Breaking News
Live Update Berita Terkini

PENGARUH REVOLUSI INDUSTRI 4.0 TERHADAP DUNIA PENDIDIKAN

Senin, 17 Mei 2021
Editor: redaksi
Dengarkan dgn suara Siap
43.8K pembaca

KABARPUBLIK.ID – Pendidikan berasal dari bahasa Yunani, paidagogia yang berarti pergaulan dengan anak-anak. Pedagogos adalah seorang nelayan atau bujang dalam zaman Yunani kuno yang pekerjaannya menjemput dan mengantar anak-anak ke dan dari sekolah. Istilah lain berasal dari kata paedos yang berarti membimbing atau memimpin. Dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 1 Ayat 3, dinyatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara” (Kristiawan dkk, 2017).

Selain itu, menurut Mahfud Junaedi dalam bukunya, Paradigma Baru Filsafat Pendidikan Islam (2019), istilah Revolusi Industri 4.0 berasal pada Hanover Fair di Jerman pada tahun 2011. Istilah ini dimaksudkan sebagai strategi untuk memitigasi persaingan yang semakin meningkat dengan luar negeri dan untuk membedakan industri-industri di Jerman dan Uni Eropa dengan pasar internasional lainnya. Sebagai proses sejarah kemajuan teknologi manusia, 4.0 pada dasarnya merupakan perkembangan lebih lanjut dari revolusi-revolusi industri sebelumnya (Junaedi, 2019).

Pendidikan 4.0 adalah fenomena yang merespon kebutuhan revolusi industri keempat dimana manusia dan mesin di selaraskan untuk mendapatkan solusi, memecahkan masalah dan tentu saja menemukan kemungkinan inovasi baru. Pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, menyesuaikan kurikulum pendidikan dengan tantangan dan kebutuhan pada era sekarang ini. Kurikulum yang membuka akses bagi generasi milenial mendapatkan ilmu dan pelatihan untuk menjadi pekerja yang kompetitif dan produktif.

Era revolusi industri 4.0 sangat berbeda dengan era sebelumnya, karena pada era ini semua hal bergantung dengan digitalitas. Dengan menghadapi berbagai tantangan-tantangan di era revolusi industri 4.0, yang dilakukan salah satunya menciptakan suatu inovasi yang digunakan sebagai penunjang dalam pendidikan, melihat berbagai fenomena pada era revolusi industri 4.0 seakan lupa akan nila-nilai karakter sebagai jati diri peserta didik. Terutama sebagai generasi penerus bangsa yang harusnya memiliki jiwa tanggung jawab atas semua kehidupannya, tetapi tidak menempatkan hal tersebut sebagaimana mestinya. Terbukti dari kurang mampunya mereka dalam mempergunakan media digital sesuai dengan kebutuhannya, karena masih banyaknya penyalahgunaan media digital di kalangan para peserta didik pada era revolusi industri 4.0.

Menghadapi tantangan yang besar tersebut maka pendidikan dituntut untuk berubah juga. Termasuk pendidikan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Era pendidikan yang dipengaruhi oleh revolusi industri 4.0 disebut Pendidikan 4.0. Pendidikan 4.0 merupakan pendidikan yang bercirikan pemanfaatan teknologi digital dalam proses pembelajaran atau dikenal dengan sistem siber (cyber system). Sistem ini mampu membuat proses pembelajaran dapat berlangsung secara kontinu tanpa batas ruang dan batas waktu.Indonesia tergolong lambat dalam merespon revolusi industri 4.0 dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Sistem pendidikan 4.0 baru bergaung kencang dalam tahun ini. Oleh karena itu, pemerintah harus menyediakan fasilitas yang memadai dalam menyongsong era Pendidikan 4.0.

