Haidar Alwi Soroti Peluang Minyak Diskon Iran-Rusia yang Belum Dimanfaatkan Indonesia

Jumat, 27 Mar 2026
Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI) sekaligus Wakil Ketua Dewan Pembina Ikatan Alumni ITB, R. Haidar Alwi. (Ist)
Dengarkan dgn suara Siap
24.8K pembaca

JAKARTA (kabarpublik.id) – Pendiri Haidar Alwi Institute (HAI), R. Haidar Alwi, menyoroti sikap pemerintah Indonesia yang dinilai belum sigap memanfaatkan peluang di tengah gejolak harga energi global.

Menurutnya, ketika sejumlah negara mulai bergerak memanfaatkan relaksasi terbatas sanksi Amerika Serikat terhadap minyak Iran dan Rusia, Indonesia justru masih berada pada tahap pemantauan.

Gambar konten
Sumber: Kabarpublik.id

“Di saat negara lain bergerak cepat, Indonesia masih terlihat ragu dan belum mengambil langkah konkret,” ujar Haidar dalam pernyataannya di Jakarta, Jumat (27/3/26).

Ia menilai kondisi tersebut berpotensi merugikan, mengingat Indonesia masih sangat bergantung pada impor minyak. Fluktuasi harga global, kata dia, berdampak langsung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk beban subsidi energi.

Haidar menyebut, minyak dari Iran dan Rusia yang dijual dengan harga lebih rendah akibat tekanan sanksi seharusnya menjadi peluang strategis untuk menekan biaya impor energi.

“Dalam situasi seperti sekarang, akses terhadap minyak diskon bukan sekadar opsi, tetapi kebutuhan strategis,” tegasnya.

Ia juga menyinggung sikap PT Pertamina yang dinilai masih berhati-hati dan belum membuka opsi pembelian dari kedua negara tersebut.

Menurutnya, relaksasi sanksi yang diberikan membuka ruang hukum bagi negara-negara untuk menyesuaikan kebijakan energi sesuai kepentingan nasional, meskipun tetap dalam batas tertentu.

Haidar membandingkan langkah Indonesia dengan beberapa negara Asia yang dinilai lebih progresif dalam memanfaatkan peluang tersebut.

“Kita tidak sedang bicara ideologi, tetapi kepentingan nasional. Setiap efisiensi impor akan berdampak langsung pada stabilitas ekonomi,” ujarnya.

Ia menegaskan, momentum ini bersifat sementara sehingga membutuhkan respons cepat dari pemerintah. Jika tidak dimanfaatkan, Indonesia berisiko kehilangan peluang untuk menekan biaya energi.

Haidar mendorong pemerintah agar segera memberikan mandat jelas kepada Pertamina untuk mengambil langkah oportunistik dengan tetap mematuhi ketentuan hukum internasional.

Selain itu, ia juga menekankan pentingnya memperkuat diplomasi energi agar Indonesia tidak hanya bersikap reaktif terhadap dinamika global.

No More Posts Available.

No more pages to load.