“Untuk itu, isu perempuan harus terus disuarakan, baik melalui pemberitaan maupun konten yang inspiratif dan edukatif kepada masyarakat sehingga pembangunan juga berjalan merata,” katanya.
Dia mengatakan hal itu dalam lokakarya jurnalisme berperspektif GEDSI (Gender Equality, Disability, and Social Inclusion) yang merupakan rangkaian dari kegiatan World Press Freedom Day atau Hari Kebebasan Pers Sedunia, di Kota Jayapura, Papua, Selasa.
Dia menilai pemberitaan terkait perempuan Papua yang kuat dan berkualitas masih sangat kurang dan bahkan tidak menjadi prioritas dalam pemberitaan karena isu perempuan di daerah ini tidak terlalu menarik.
“Ini yang seharusnya menjadi perhatian bersama khususnya untuk rekan-rekan pers di Papua untuk terus memberikan informasi yang baik tentang perempuan. Perempuan harus menjadi prioritas,” ujarnya.
Sementara itu, jurnalis yang juga Kepala Perum LKBN ANTARA Biro Papua Hendrina Dian Kandipi mengajak sesama perempuan untuk saling menguatkan, mendukung, bukan saling menjatuhkan.
“Solidaritas antarperempuan menciptakan ruang aman untuk berbagai dan juga mengangkat harkat dan martabat perempuan,” katanya.
Dia berharap perempuan di Papua terus menunjukkan kemampuan untuk berkembang secara setara.
Hal senada juga disampaikan Ketua Perkumpulan Penyandang Disbalitas Fisik Indonesia Papua Roby Nyon, yang menyoroti permasalahan sosial seperti kehidupan masyarakat disabilitas dan ketidakadilan gender di Papua masih minim pemberitaannya.
“Sehingga kami berharap melalui kegiatan ini para jurnalis di Papua lebih banyak mengangkat isu-isu sosial,” katanya.
Dia juga berharap supaya kaum perempuan dan disbalitas terlibat dalam perumusan kebijakan pemerintah sehingga ke depan pembangunan berkelanjutan dapat dirasakan kelompok rentan. (ant)