Presiden Joko Widodo meluncurkan gerakan “Making Indonesia 4.0” yang merupakan komitmen pemerintah memasuki era revolusi industri 4.0 ini. Beberapa pihak mengungkapkan bahwa dunia pendidikan di Indonesia perlu juga mempersiapkan diri memasuki revolusi 4.0 ini dengan melakukan beberapa perubahan dalam menerapkan metode pembelajaran di sekolah, pertama yang fundamental adalah merubah sifat dan pola pikir anak didik, kedua bisa mengasah dan mengembangkan bakat anak dan yang ketiga lembaga pendidikan harus mampu mengubah model belajar disesuaikan dengan kebutuhan jaman.

Menurut Mendikbud Muhadjir Effendy, bidang pendidikan perlu merevisi kurikulum dengan menambahkan lima kompetensi peserta didik dalam memasuki era revolusi 4.0 ini yaitu :

  1. Memiliki kemampuan berpikir kritis
  2. Memiliki kreatifitas dan kemampuan yang inovatif
  3. Memiliki kemampuan dan keterampilan berkomunikasi
  4. Bisa bekerjasama dan berkolaborasi
  5. Memiliki kepercayaan diri

Selain itu agar lulusan pendidikan nantinya bisa kompetitif maka kurikulum memerlukan orientasi baru tidak hanya cukup memahami literasi lama (membaca, menulis dan matematika) tetapi perlu memahami literasi era revolusi industri 4.0 yaitu literasi data dengan kemampuan untuk membaca, menanalisis dan menggunakan informasi di dunia digital. Kedua literasi teknologi dengan cara memahami cara kerja mesin dan aplikasi teknologi dan yang ketiga literasi manusia dimana harus sanggup memahami aspek humanities, komunikasi dan desain.

Di awal abad ini, pendidikan mulai berbenah diri untuk meningkatkan kualitas melalui Revolusi Industri 4.0. Telah banyak pelatihan yang membahas pendidikan 4.0. Namun, dalam implementasinya masih banyak guru yang kesulitan dalam mengoperasikan teknologi guna menunjang pembelajaran. Seharusnya, pendidikan 4.0 ini memerlukan tenaga pendidikan yang mengupdate dirinya baik ekonomi, perkembangan pendidikan 4.0, maupun perkembangan teknologi.

Pandemi COVID-19 dapat menguntungkan pendidikan 4.0 untuk pendidik maupun peserta didik yang telah mengerti dengan teknologi digital, sehingga dapat memudahkan mereka ke fase transformasi dari konversional menjadi daring. Namun, hal ini bisa juga menjadi tantangan besar bagi yang sama sekali belum mengetahui teknologi digital. Kita sendiri mungkin baru menyadati betapa pentingnya penerapan teknologi dalam pendidikan, terutama di tengah pandemi.

Dalam pendidikan 4.0, dibutuhkan keselarasan antara manusia dan teknologi informasi dalam rangka menemukan solusi yang dapat digunakan dalam memecahkan berbagai persoalan yang timbul, serta dapat menciptakan peluang yang kreatif dan inovatif untuk memperbaiki sektor kehidupan. Hal seperti inilah yang mengharuskan guru untuk mau tidak mau mempelajari teknologi guna mentransferkan ilmunya melalui Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara online. Tidak hanya pendidik, peserta didik pun diharuskan untuk dapat memahami penggunaan teknologi yang tidak hanya sosial media saja, tetapi juga semua aspek yang menunjang keberlangsungan KBM.

Setelah hampir 8 bulan pembelajaran 4.0 berbasis online berlangsung, hal ini telah membuat sebagian besar masyarakat sadar akan satu hal penting, yaitu sebaik apapun teknologi, tidak bisa menggantikan peran seorang guru. Mungkin dahulu murid merindukan libur karena merasa jenuh berada di kelas dari pagi sampai sore hari. Namun, kali ini mereka pasti jauh lebih merindukan kebersamaan dengan guru dan teman-temannya saat di dalam kelas. Dari sini dapat disimpulkan bahwa, peran guru tidak dapat tergantikan oleh apapun karena teknologi yang saat ini kita nikmati hanya untuk mempermudah kegiatan, bukan menggantikan peran dari seorang guru.Adanya pandemi COVID-19 menunjukkan bahwa pendidikan 4.0 kurang optimal karena adanya ketidakberartian teknologi tanpa adanya peran guru. Tanpa guru, siswa akan cepat merasakan bosan. Oleh karena itu, untuk meningkatkan mutu pendidikan 4.0 ini, hendaknya guru harus mampu bersinergi dengan teknologi demi mewujudkan pendidikan yang optimal.

