Laporan : Diki Kusnadi / Editor : YR
Garut, [kabarpublik.id] -Terbongkarnya kasus cabul yang dilakukan HW (36) kepada 14 korbannya yang rata-rata di bawah umur, menyisakan trauma mendalam bagi korban. Mereka bagai terbangun dari mimpi indah dan tersadar harus menghadapi kenyataan buruk dalam kehidupannya, hamil, mengurus anak dan kehilangan semua cita-citanya.
Secara fisik, meski sudah mendapatkan pendampingan psykolog namun diantara para korban masih ada yang kondisi psikologisnya tidak stabil, sering melamun, menangis bahkan mengurung diri selama berhari-hari dalam kamar, tidak mau makan dan aaktifitas apapun.
Hal itu terungkap pada saat Kabarpublik.id menyambangi rumah korban di salah satu Kecamatan di Kabupaten Garut. Salah seorang korban, sebut saja Mawar ( 17) yang baru melahirkan bayi laki-laki berusia dua bulan, terlihat murung dan tatap matanya kosong, meski sesekali menjawab obrolan namun seringkali matanya menatap kosong, entah kemana.
..”Ya memang sering seperti itulah,kadang mengurung diri dalam kamar dan tidak mau makan, tidak mau keluar kamar dan hanya membawa bayinya dalam kamar,”ucap kedua orang tuanya kepada Kabarpublik.id Minggu, 12/12/2021.
Namun disisi lain, kepedihan hati orang tua Mawar semakin bertambah, selain harus menerima kenyataan pahit putrinya harus kehilangan mahkotanya dan kehilangan cita-citanya, kini mereka harus berjuang keras membesarkan bayi mungil berjenis kelamin laki-laki. Sementara pekerjaan orang tua Mawar hanyalah sebagai buruh tani dengan upah 50 ribu rupiah perhari tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan susu dan pemenuhan gizi ibunya.

.” Lengkap dan bertambah sudah Penderitaan kami, mungkin jika kami tidak pasrah terhadap Takdir Allah, entah apa yang akan terjadi. Sedangkan istri saya setiap hari menangis dan sering marah tanpa sebab, anak saya pun seringkali melamun, berdiam diri dan bahkan mengurung diri dalam kamar,”lirihnya.
Ditemui terpisah oleh Kabarpublik.id, Ketua LBH Serikat Petani Pasundan ( SPP ) Yudi Kurnia,SH.MH, membenarkan ada korban yang depresi pasca terbongkarnya kasus yang menyeret oknum guru ngaji HW.
Dikatakan Yudi, sekitar pertengahan Mei 2021, LBH SPP menerima pengaduan dari tiga orang korban, selanjutnya tanggal 18 Mei 2021, LBH SPP bersama orang tua dan korban membuat laporan kepada Kepolisian Daerah ( Polda ) Jawa Barat.
.” Benar, kami menerima pengaduan pertengahan Mei 2021 dan pada tanggal 18 Mei 2021 kami membuat laporan pengaduan ke Polda Jawa Barat dan Visum kepada korban, sekitar pertengahan Juni Pelaku HW ditangkap Kepolisian Daerah Polda Jawa Barat,”jelasnya.
Awal mula yang memberikan pengaduan, terangnya, hanya tiga orang dan kini menjadi sebelas orang termasuk satu orang dari Tasikmalaya, dari sebelas orang tersebut, delapan orang melahirkan bahkan ada yang sudah melahirkan dua kali sehingga ada sembilan orang bayi korban cabul HW yang kini dirawat orang tua korban.
Menurutnya, melihat kondisi psykologis para korban maka harus ada pemberatan hukuman terhadap ulah pelaku tersebut, tandas Yudi Kurnia,SH,MH. ( DK ).







