MOSKOW (kabarpublik.id) – Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan Amerika Serikat (AS) karena dinilai memuat tuntutan yang berlebihan dari Washington. Penolakan tersebut dilaporkan media Iran, Press TV, pada Minggu (11/5/26).
Sebelumnya, kantor berita Iran ISNA melaporkan bahwa respons Teheran terhadap proposal AS berfokus pada upaya mengakhiri konflik serta menjamin keamanan pelayaran di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Presiden AS Donald Trump menyebut tanggapan Iran terhadap proposal perdamaian Washington sebagai sesuatu yang βtidak dapat diterimaβ.
Menurut laporan Press TV, Iran juga menegaskan perlunya AS membayar kompensasi atas kerugian perang yang dialami Teheran.
Pada awal Mei, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran mengonfirmasi bahwa Teheran telah menerima respons AS terhadap proposal perdamaian 14 poin yang diajukan Iran melalui perantara Pakistan.
Sementara itu, kantor berita Tasnim melaporkan usulan Iran untuk melanjutkan negosiasi dengan AS mencakup sejumlah poin penting, antara lain pencabutan sanksi ekonomi, kontrol penuh Iran atas Selat Hormuz, serta pencairan aset-aset Iran yang dibekukan di luar negeri.
Konflik memanas setelah AS dan Israel melancarkan serangan gabungan ke Iran pada 28 Februari lalu. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 3.000 orang.
Washington dan Teheran kemudian menyepakati gencatan senjata pada 8 April. Namun, perundingan damai yang berlangsung di Islamabad hingga kini belum menghasilkan kesepakatan jangka panjang.
Meski serangan militer telah mereda, AS disebut masih memberlakukan blokade terhadap sejumlah pelabuhan Iran. Hingga kini, mediator internasional masih berupaya memfasilitasi putaran baru perundingan antara Washington dan Teheran. (ANT)



