka melemah, IHSG betah di teritori negatif sampai penutupan sesi pertama perdagangan saham. Pada sesi kedua, IHSG masih betah di zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
Berdasarkan Indeks Sektoral IDX-IC, dua sektor menguat, yaitu dipimpin sektor teknologi yang naik sebesar 0,05 persen, diikuti oleh sektor energi yang naik sebesar 0,04 persen.
Sedangkan sembilan sektor melemah, yaitu dipimpin sektor teknologi yang turun sebesar 4,48 persen, diikuti oleh sektor barang baku dan sektor barang konsumen non primer yang turun masing-masing sebesar 3,09 persen dan 2,57 persen.
Adapun, saham-saham yang mengalami penguatan harga terbesar, yaitu TAMU, BLTA, MIRA, PBRX, dan PPRO. Sedangkan saham-saham yang mengalami pelemahan harga terbesar yakni FORU, TRUE, SHID, MGNA dan LIFE.
Frekuensi perdagangan saham tercatat sebanyak 1,63 juta kali transaksi dengan jumlah saham yang diperdagangkan sebanyak 34,07 miliar lembar saham senilai Rp12,57 triliun. Sebanyak 192 saham naik, 554 saham menurun dan 217 tidak bergerak nilainya.
Bursa saham regional Asia sore ini antara lain, indeks Nikkei melemah 0,69 persen ke 65.908,00, indeks Shanghai melemah 1,67 persen ke 3.823,62, indeks Hang Seng menguat 0,54 persen ke 24.642,51, indeks Kuala Lumpur melemah 2,70 persen ke 6.889,74, dan indeks Straits Times menguat 0,49 persen ke 5.739,01. (ant)







