Breaking News
Live Update Berita Terkini

Islam dan Indonesia yang Ramah di Masjid Al-Hikmah New York

Rabu, 22 Jul 2026
Editor: Jamalul Insan
Masjid Al-Hikmah yang dikelola Komunitas Muslim Indonesia di New York, Amerika Serikat. (ANTARA/Michael Siahaan)
Dengarkan dgn suara Siap
2.9K pembaca

NEW YORK, AS   (Kabarpublik.id) – Begitu melihat saya berada di depan pintu masuk Masjid Al-Hikmah, New York, Amerika Serikat, seorang anggota jamaah langsung menawarkan untuk masuk.

“Wah, terima kasih, Pak. Namun, saya bukan Muslim, apakah bisa?” ujar saya memastikan.

Diiringi senyum, laki-laki itu menjawab, “Masjid ini terbuka untuk semua orang”.

Saya menjadi yakin dan mengikuti langkahnya. Kami mengarah ke sebuah ruang makan mini di pojok masjid.

“Ini ada pizza, karena kebetulan tadi ada acara. Kalau mau kopi atau teh, ada juga. Silakan, silakan,” tutur dia.

Seketika, muncul kehangatan dalam pertemuan tersebut. Pembicaraan pun mengalir akrab, sampai akhirnya saya disambut oleh Imam Masjid Al-Hikmah, Rasul Amin.

Rasul, pria asal Sulawesi Selatan, menyapa dengan sikap kekeluargaan khas Indonesia.

“Selamat datang, Mas, di Masjid Al-Hikmah,” kata dia.

Rasul begitu antusias ketika menjelaskan soal Masjid Al-Hikmah, yang dikelola oleh Komunitas Muslim Indonesia dan beralamat di 48-01 31st Ave, Astoria, New York 11103.

Meski dijalankan oleh komunitas Indonesia, jamaah masjid tersebut bukan cuma orang Indonesia, tetapi juga datang dari negara lain seperti Amerika Serikat, Pakistan, Bangladesh dan India.

“Masjid ini bisa menampung sekitar 700 orang,” ujar Rasul.

Nyaris 31 tahun sudah Masjid Al-Hikmah dan Komunitas Muslim Indonesia bergerak mengenalkan keramahan Islam di Amerika Serikat (AS), khususnya New York.

Bangunan Masjid Al-Hikmah, masjid Indonesia pertama di AS itu awalnya adalah bekas gudang yang dibeli oleh The Indonesian Muslim Community, Inc (IMCI) pada pertengahan tahun 1990-an.

Uang pembelian itu didapatkan dari penggalangan dana oleh IMCI. Para pemberi sebagian besarnya adalah pengusaha di Indonesia.

IMCI, saat itu dipimpin Prang Sakirman, mulanya merupakan organisasi yang dibentuk oleh kelompok pengajian umat Muslim asal Indonesia di New York City dengan tugas mencari dan mengakuisisi bangunan untuk mendirikan sebuah masjid.

Diaspora Musim Indonesia di sana merasa perlu memiliki tempat permanen dan luas untuk melaksanakan shalat, pengajian dan kegiatan-kegiatan Islami lainnya. Sebelum ada masjid tersebut, aktivitas pengajian mereka dilaksanakan dari rumah ke rumah dan sempat pula harus meminjam gedung KJRI New York karena jumlah anggotanya semakin ramai.

Setelah mendapatkan lokasi dan tempat yang cocok untuk masjid, renovasi besar-besaran dilakukan. Pada 17 Agustus 1995, tepat 50 tahun Kemerdekaan Indonesia, Masjid Al-Hikmah yang berarti Masjid Kebijaksanaan berdiri.

Dua bulan berikutnya, Oktober 1995, IMCI mendapatkan suntikan dana sekitar 150 ribu dolar AS dari Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila yang diketuai Presiden kedua Indonesia, Soeharto, untuk mengembangkan masjid tersebut. Masjid Al-Hikmah yang megah pun kokoh sampai kini.

Interfaith

Keberadaan Masjid Al-Hikmah di New York dianggap sebagai oase, tidak hanya bagi umat muslim Indonesia di sana, tetapi juga pemeluk agama Islam dari negara lain.

