Breaking News
Live Update Berita Terkini

Sendang Wonosari dan Selang Pemasok Air Warga

Kamis, 6 Agu 2026
Editor: Jamalul Insan
Seorang warga menyesap selang dari sumber mata air agar air mengalir menuju rumahnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari di Sendang Wonosari, Dusun Kalidadap I, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu (29/7/2026). ANTARA/Agung Dwi Prakoso
Dengarkan dgn suara Siap
3.2K pembaca
YOGYAKARTA  (Kabarpublik.id) – Di balik perbukitan Imogiri, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, terdapat sebuah tempat bernama Dusun Kalidadap I, Kalurahan Selopamioro, Kapanewon Imogiri. Sekilas, dusun itu tampak seperti kawasan perbukitan di ujung Bantul pada umumnya, dengan hamparan persawahan, pekarangan yang luas, dan pepohonan yang rindang.

Pemandangan berbeda yang unik segera terlihat ketika orang memasuki dusun tersebut. Ratusan selang plastik berwarna-warni terhampar mengikuti alur parit yang mengering. Selang-selang itu memanjang hingga ratusan meter. Sebagian bahkan tertimbun dedaunan kering yang berguguran diterpa musim kemarau.

Ratusan selang itu menghulu pada sebuah mata air yang besar bernama Sendang Wonosari. Selama puluhan tahun, sendang tersebut menjadi sumber kehidupan warga dengan memasok kebutuhan air bersih masyarakat di sekitarnya.

Keberadaan sendang itu semakin terasa keistimewaannya ketika musim kemarau panjang terjadi seperti beberapa bulan belakangan ini akibat gejala El Nino.

Air dari Sendang Wonosari itu ditampung dalam sebuah bak semen seluas sekitar 5 x 5 meter.  Di bibir bak itu, ratusan ujung selang menggantung. Sebagian di antaranya ditindih batu kapur berukuran besar agar ujung selang tetap berada di dasar bak penampungan.

Selang-selang warna-warni itulah yang mengalirkan air menuju rumah warga.
Sumber kehidupan

Pagi itu, seorang laki-laki lanjut usia, Sagi (72), berjalan menyusuri bibir parit. Tatapannya awas mengamati tumpukan selang yang saling bertumpuk. Sesekali ia turun ke dasar parit untuk mengurai lilitan selang demi menemukan selang miliknya.

“Wo, iki selangku ketemu (Oh, ini selang saya sudah ketemu),” katanya kepada warga lain yang juga tengah mencari selangnya, di akhir Juli.

Setelah menemukan selangnya, Sagi segera melepas salah satu sambungan selang, lalu menyesap ujungnya beberapa kali. Tak lama kemudian, air jernih mulai mengalir. Gemericik air yang keluar dari selang disambut senyum puas di wajahnya, begitu pula warga lain yang melakukan hal serupa.

Dalam sehari, Sagi harus menyedot air dari selang dengan mulutnya, setidaknya hingga tiga kali sehari. Aliran air di selang akan berhenti apabila ujung selang yang berada di dasar mata air terangkat ke permukaan atau ketika permukaan air turun setelah dipakai untuk irigasi.

Setelah disedot, air kembali mengalir menuju rumah memanfaatkan perbedaan ketinggian antara sumber mata air dan permukiman warga.

“Jadi kami harus memastikan ujung selang tetap tercelup ke dalam air. Kalau terangkat atau air surut, kami harus menyedotnya lagi,” kata Sagi.

Begitulah keseharian di sekitar Sendang Wonosari. Warga datang silih berganti untuk menyesap selang masing-masing agar air kembali mengalir menuju rumah. Selang-selang tersebut dipasang secara mandiri oleh setiap keluarga yang memanfaatkan sumber air itu.

Tanpa bantuan mesin, mereka setiap hari harus bergantian menyesap ujung selang agar air dapat mengalir memanfaatkan gaya gravitasi. Begitulah cara masyarakat memenuhi kebutuhan paling mendasar dalam kehidupan: memperoleh air bersih.

Rumah Sagi berjarak sekitar 500 meter dari Sendang Wonosari. Karena lokasinya relatif dekat, ia hanya membutuhkan sekitar lima gulung selang untuk mengalirkan air hingga ke penampungan di rumahnya dengan satu gulungnya berukuran sekitar 100 meter.

“Saya hanya pasang sekitar lima gulung selang,” kata Sagi.

Panjang selang yang digunakan setiap rumah berbeda-beda. Agar mudah dikenali, warga memberi penanda menggunakan tali rafia atau potongan kain berwarna.

