Breaking News
Live Update Berita Terkini

PEMERASAN VIA FB, AJAK KORBAN VIDEO CALL, REKAM DAN ANCAM SEBARKAN

Senin, 18 Mei 2020
Editor:
Soni Sonjaya SH., M.I.Kom, Pengamat New Media dan Dosen Fikom Uninus, Bandung
Dengarkan dgn suara Siap
11.6K pembaca

Laporan : Jumadi (JMSI), Editor : Mahmud Marhaba

BANDUNG [KP] – Kejahatan pemerasan melalui new media seperti facebook (FB) dan instragram (IG) merupakan kejahatan baru (new crime) seiring pesatnya perkembangan teknologi informasi komunikasi.

“Jika ada kata new media maka akan muncul juga new crime,” kata Pengamat New Media, Soni Sonjaya SH., M.I.Kom yang akrab disapa Soni Bebek.

Menurutnya harus ada kesadaran yang tinggi bagi setiap pengguna media, bahwa memberikan sesuatu yang bersifat pribadi harus sangat hati-hati.

“Sekarang – mohon maaf – efek munculnya tik tok membuat kita susah membedakan mana wanita yang baik-baik dengan wanita yang tidak baik- baik, berkaitan dengan goyangan-goyangan dan pakaian seksi,” tutur Soni yang juga Dosen di Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Islam Nusantara (Uninus) Bandung ini.

Contoh kasus melalui FB korban diajak atau dirayu untuk melakukan video call mesum kemudian direkam secara diam-diam dan diancam akan disebarkan jika tidak memberikan sejumlah uang.

Menghadapi kasus tersebut, kata Soni, korban pemerasan harus melapor ke pihak kepolisian karena tidak ada jaminan ketika diberi uang rekaman bakal dihapus.

“Perbuatan pemerasannya tetap tidak dibenarkan, karena tindakan penyebarannya tanpa alas hak yang benar. Aparat rasanya sudah dibekali modal undang-undang yang memadai sebagai landasan hukumnya, maka netizen pun harusnya melaporkannya. Naah, ini justru yang saya bilang yang dimaksud sebagai advantage bagi si pelaku black mail, karena mengetahui kelemahan si korban dari sisi rasa malu. Harusnya jangan tanggung, saat sudah terlanjur maka laporkan saja,” jelasnya.

Lebih lanjut Soni menyatakan bahwa saat ini media sosial sudah menjadi media mainstream yang berpengaruh besar.

“Ingat media sosial itu sudah menjadi media mainstream yang dampaknya sangat besar dan luas, maka harus bijak dalam menggunakannya, apalagi dengan memberikan video atau gambar seronok pada siapapun melalui media sosial”, pungkasnya. #*[KP]

No More Posts Available.

No more pages to load.