Breaking News
Live Update Berita Terkini

Dokter Ungkap Konsumsi Garam Berlebih Tingkatkan Risiko Penyakit Ginjal pada Anak

Jumat, 19 Jun 2026
Editor: Eky
Penulis: @ANT
Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi Rumah Sakit Pondok Indah dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro dalam diskusi kesehatan ginjal di Jakarta, Jumat (19/6/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)
Dengarkan dgn suara Siap
3.1K pembaca

Jakarta (kabarpublik.id) – Tingginya konsumsi makanan yang mengandung garam atau natrium serta perubahan pola hidup menjadi faktor yang meningkatkan risiko penyakit ginjal pada anak. Kondisi tersebut juga berkontribusi terhadap meningkatnya kasus obesitas yang dapat memicu gangguan ginjal sejak usia dini.

Dokter Spesialis Anak Subspesialis Nefrologi Rumah Sakit Pondok Indah, dr. Henny Adriani Puspitasari, Sp.A., Subsp.Nefro, mengatakan pola makan tinggi natrium menjadi salah satu penyebab meningkatnya angka obesitas pada anak.

“Pergeseran gaya hidup, terutama konsumsi makanan dengan kandungan natrium tinggi, menyebabkan semakin banyak anak mengalami obesitas,” ujar Henny dalam diskusi kesehatan ginjal di Jakarta, Jumat (19/6).

Menurutnya, anggapan bahwa penyakit ginjal hanya menyerang orang dewasa kini tidak lagi tepat. Dalam praktik klinis, kasus gangguan ginjal pada anak semakin sering ditemukan.

Henny menjelaskan, obesitas dapat meningkatkan risiko hipertensi yang menjadi salah satu faktor utama penyebab penyakit ginjal kronik. Anak yang mengalami kelebihan berat badan memiliki beban kerja organ tubuh yang lebih tinggi, termasuk ginjal, sehingga berisiko mengalami penurunan fungsi ginjal dalam jangka panjang.

Selain faktor gaya hidup, gangguan ginjal pada anak juga dapat dipengaruhi oleh kondisi prenatal dan neonatal, seperti kelahiran prematur serta berat badan lahir rendah.

Ia menjelaskan bahwa proses pembentukan ginjal dimulai sejak usia kehamilan delapan minggu dan umumnya selesai pada usia kehamilan sekitar 36 minggu. Karena itu, bayi yang lahir prematur berpotensi memiliki perkembangan ginjal yang belum optimal.

“Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi karena proses pembentukan ginjal belum sepenuhnya selesai,” katanya.

Henny menekankan pentingnya pemantauan kesehatan secara berkala bagi anak yang memiliki faktor risiko tersebut agar gangguan ginjal dapat dideteksi dan ditangani lebih dini.

Untuk menjaga kesehatan ginjal anak, orang tua disarankan membiasakan pola makan sehat dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayur, membatasi makanan tinggi garam, serta mengurangi makanan olahan yang mengandung natrium tinggi.

Selain itu, anak perlu didorong untuk aktif bergerak dan berolahraga setiap hari guna menjaga berat badan ideal serta menurunkan risiko penyakit metabolik.

Menurut Henny, penerapan gaya hidup sehat sejak dini merupakan langkah penting untuk menjaga fungsi ginjal anak hingga dewasa.

No More Posts Available.

No more pages to load.