Selama puluhan tahun masyarakat memanfaatkan Sendang Wonosari sebagai sumber air bersih. Mereka memiliki kesepakatan tidak tertulis mengenai waktu menyedot selang. Aktivitas itu hanya dapat dilakukan hingga sekitar pukul 14.30 WIB karena mulai pukul 15.00  aliran air dari sendang dialihkan untuk mengairi persawahan melalui selang berukuran lebih besar.

“Seingat saya, penggunaan selang seperti ini sudah dilakukan sejak tahun 1970-an,” kata Sagi.

Cara tersebut dipilih karena lebih praktis dibandingkan harus bolak-balik membawa ember atau jeriken dari mata air ke rumah. Selain itu, di kawasan sendang memang tidak tersedia pompa air sehingga seluruh proses dilakukan secara manual.

Hal serupa juga dilakukan Parinah (67). Perempuan itu terlihat juga sibuk mengurai tumpukan selang untuk mencari miliknya. Dalam sehari, dia harus bolak-balik ke sendang hingga tiga kali untuk menyesap selang agar air mengalir menuju rumahnya yang berjarak sekitar satu kilometer.

Air tersebut digunakan untuk memenuhi seluruh kebutuhan rumah tangga, mulai dari mandi, mencuci pakaian, mencuci peralatan makan, hingga kebutuhan konsumsi sehari-hari. Dibandingkan Sagi, Parinah membutuhkan lebih banyak selang.

“Saya menghabiskan 11 gulung selang. Masing-masing panjangnya sekitar 100 meter,” ujarnya.

Hingga kini, debit air Sendang Wonosari dinilai masih mampu memenuhi kebutuhan sekitar 600 kepala keluarga di Dusun Kalidadap I dan Kalidadap II. Saat musim hujan, air dari sendang melimpah hingga mengalir ke parit.

“Alhamdulillah, sumber ini belum pernah kering,” kata Parinah.

Menjaga kelestarian

Menyadari betapa berharganya Sendang Wonosari, masyarakat sekitar terus berupaya menjaga kelestarian alam di sekitar mata air itu.

Yang paling dijaga oleh masyarakat adalah kesadaran dari tiap keluarga untuk tidak mengambil air secara berlebihan. Mereka menyadari betapa air di sendang itu terbatas debitnya, sehingga tidak serakah merupakan peran utama dalam menjaga kelestarian air di sana.

Upaya menjaga diri dari keserakahan itu, antara lain, dengan tidak menggunakan pompa air yang bisa menyedot air dalam jumlah besar dengan cepat. Cara menyedot selang seperti yang dilakukan selama ini menjadi bentuk pengendalian pemanfaatan air.

Selain itu, warga mulai menanam pohon berakar kuat, seperti beringin, di sekitar sendang. Pohon berakar kuat diyakini mampu menjaga cadangan air tanah. Pembersihan kawasan sendang juga dilakukan secara berkala. Sejumlah perbaikan menggunakan susunan batu dipilih untuk mengurangi penggunaan semen yang dikhawatirkan dapat mempengaruhi debit mata air.

Kepala Dusun Kalidadap II, Suroso (31), mengatakan di wilayahnya ada sekitar 330 kepala keluarga, hampir sama dengan  jumlah KK di Kalidadap I. Sebagian warga mendapat  air dari sumur dangkal yang dibuat secara mandiri, sedangkan sebagian lainnya sepenuhnya bergantung pada Sendang Wonosari.

“Yang tidak memakai air dari situ, biasanya menggunakan sumur dangkal,” katanya.

Menurut Suroso, pemerintah pernah membangun dua sumur bor di Kalidadap II sebagai alternatif sumber air bersih. Namun, keduanya tidak lagi berfungsi karena pompanya rusak akibat tingginya intensitas penggunaan. Perbaikan sempat dibiayai pemerintah setempat, tetapi anggaran yang tersedia akhirnya habis sehingga kedua sumur tersebut tidak lagi beroperasi.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Bantul Mujahid Amrudin mengatakan pihaknya telah melakukan inventarisasi dan pemetaan sumber mata air, terutama di wilayah yang berpotensi kekeringan, seperti Kapanewon Imogiri.

“Teman-teman, ketika melakukan dropping air, kami sarankan sekaligus mencari informasi mengenai potensi sumber mata air yang ada di lokasi,” kata Mujahid.

BPBD Bantul juga berkoordinasi dengan BPBD DIY untuk mengoptimalkan pemanfaatan sumber mata air yang ditemukan. Potensi setiap sumber air akan dikaji, termasuk mengukur apakah debitnya masih mencukupi kebutuhan masyarakat, termasuk Sendang Wonosaro di Kalidadap. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.