“Rasanya semua komunitas (yang ada di sekitar Masjid Al-Hikmah, red) berkumpul di sini, bukan hanya dari Indonesia. Banyak sekali hal baik dari masjid ini,” ujar Sami Zaman, warga New York yang menjadi bagian dari jamaah Al-Hikmah dan tinggal tidak jauh dari masjid itu.

Sami Zaman menyebut, masyarakat Muslim di sekitar selalu memandang positif Masjid Al-Hikmah karena kontribusi mereka. Yang berkesan baginya justru hal-hal paling sederhana seperti mengajarkan Al Quran kepada anak-anak dan juga orang dewasa.

Bagi masyarakat selingkung Masjid Al-Hikmah, perhatian “kecil” itu sangat berharga. Mereka merasa diperhatikan dan diayomi sebagai sebuah keluarga besar.

Menurut Rasul Amin, Masjid Al-Hikmah memang memiliki banyak kegiatan untuk mempererat tali silaturahmi umat, termasuk para diaspora Indonesia.

Imam Masjid Al-Hikmah, Rasul Amin. (ANTARA/Michael Siahaan)

Setiap Rabu, contohnya, ada kegiatan Rabu Halaqah. Sabtu, ada youth programme untuk anak-anak muda. Hari Minggu, giliran pengajian untuk laki-laki.

Per bulannya, Masjid Al-Hikmah mengadakan pula pengajian besar gabungan dan bazar yang menampilkan makanan Indonesia. Pada momen bazar itu, bukan cuma penganut Islam yang berpartisipasi.

“WNI yang baru pulang dari gereja biasanya juga ikut datang, lalu makan di sini. Jadi, kalau yang tinggal atau sedang di New York rindu masakan Indonesia, silakan datang,” kata Rasul.

Dari sekian banyak aktivitas itu, yang paling menarik adalah program interfaith atau dialog lintas agama. Masjid Al-Hikmah sudah menggulirkan agenda itu selama bertahun-tahun.

Rasul menyebut, dialog lintas agama Masjid Al-Hikmah diasuh langsung oleh cendekiawan Muslim ternama, Imam Shamsi Ali.

Dalam program itu, Masjid Al-Hikmah menerima kunjungan dari agama atau kepercayaan lain untuk belajar tentang Islam. Atau, pihak dari Masjid Al-Hikmah yang ke rumah ibadah lain dan berbagi ilmu di sana.

Bagi pengurus Masjid Al-Hikmah, keterbukaan menjadi sarana terbaik untuk mewartakan keramahan Islam sekaligus kehangatan masyarakat Indonesia.

Islam, Rasul melanjutkan, idealnya dipandang sebagai agama yang memberikan ketenteraman, apalagi di tengah kompleksitas hubungan antarmanusia di Amerika Serikat yang beragam.

Di Masjid Al-Hikmah, dialog antaragama itu berlangsung cukup sering, bisa sampai tiga kali sebulan.

Semangat untuk membangun jembatan di tengah perbedaan itu semakin mengukuhkan posisi Masjid Al-Hikmah dan Komunitas Muslim Indonesia di Amerika Serikat.

Kesejukan Islam dan kesantunan Indonesia yang selalu ditonjolkan terasa semakin bermakna lantaran negara seperti Amerika Serikat kerap dilanda islamofobia.

Dewan Hubungan Amerika-Islam atau Council on American-Islamic Relations (CAIR) pada Maret 2026 menyatakan, islamofobia dan permusuhan yang menargetkan komunitas muslim di Amerika terus meningkat di seluruh negeri.

CAIR mencatat, pada 2025, mereka menerima 8.683 pengaduan terkait permasalahan tersebut dari seluruh negara bagian AS.

“Itu menjadi yang tertinggi sejak tahun 1996,” tulis mereka.

Kondisi di AS tersebut bukannya tidak disadari oleh pihak Masjid Al-Hikmah dan Komunitas Muslim Indonesia.

Akan tetapi, mereka yakin, dengan konsisten memamerkan kehangatan, persahabatan dan keterbukaan, Islam mendapatkan tempat di tengah kemajemukan AS.

“Itulah kenapa dalam program interfaith, fokus kami adalah diskusi, berbagi pengetahuan dan saling mendengar, bukan berdebat dan menyerang satu sama lain,” ujar Rasul Amin. (ant)

No More Posts Available.

No more pages to load.