Di Cobek Raksasa, Kota Surabaya Bercerita

Minggu, 10 Mei 2026
Peserta mengikuti Festival Rujak Uleg 2026 di Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (9/5/2026). Pemerintah Kota Surabaya menggelar festival bertema Rujak Phoria untuk menyambut HUT Ke-733 Kota Surabaya dengan konsep pesta Piala Dunia yang diikuti 136 tim dari komunitas, instansi pemerintah, dan swasta. ANTARA FOTO
Dengarkan dgn suara Siap
1.6K pembaca
SUARABAYA (Kabarpublik.id) – Di sebuah ruang luas yang berubah menjadi lautan manusia, cobek-cobek raksasa kembali menjadi pusat perhatian di Kota Surabaya, Jawa Timur, dalam Festival Rujak Uleg 2026.

Di Surabaya Expo Center, Sabtu (9/5) malam itu, aroma terasi, petis, dan buah segar berpadu dengan riuh tepuk tangan, sorak warga, serta gemerlap kostum bertema sepak bola dunia.

Festival yang menjadi bagian dari Hari Jadi Kota Surabaya (HJKS) ke-733 ini tidak lagi sekadar perayaan kuliner, melainkan pertunjukan sosial tentang bagaimana sebuah kota membangun dirinya melalui tradisi yang terus diremajakan.

Tema Rujak Phoria memberi lapisan baru dalam narasi budaya tersebut. Ia bukan hanya permainan kata dari “euforia”, tetapi juga strategi kultural untuk menghubungkan tradisi lokal dengan imajinasi global.

Di tengah arus modernisasi kota, rujak cingur tampil bukan sebagai artefak masa lalu, melainkan sebagai simbol identitas yang hidup dan terus dinegosiasikan.

Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi hadir di tengah kerumunan itu. Tidak dalam jarak formal yang kaku, tetapi menyatu dalam suasana pesta rakyat. Kehadirannya mempertegas pesan politik kultural yang ingin dibangun pemerintah kota bahwa festival ini adalah ruang kolektif, bukan panggung seremonial semata.

Interaksi langsung dengan warga, dari pengurus RW hingga komunitas kampus dan pelaku usaha, menunjukkan bagaimana ruang publik Surabaya sedang dirancang sebagai ruang kebersamaan.

Namun, di balik kemeriahan itu, tersimpan pertanyaan yang lebih dalam, yakni sejauh mana sebuah festival budaya mampu bertahan sebagai ruang makna, bukan sekadar ruang tontonan?

Ekonomi kreatif

Festival Rujak Uleg 2026 juga menegaskan pergeseran fungsi budaya dalam ekosistem kota modern. Data penyelenggaraan tahun sebelumnya menunjukkan perputaran ekonomi lebih dari satu miliar rupiah dengan puluhan ribu pengunjung.

Tahun ini, skala tersebut meningkat seiring masuknya festival dalam Karisma Event Nusantara (KEN), yang secara otomatis memperluas jangkauan promosi hingga tingkat nasional.

Dampaknya terlihat pada keterlibatan berbagai sektor. Hotel, agen perjalanan, pelaku UMKM, hingga industri kreatif lokal merasakan efek berantai dari satu agenda budaya ini. Rujak Uleg tidak lagi berdiri sendiri sebagai festival kuliner, tetapi telah menjadi simpul dalam jaringan ekonomi pariwisata kota yang lebih luas.

Di titik ini, Surabaya sedang memperlihatkan model baru pembangunan kota berbasis event. Kota tidak hanya mengandalkan infrastruktur fisik, tetapi juga kalender budaya sebagai penggerak ekonomi. Kehadiran konsep sport fashion, parade kreatif, hingga integrasi dengan tema global seperti Piala Dunia, menunjukkan upaya menjangkau generasi muda yang lebih visual dan digital.

Namun, transformasi ini juga membawa konsekuensi. Ketika budaya masuk dalam arus industri pariwisata, ada risiko reduksi makna. Rujak cingur yang semula hadir sebagai simbol keseharian masyarakat bisa bergeser menjadi komoditas tontonan. Di sinilah keseimbangan antara atraksi dan otentisitas menjadi kunci agar budaya tidak kehilangan akar sosialnya.

Surabaya sejauh ini mencoba menjawabnya melalui model partisipatif. Keterlibatan 36 meja RW, komunitas kampus, hingga pelaku sentra wisata kuliner menunjukkan bahwa festival ini tidak sepenuhnya elitis.

Festival itu tetap membuka ruang bagi warga untuk menjadi aktor utama, bukan hanya penonton. Namun keberlanjutan model ini tetap membutuhkan penguatan desain kebijakan agar tidak berhenti sebagai seremoni tahunan semata.

Tata kelola

Di balik gemerlap festival, tantangan tata kelola kota tetap menjadi isu yang tidak bisa diabaikan. Keramaian ribuan orang dalam satu ruang publik menuntut manajemen mobilitas, keamanan, dan lingkungan yang presisi. Penataan parkir, rekayasa lalu lintas, hingga pengelolaan sampah menjadi variabel penting yang menentukan kualitas festival.

Surabaya telah mengantisipasi sebagian aspek ini melalui penyediaan kantong parkir di area Surabaya Expo Center serta imbauan ketertiban bagi pengunjung. Namun tantangan yang lebih besar adalah bagaimana festival sebesar ini tetap berkelanjutan tanpa menambah beban ekologis kota.

Di sisi lain, integrasi festival dalam agenda pariwisata nasional juga menuntut standar baru. Masuknya Festival Rujak Uleg dalam Karisma Event Nusantara membawa ekspektasi bahwa event ini tidak hanya meriah, tetapi juga profesional, inklusif, dan berkelanjutan. Artinya, aspek lingkungan, dampak sosial, hingga distribusi manfaat ekonomi harus terus dievaluasi.

Solusi yang dapat dipertimbangkan ke depan adalah memperkuat ekosistem festival berbasis keberlanjutan. Pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan limbah organik dari kegiatan kuliner, serta penguatan transportasi publik menuju lokasi acara menjadi langkah yang tidak bisa ditunda.

Selain itu, digitalisasi sistem tiket dan informasi acara dapat membantu mengurangi kepadatan sekaligus meningkatkan pengalaman pengunjung.

Lebih jauh, festival ini juga bisa menjadi ruang edukasi publik tentang pangan lokal dan ketahanan budaya. Rujak cingur tidak hanya disajikan sebagai makanan, tetapi juga sebagai pintu masuk untuk memahami sejarah kota, jaringan perdagangan masa lalu, hingga dinamika sosial masyarakat pesisir Jawa Timur.

Festival Rujak Uleg 2026 memperlihatkan wajah Surabaya sebagai kota yang terus bergerak antara tradisi dan modernitas. Ia tidak hanya merayakan ulang tahun kota, tetapi juga sedang menguji sejauh mana identitas lokal mampu bertahan di tengah derasnya arus globalisasi budaya.

Rujak Phoria menjadi simbol bahwa kota ini ingin tetap riuh, tetapi juga ingin tetap memiliki akar. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah festival ini berhasil menarik massa, tetapi apakah ia mampu menjaga makna di tengah keramaian yang terus membesar dari tahun ke tahun. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.