TANGERANG (kabarpublik.id) – Masjid An-Noor, Ciputat, Tangerang Selatan, menjadi pusat perayaan Idulfitri 1447 H/2026 M yang berlangsung dengan penuh kekhidmatan. Sejak pagi hari, ribuan jemaah telah memadati area masjid, memenuhi ruang utama hingga halaman, dalam suasana yang sarat nuansa religius dan kebersamaan. Gema takbir yang mengalun menciptakan atmosfer spiritual yang menggetarkan, menandai puncak perjalanan ibadah Ramadan.
Kehadiran jemaah dari berbagai kalangan mencerminkan kuatnya semangat umat dalam menyambut hari kemenangan. Dengan balutan busana terbaik, mereka datang tidak hanya untuk merayakan, tetapi juga untuk meneguhkan kembali nilai-nilai keimanan yang telah ditempa selama sebulan penuh.
Dalam penutup khotbah Idulfitri, Prof. Dr. H. Ahmad Tholabi Kharlie, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menyampaikan pesan yang menekankan pentingnya menjaga warisan Ramadan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan gaya tutur yang tenang dan reflektif, ia mengajak jemaah untuk tidak berhenti pada euforia hari raya.
“Marilah kita menjaga warisan Ramadan dalam kehidupan kita,” ujarnya. Ia kemudian merumuskan tiga warisan utama yang harus dirawat: konsistensi dalam ibadah, kemuliaan akhlak, serta kekuatan persaudaraan antarsesama.
Menurutnya, keberhasilan Ramadan tidak diukur dari berlalunya waktu, tetapi dari keberlanjutan nilai-nilai yang ditanamkan selama bulan suci. “Salah satu tanda diterimanya amal adalah ketika kebaikan itu terus berlanjut setelahnya,” katanya. Ia menegaskan bahwa satu kebaikan akan melahirkan kebaikan berikutnya, membentuk mata rantai kebajikan dalam kehidupan seorang Muslim.
Pesan tersebut disampaikan dengan penuh harap, agar jemaah mampu menjaga kesinambungan spiritual setelah Ramadan. Dalam pandangannya, tantangan sesungguhnya justru dimulai ketika bulan suci telah berlalu dan manusia kembali pada rutinitas kehidupan.
“Idulfitri bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan spiritual yang lebih panjang,” tegasnya. Pernyataan ini memperkuat makna Idulfitri sebagai titik tolak untuk mempertahankan kualitas iman dan takwa dalam kehidupan sehari-hari.
Suasana haru semakin terasa ketika khotbah memasuki bagian doa. Dengan suara yang penuh penghayatan, Prof. Tholabi memimpin doa-doa yang diaminkan oleh ribuan jemaah dengan penuh kekhusyukan. Momen tersebut menjadi puncak emosional yang menyatukan harapan kolektif umat.
Ia juga mendoakan kebaikan bagi bangsa dan negara. “Semoga negeri ini menjadi negeri yang aman, damai, dan penuh keberkahan,” ujarnya, seraya berharap umat Islam senantiasa berada dalam kebaikan dan persatuan.
Khotbah ditutup dengan ajakan untuk menjaga iman, takwa, dan solidaritas sosial sebagai fondasi kehidupan bermasyarakat. Nilai-nilai keadilan, kebaikan, dan kepedulian sosial ditekankan sebagai bagian tak terpisahkan dari ajaran Islam.
Perayaan Idulfitri di Masjid An-Noor pun berakhir dalam suasana penuh kebahagiaan dan kehangatan. Namun lebih dari itu, khotbah yang disampaikan meninggalkan pesan mendalam: bahwa Ramadan bukan sekadar kenangan, melainkan cahaya yang harus terus dijaga sepanjang hayat.







