JAKARTA (kabarpublik.id) – Hantavirus atau virus hanta menjadi perhatian dunia kesehatan setelah munculnya sejumlah kasus pada kapal pesiar MV Hondius.
Virus ini dikenal sebagai penyakit zoonotik, yaitu penyakit yang ditularkan dari hewan ke manusia, terutama melalui hewan pengerat seperti tikus dan mencit liar. Meski jumlah kasusnya tidak sebanyak COVID-19 atau influenza, hantavirus tetap dianggap berbahaya karena dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru dan ginjal dengan tingkat kematian yang cukup tinggi.
Kejadian pada kapal pesiar tersebut menunjukkan bahwa virus hanta masih menjadi ancaman kesehatan global yang perlu diwaspadai, terutama di tengah tingginya mobilitas manusia dan interaksi dengan lingkungan alami.
Secara ilmiah, hantavirus termasuk dalam famili Hantaviridae dan genus Orthohantavirus. Virus ini memiliki materi genetik berupa RNA untai tunggal negatif yang memiliki fungsi penting dalam pembentukan protein virus dan proses reproduksi atau perbanyakan virus di dalam tubuh inang.
Hantavirus juga memiliki lapisan pelindung berupa envelope lipid yang dilengkapi glikoprotein pada permukaannya. Protein tersebut berfungsi membantu virus menempel dan masuk ke dalam sel manusia.
Salah satu sifat penting hantavirus adalah kemampuannya berkembang biak di dalam sitoplasma sel inang. Virus yang telah terbentuk kemudian keluar dari sel dan menginfeksi sel lain. Proses ini menyebabkan kerusakan pada jaringan tubuh, terutama pembuluh darah kecil dan organ vital seperti paru-paru dan ginjal.
Hantavirus memiliki sifat menyerang sel endotel pembuluh darah sehingga meningkatkan kebocoran pembuluh darah. Akibatnya, cairan dapat keluar ke jaringan tubuh dan memicu pembengkakan paru, gangguan pernapasan, hingga kerusakan ginjal.
Kondisi tersebut menjadi penyebab munculnya dua sindrom utama akibat infeksi virus hanta, yaitu Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang banyak menyerang ginjal dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan. Pada kasus berat, penderita dapat mengalami gagal napas atau gagal ginjal yang berujung pada kematian.
Rodensia (hewan pengerat) menjadi reservoir alami utama hantavirus. Beberapa hewan yang diketahui membawa virus ini antara lain tikus rumah, tikus sawah, dan mencit liar. Menariknya, hewan pembawa hantavirus umumnya tidak menunjukkan gejala sakit sehingga dapat menyebarkan virus dalam waktu lama tanpa terdeteksi.
Virus ditemukan pada urin, air liur, dan feses rodensia. Ketika kotoran atau urin tersebut mengering, partikel virus dapat bercampur dengan debu dan beterbangan di udara. Saat manusia menghirup udara yang telah terkontaminasi, virus dapat masuk melalui saluran pernapasan dan mulai menginfeksi tubuh.
Penularan melalui inhalasi partikel debu yang terkontaminasi menjadi jalur utama penyebaran hantavirus. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan benda yang tercemar ekskreta (tinja, air kencing, keringat) tikus atau melalui gigitan rodensia, walaupun kasusnya lebih jarang ditemukan.
Sebagian besar jenis hantavirus tidak mudah menular antarmanusia. Namun, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Andes virus memiliki kemampuan penularan terbatas antarmanusia melalui kontak erat dan berkepanjangan.
Kemampuan penularan tersebut menjadi perhatian dunia setelah terjadinya wabah pada kapal pesiar MV Hondius, April. Kapal ekspedisi yang melakukan perjalanan di wilayah Atlantik Selatan dan Antartika itu membawa lebih dari seratus penumpang dan awak kapal dari berbagai negara.
Selama perjalanan, sejumlah orang mengalami gejala gangguan pernapasan berat dan beberapa di antaranya meninggal dunia. Investigasi WHO kemudian mengonfirmasi adanya infeksi Andes hantavirus pada klaster kasus tersebut.
