BANTEN (Kabarpublik.id) – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menegaskan bahwa rekaman video yang beredar di beberapa kanal media sosial dengan memperlihatkan dan menarasikan diduga erupsi Gunung Anak Krakatau dari atas kapal adalah informasi palsu atau hoaks.
Adapun video berdurasi kurang dari satu menit tersebut menampilkan sedikitnya dua orang merekam letusan gunung berapi yang disertai dengan kilatan menggunakan gawai sembari menaiki sebuah kapal.
Pelaksana Tugas Kepala Badan Geologi Lana Saria dalam keterangan di Jakarta, Minggu, mengatakan bahwa setelah dilakukan verifikasi teknis, video itu bukan merupakan rekaman aktivitas erupsi terkini dari gunung api aktif di perairan Selat Sunda tersebut.
“Masyarakat diimbau untuk tidak mempercayai maupun menyebarluaskan video yang belum terverifikasi. Seluruh informasi resmi mengenai aktivitas Gunung Anak Krakatau hanya disampaikan melalui kanal resmi Badan Geologi, PVMBG, dan MAGMA Indonesia,” kata Lana.
- Pakaian Adat Gorontalo Warnai Karnaval Budaya Nusantara APEKSI XVI di Makassar
- AKTIVIS LINGKUNGAN ITU TERNYATA CALEG PARTAI NASDEM NOMOR URUT 9, DAPIL POHUWATO-BOALEMO. ABDUL HAMID TOLIU : PERSOALAN DI DAERAH INI BUTUH SEORANG YANG KOMIT, SAYA SIAP MELAKUKANNYA
- Alumni Universitas Pancasila Salurkan Hewan Kurban untuk Warga dan Pegawai Kampus
Dia menjelaskan bahwa berdasarkan data pemantauan tim mereka, Gunung Anak Krakatau sebenarnya hanya mengalami dua kali erupsi kecil baru-baru ini, yaitu pada Kamis (2/7) pukul 14.05 WIB dan Jumat (3/7) pukul 11.50 WIB, dengan tinggi kolom abu masing-masing teramati sekitar 200 meter di atas puncak.
Selain persoalan video, Badan Geologi juga mengklarifikasi isu yang beredar mengenai perluasan jarak rekomendasi aman menjadi 5 kilometer, yang dipastikan tidak benar karena rekomendasi resmi untuk Level III (Siaga) saat ini tetap berada pada radius 3 kilometer dari pusat erupsi.
Dalam rekomendasi tersebut masyarakat, wisatawan, pendaki, maupun nelayan dilarang mendekat atau beraktivitas di dalam zona bahaya radius 3 kilometer guna menghindari ancaman lontaran batu pijar, lava, awan panas, hingga hujan abu lebat.
Badan Geologi, menurut Lana juga secara khusus meminta masyarakat yang bermukim di wilayah pesisir Provinsi Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan tidak mempercayai isu-isu menyesatkan yang mengaitkan aktivitas Gunung Anak Krakatau dengan potensi tsunami.
Masyarakat maupun pemerintah daerah setempat diharapkan selalu mengacu pada data dinamis yang disediakan pemerintah melalui situs web resmi Penyelidikan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) atau lewat aplikasi MAGMA Indonesia.
“Juga dapat melakukan kegiatan seperti biasa dengan senantiasa mengikuti arahan BPBD setempat,” kata dia menambahkan (ant)





