JAKARTA (kabarpublik.id) – Pengamat keamanan siber Pratama Persadha mengingatkan siswa, orang tua, dan pihak sekolah agar lebih berhati-hati saat mengunggah twibbon Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) di media sosial. Pasalnya, unggahan yang memuat data pribadi dapat dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan siber.
Pratama menjelaskan, tren membagikan twibbon MPLS memang memiliki nilai positif karena menunjukkan rasa bangga menjadi bagian dari sekolah baru. Namun, kebiasaan tersebut juga membawa risiko apabila informasi pribadi dipublikasikan secara terbuka.
“Semangat kebersamaan tentu baik, tetapi dari sisi keamanan siber dan perlindungan data pribadi, masyarakat perlu lebih bijak dalam membagikan informasi di media sosial,” ujarnya di Jakarta, Sabtu (18/7).
Ketua Cyber Security Research Center (CISSReC) itu menuturkan, informasi seperti foto wajah, nama lengkap, domisili, asal sekolah, hingga identitas lainnya dapat dikumpulkan melalui teknik Open Source Intelligence (OSINT). Metode ini memungkinkan pelaku menyusun profil digital seseorang hanya dari data yang tersedia secara terbuka di internet.
Menurut Pratama, semakin banyak informasi yang dibagikan secara sukarela, semakin mudah pula pelaku memetakan identitas korban tanpa perlu meretas akun.
Data tersebut kemudian dapat dimanfaatkan untuk menjalankan berbagai modus kejahatan, seperti social engineering, yakni upaya manipulasi dengan menyamar sebagai guru, panitia sekolah, teman, atau bahkan orang tua agar korban percaya.
Tak hanya itu, foto yang diunggah juga berpotensi disalahgunakan untuk membuat identitas palsu atau dimanipulasi menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
Ia juga mengingatkan adanya ancaman lain berupa perundungan digital, pelecehan daring, penguntitan, hingga pemantauan aktivitas anak. Dengan informasi yang tersedia di media sosial, pelaku dapat mengetahui sekolah korban, memperkirakan lokasi aktivitas sehari-hari, hingga mengenali lingkungan pergaulannya.
Menurut Pratama, kondisi tersebut sangat berbahaya karena anak-anak dan remaja umumnya belum memiliki kemampuan yang cukup untuk mengenali berbagai bentuk manipulasi digital.
Karena itu, ia mendorong sekolah dan orang tua meningkatkan literasi digital sejak dini agar anak memahami pentingnya menjaga data pribadi dan menyadari dampak jejak digital.
Pratama juga menyarankan agar informasi dalam twibbon MPLS dibatasi hanya pada data yang benar-benar diperlukan, misalnya cukup mencantumkan nama depan atau nama panggilan tanpa menyertakan identitas lain.
Ia menegaskan, twibbon MPLS tidak perlu dihindari, tetapi penggunaannya harus disertai kesadaran akan pentingnya melindungi data pribadi di ruang digital.





