Dibuka menguat, IHSG pukul 09.50 WIB bergerak melemah 31,22 poin atau 0,61 persen ke posisi 5.065,61. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 1,77 poin atau 0,34 persen ke posisi 516,12.
“IHSG potensi bergerak di kisaran resistance 5.182 atau 5.249 atau 5.268. Sedangkan jika skenario kembali volatile melemah, IHSG diperkirakan rentan kembali menguji support terdekat di 4.980 atau 4.907. Jika breakdown IHSG bisa lanjut menuju support terdekat 4.800,” ujar Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia dalam kajiannya di Jakarta, Selasa.
Dari mancanegara, prospek hubungan antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran menunjukkan perkembangan yang lebih konstruktif setelah kedua negara kembali membuka peluang penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi.
Presiden AS Donald Trump menyatakan Iran ingin mencapai kesepakatan dan berpotensi terwujud. Sementara, pemimpin Tertinggi Iran juga telah menyetujui langkah pemerintah untuk melanjutkan pembicaraan guna mengakhiri konflik yang berlangsung selama beberapa bulan.
Selain itu, Trump dilaporkan lebih memilih memberikan waktu bagi negosiasi dibandingkan kembali mempertimbangkan tindakan militer.
Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio menegaskan preferensi AS terhadap penyelesaian damai, sementara pejabat Iran menyampaikan bahwa kesepakatan masih memungkinkan tercapai melalui pembahasan yang dimediasi Qatar.
Sementara itu, Bank of Japan (BOJ) mempertahankan suku bunga kebijakan di level 1,25 persen, atau sesuai ekspektasi pasar. Keputusan itu mencerminkan sikap BoJ yang masih mempertahankan kebijakan moneternya di tengah perkembangan ekonomi dan inflasi.
Selanjutnya, pelaku pasar juga bersiap menghadapi keputusan suku bunga dari bank sentral Inggris, Australia, Norwegia, dan Swedia sepanjang pekan ini.
Dari AS, pemilihan paruh waktu pada Selasa (3/11) menjadi perhatian karena hasilnya berpotensi mempengaruhi arah kebijakan pemerintah dan regulasi di berbagai sektor ekonomi.
Dari dalam negeri, kinerja ekonomi Indonesia menunjukkan penguatan pada Oktober 2026, tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang meningkat menjadi 54 dari 52,4 pada bulan sebelumnya, atau level ekspansi tertinggi sejak Maret 2024.
Kemudian, neraca perdagangan Indonesia pada September 2026 mencatatkan surplus 3,36 miliar dolar AS, sehingga surplus kumulatif Januari hingga September 2026 mencapai 10,61 miliar.
Adapun, nilai ekspor nasional tumbuh 5,58 persen year on year (yoy) menjadi 221,23 miliar dolar AS. Sementara inflasi Oktober tercatat sebesar 3,23 persen (yoy) dan 0,22 persen month to month (mtm), dengan inflasi tahun kalender sebesar 2,4 persen atau masih berada dalam rentang sasaran pemerintah sebesar 2,5 plus minus 1 persen.
Bursa Eropa kompak menguat pada Senin (02/11), diantaranya Euro Stoxx 50 menguat 0,78 persen, indeks FTSE 100 Inggris menguat 0,29 persen, indeks DAX Jerman menguat 0,63 persen, sementara indeks CAC 40 Prancis naik 0,98 persen.
Bursa Wall Street AS bergerak variatif pada Senin (02/11), diantaranya indeks S&P 500 turun 0,5 persen ke level 7.542,92, indeks Nasdaq Composite melemah 1,1 persen ke 25.164,32, sementara Dow Jones Industrial Average naik 0,4 persen ke 51.986,30
Bursa saham regional Asia pagi ini, indeks Nikkei melemah 0,33 persen ke 63.081,86, indeks Shanghai melemah 0,86 persen ke 3.606,74, indeks Hang Seng menguat 0,17 persen ke 23.466,95, indeks Kospi melemah 3,10 persen ke 5.675,17, dan indeks Straits Times melemah 0,57 persen ke 5.273,83. (ant)





