AMBON (kabarpublik.id) – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan nelayan dan pengguna jasa pelayaran untuk mewaspadai potensi gelombang tinggi hingga 2,5 meter di sejumlah perairan Maluku Utara hingga 26 Agustus 2026.
Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Babullah Ternate, Muhammad Fauzi Bintiang, mengatakan peningkatan tinggi gelombang dipengaruhi sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Pasifik bagian barat, tepatnya di utara Papua.
“Masih ada potensi ketinggian gelombang hingga mencapai dua meter untuk beberapa wilayah Maluku Utara. Ini karena adanya faktor sirkulasi siklonik di sekitar Samudra Pasifik bagian barat di utara Papua,” kata Fauzi di Ternate, Jumat (21/8/2026).
Menurut dia, gelombang hingga 2,5 meter berpotensi terjadi di sejumlah perairan, yakni barat laut dan timur laut Morotai, timur Halmahera, Gebe, Batang Dua, barat Halmahera, barat Obi, timur Kepulauan Sula, selatan Taliabu, serta barat Bacan dan Kayoa.
Sirkulasi siklonik tersebut juga berpotensi meningkatkan kecepatan angin di wilayah Maluku Utara sehingga berdampak terhadap kenaikan tinggi gelombang di sejumlah perairan.
Selain gelombang tinggi, BMKG memprakirakan angin kencang dengan kecepatan hingga 50 kilometer per jam masih berpotensi terjadi sampai 26 Agustus.
Wilayah yang berpotensi mengalami angin kencang meliputi Batang Dua, perairan barat Halmahera, Ternate, Tidore, Makian, Kayoa, barat Bacan, Obi, Gebe, Patani, Halmahera Timur, Morotai, dan barat Taliabu.
Fauzi mengimbau nelayan mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melaut. Nelayan disarankan menunda aktivitas apabila tinggi gelombang mencapai 1,25 meter dan kecepatan angin melebihi 15 knot.
“Kami mengimbau kepada nelayan apabila ketinggian gelombang sudah mencapai 1,25 meter dan kecepatan angin melebihi 15 knot, diharapkan menunda untuk mencari ikan terlebih dahulu hingga pembaruan kami berikutnya,” ujarnya.
Kondisi tersebut juga perlu menjadi perhatian operator dan pengguna jasa pelayaran. Gelombang tinggi dan angin kencang dapat meningkatkan risiko keselamatan, terutama bagi kapal atau perahu dengan ukuran dan karakteristik tertentu.
Menurut Fauzi, perahu nelayan mulai berisiko ketika menghadapi gelombang sekitar 1,25 meter. Sementara itu, kapal tongkang berpotensi menghadapi risiko ketika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang sekitar 1,5 meter.
“Karena itu, kami mengimbau masyarakat yang akan melakukan aktivitas di laut untuk memperhatikan informasi cuaca dan gelombang sebelum berangkat,” katanya.
BMKG meminta nelayan dan operator kapal terus memantau informasi cuaca serta kondisi perairan terbaru. Pembaruan tersebut penting sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan waktu dan rute pelayaran demi menjaga keselamatan.





