JAKARTA (kabarpublik.id) – Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah konsultan intervensi serta konsultan aritmia, Prof. Dr. dr. Yoga Yuniadi, Sp.JP(K), FIHA, mengingatkan bahwa penyakit rematik jantung yang dialami pada masa remaja dapat menyebabkan kebocoran atau penyempitan katup jantung ketika memasuki usia dewasa.
“Dalam banyak kasus, seseorang yang mengalami penyakit rematik jantung saat remaja baru merasakan dampaknya pada usia 30-an, berupa kebocoran atau penyempitan katup jantung,” kata Prof. Yoga dalam acara yang digelar Primaya Hospital Kelapa Gading di Jakarta, Sabtu (27/6).
Penyakit rematik jantung merupakan komplikasi dari demam rematik akut yang dipicu oleh infeksi bakteri Streptococcus pada saluran pernapasan, khususnya radang tenggorokan, yang tidak ditangani secara optimal. Kondisi ini dapat menyebabkan kerusakan pada katup jantung dalam jangka panjang.
Prof. Yoga menjelaskan, infeksi tenggorokan pada anak-anak yang ditandai dengan nyeri saat menelan dan lendir berwarna hijau tidak boleh dianggap sepele. Penanganan yang terlambat dapat meningkatkan risiko terjadinya komplikasi pada jantung.
- Bicara di Indonesia International Valuation Conference, Wamen Ossy Tegaskan Proses Pengadaan Tanah Prioritaskan Keberlanjutan Hidup Masyarakat
- PEMKAB BONEBOL TERUS PERKENALKAN PEMANFAATAN ALSINTAN PADA PETANI. INI ALASANNYA.
- Puncak Peringatan HUT Ke-76 Persit Kartika Chandra KIRANA di Ternate berlangsung khidmat
“Jika anak mengalami infeksi saluran pernapasan disertai nyeri menelan dan dahak berwarna hijau, segera periksakan dan obati. Jika penyebabnya adalah bakteri Streptococcus, toksinnya dapat memicu kerusakan pada jantung,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa kerusakan jantung akibat infeksi tersebut tidak terjadi secara langsung, melainkan dapat muncul 10 hingga 15 tahun kemudian.
Jantung manusia memiliki empat katup utama, yaitu katup trikuspid, katup mitral, katup aorta, dan katup pulmonal. Gangguan pada katup jantung dapat berupa penyempitan sehingga katup sulit membuka, maupun kebocoran yang menyebabkan aliran darah tidak berjalan optimal.
Selain penyakit rematik jantung, gangguan katup jantung juga dapat dipicu oleh kelainan irama jantung, seperti fibrilasi atrium yang berlangsung lama. Kondisi kesehatan lain, seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan kebiasaan merokok, juga berperan dalam meningkatkan risiko penyakit jantung yang berdampak pada fungsi katup.
Menurut Prof. Yoga, pencegahan menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung, antara lain dengan mengontrol tekanan darah, menjaga berat badan ideal, mengendalikan kadar gula darah, serta menghindari kebiasaan merokok.
“Kita harus mencegah faktor risiko penyakit jantung dengan menjaga tekanan darah tetap normal, menghindari obesitas, tidak merokok, dan mengendalikan diabetes,” kata Prof. Yoga.