Agar bisa menjadi bangsa Indonesia yang maju, kita harus mampu beradaptasi dengan segala perubahan yang ada. SDM yang berkualitas menjadi sesuatu hal yang penting dan menjadi perhatian bersama dalam upaya menciptakan NKRI ini menjadi bangsa yang maju, karena kreativitas dan inovasi menjadi faktor penentu suatu keberhasilan di era 4.0 terlebih saat pandemi COVID-19. Sangat disayangkan, apabila generasi milenial jika hanya bertindak sebagai pengguna yang pasif. Selain menjadi pengguna, generasi milenial harus mampu menjadi pemimpin dalam menghasilkan kreativitas dan inovasi, memiliki wawasan yang lebih luas dalam perkembangan teknologi, dan mengasah kemampuannya dalam menyosong era 4.0 ini. Dengan berpikir kritis dan tidak terjerumus ke dalam hal yang negatif dapat dilakukan mahasiswa untuk ikut berperan dalam era revolusi industri 4.0 ini.

 

Selain itu, generasi muda saat ini merupakan aset bangsa. Sudah sepatutnya, jika generasi muda diberikan kebebasan dalam berpikir, karena mereka harus mampu mengembangkan pola pikir dan kreativitas untuk menjadi generasi yang bermanfaat bagi bangsa maupun negara. Dan juga, tentunya generasi muda tentunya harus mampu melatih pola pikir dan harus bisa memilah informasi yang benar maupun informasi yang salah, yang semakin mudah tersebar di era pesatnya pertumbuhan teknologi sekarang ini.

Adapun nilai-nilai karakter yang mungkin perlu diberikan dalam proses pendidikan di era revolusi industri 4.0 yaitu: Bertakwa, bertanggung jawab, disiplin, jujur, sopan, peduli, kerja keras, sikap yang baik, toleransi, kreatif, mandiri,rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, menghargai, bersahabat, dan cinta damai. Salah satu tanda dari era revolusi 4.0 yaitu dengan otomatisasi dan konektifitas internet dengan perangkat serta teknologi lainya. Era ini membawa tantangan sekaligus peluang bagi peserta didik dalam lingkup pendidikan. Kemampuan menyiasati keadaan dan menjadikan segala sesuatu efisien serta dipermudah juga merupakan gaya hidup di era revolusi industri ke-4 ini.

Maka dari itu, peran dari pendidikan karakter serta cara beradaptasi dengan era revolusi industri 4.0 sangat dibutuhkan dan penting agar manusia dapat memanfaatkan era ini sebijak-bijaknya yang akan terus berkembang. Pendidikan karakter juga harus ditumbuhkan sedari dini agar semua manusia dapat mensejahterakan bangsa sejak kecil dengan cara mempunyai akhlak baik dan bijak dalam memanfaatkan perkembangan era revolusi industri 4.0. Karakter bangsa mengacu pada sebuah pola kepribadian yang relatif fungsional dan merupakan protipe antara anggota masyarakat dewasa. Banyak peserta didik yang memiliki potensi bakat yang sebenarnya belum mereka ketahui bahkan dikembangkan secara maksimal, begitu pula banyak peserta didik yang memiliki kecerdasan tetapi perilakunya belum mampu mencerminkan kepribadian luhur.

*Dosen dan Mahasiswa IAIN Batusangkar

 

 

No More Posts Available.

No more pages to load.