Kasus MV Hondius menarik perhatian internasional karena diduga terjadi penularan antarmanusia di lingkungan kapal yang tertutup. Kepadatan penumpang, ventilasi terbatas, serta interaksi intensif antarindividu diduga memperbesar risiko penyebaran virus.
Selain itu, aktivitas wisata alam yang melibatkan kontak dengan lingkungan liar juga diperkirakan menjadi sumber awal paparan rodensia pembawa virus. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa hantavirus tidak hanya menjadi ancaman di daerah pedesaan atau kawasan dengan sanitasi buruk, tetapi juga dapat muncul di lingkungan modern dengan mobilitas manusia yang tinggi.
Di Indonesia
Di Indonesia, hantavirus sebenarnya bukan penyakit baru. Berbagai penelitian nasional menunjukkan adanya paparan hantavirus pada populasi tikus di beberapa wilayah, terutama kawasan pelabuhan, permukiman padat, dan daerah pertanian.
Beberapa studi juga menemukan keberadaan Seoul virus pada tikus domestik di wilayah perkotaan. Selain itu, survei serologis menunjukkan adanya antibodi hantavirus pada kelompok masyarakat yang memiliki risiko tinggi kontak dengan rodensia, seperti petani, pekerja gudang, dan pekerja pelabuhan.
Meski laporan kasus klinis di Indonesia masih tergolong rendah dibandingkan negara seperti China atau Korea Selatan, kondisi lingkungan tropis Indonesia mendukung perkembangan populasi rodensia. Urbanisasi, sanitasi yang belum merata, kepadatan penduduk, dan pengelolaan sampah yang kurang baik menjadi faktor yang dapat meningkatkan risiko penyebaran penyakit zoonotik, termasuk hantavirus. Oleh karena itu, kewaspadaan terhadap penyakit ini tetap perlu ditingkatkan.
Dari sisi kesehatan masyarakat, hantavirus cukup sulit dikenali pada tahap awal karena gejalanya menyerupai influenza biasa, seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan tubuh lemas.
Pada kondisi yang lebih berat, infeksi dapat berkembang menjadi sesak napas akut, gangguan paru-paru, hingga gagal ginjal. Diagnosis hantavirus memerlukan pemeriksaan laboratorium khusus sehingga pada beberapa daerah, kasus berpotensi tidak terdeteksi dengan baik.
Pencegahan hantavirus pada dasarnya berfokus pada pengendalian rodensia dan kebersihan lingkungan. Masyarakat disarankan menjaga sanitasi rumah, menutup akses masuk tikus, menyimpan makanan dalam wadah tertutup, serta membersihkan area yang terkontaminasi menggunakan cairan disinfektan.
Membersihkan kotoran tikus secara kering menggunakan sapu tidak dianjurkan karena dapat menyebabkan partikel virus beterbangan dan terhirup manusia. Penggunaan masker dan sarung tangan saat membersihkan area berisiko juga menjadi langkah penting untuk mengurangi paparan virus.
Selain itu, pendekatan One Health yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan menjadi strategi penting dalam pengendalian hantavirus.
Pendekatan ini menekankan bahwa pengawasan penyakit zoonotik tidak cukup dilakukan hanya dari sisi medis, tetapi juga memerlukan pengendalian populasi hewan reservoir, pengelolaan lingkungan, serta edukasi masyarakat secara berkelanjutan.
Secara keseluruhan, hantavirus merupakan virus zoonotik yang memiliki kemampuan reproduksi cepat di dalam sel inang dan dapat menyebabkan kerusakan serius pada organ vital manusia.
Penularannya yang berkaitan erat dengan rodensia menjadikan faktor lingkungan dan sanitasi sebagai aspek penting dalam pengendalian penyakit. Kejadian wabah pada kapal pesiar MV Hondius menjadi pengingat bahwa penyakit zoonotik tetap dapat menyebar di era mobilitas global.
Di Indonesia, meskipun kasus yang terlapor masih terbatas, keberadaan reservoir rodensia dan kondisi lingkungan tertentu menunjukkan bahwa pengawasan dan pencegahan hantavirus perlu terus diperkuat dan ditingkatkan melalui edukasi, surveilans, dan pengendalian faktor risiko lingkungan.
Oleh: Misbakhul Munir, SSi MKes, Dosen Biologi UINSA Surabaya



