Tokyo – Pemerintah Jepang mengungkapkan bahwa lebih dari 70 persen fasilitas penginapan di negara itu mengalami kekurangan tenaga kerja di tengah meningkatnya jumlah wisatawan asing.
Temuan tersebut tercantum dalam laporan tahunan sektor pariwisata yang dirilis pemerintah Jepang pada Jumat (10/7). Berdasarkan survei terhadap 522 hotel dan penginapan yang dilakukan pada Desember 2025 hingga Januari 2026, sebanyak 72,2 persen responden menyatakan mengalami kekurangan pekerja.
Para pengelola menyebut meningkatnya beban kerja selama musim liburan dan periode kunjungan wisatawan yang padat menjadi tantangan utama yang harus segera diatasi.
Untuk mengurangi tekanan tersebut, pemerintah mendorong pelaku usaha memperluas penggunaan teknologi otomatisasi, seperti sistem
check-in
mandiri dan robot pelayan makanan. Penggunaan teknologi dinilai dapat meningkatkan efisiensi operasional, kualitas layanan, serta membantu perusahaan memperbaiki kesejahteraan pekerja melalui peningkatan produktivitas.
Sektor pariwisata saat ini menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Jepang. Lonjakan wisatawan asing didorong oleh melemahnya nilai tukar yen terhadap mata uang utama dunia, termasuk dolar AS, sehingga biaya perjalanan ke Jepang menjadi lebih terjangkau bagi turis mancanegara.
Meski industri pariwisata global sempat terdampak ketegangan di Timur Tengah, Jepang tetap mencatat rekor baru dengan lebih dari 40 juta wisatawan asing pada 2025, angka tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut. Pengeluaran wisatawan juga mencapai rekor tertinggi.
Pemerintah Jepang menargetkan jumlah kunjungan wisatawan asing meningkat menjadi 60 juta orang pada 2030.
Krisis tenaga kerja sendiri tidak hanya terjadi di sektor pariwisata. Jepang menghadapi masalah struktural akibat rendahnya angka kelahiran dan cepatnya penuaan penduduk. Kondisi tersebut membuat pasokan tenaga kerja menyusut di berbagai sektor ekonomi.
Di sektor jasa, tantangan menjadi lebih berat karena tingkat upah umumnya lebih rendah dibandingkan sektor manufaktur. Situasi ini mendorong Jepang, yang selama ini dikenal memiliki kebijakan imigrasi ketat, untuk secara bertahap membuka peluang bagi lebih banyak pekerja asing.




