Laporan : Tim Group Media Publik/ JMSI, Editor : Mahmud Marhaba
BAOLEMO [KP] – Inilah sikap polos dari seorang Bupati Boalemo Darwis Moridu. Tanpa ada basa basi, tanda didasari oleh bujuk rayu dan hanya untuk membela kepentingan rakyat kecil yang mendukungnya hingga berada di ‘tahta’ kepemimpinan orang nomor 1 di Boalemo.
Haji Darwis Moridu, demikian dirinya lebih senang dipanggi tanpa dibumhungi embel-embel titel kesarjaaannya. Padahal, dirinya baru saja menggambil gelar Sarjana Hukum dengan susah payah.
“Saya bukan sarjana hukum, tapi mau hukum para sarjana,” demikian penggalan kalimat yang disampaikan Bupati Boaoemo Darwis Moridu saat Apel perdana yang dirangkaikan dengan halal bi halal, pemerintah daerah kabupaten Boalemo, Selasa, 26 Mei 2020.
Dalam sambutannya, Darwis Moridu sangat marah atas ulah Aparatur Sipil Negara (ASN) khususnya Esselon II diwilayah pemerintahan kabupaten Boalemo. Menurut pengamatan dan penialaian Bupati, banyak ASN khususnya Esselon II yang berlaga munafik. Bahkan dipandang ‘golojo’ (rakus) jabatan. Dengan nada kesal dan marah Bupati Darwis Moridu mengungkapkan jika ada para ASN yang melakukan upaya PTUN terhadap sikapnya yang menonjobkan pejabat Esselon II. Terungkap juga didirinya pun membeberkan jika upaya ASN tersebut didukung oleh anggota DPD-RI.
“Ada ASN yang di nonjob melakukan PTUN, itu ASN golojo jabatan. Sudah dilakukan sesuai ketentuan yang ada, tetap melawan. Saya tunggu disini. Mau melawan saya, diujung kuku kalian,” kata Darwis Moridu saat itu yang rekamannya beredar ditangan masyarakat.
“Kemarin saya nonjob ASN dan melapor ke ASN, didukung oleh pejabat DPD-RI, mo lawan saya, saya kasih uang, dan lapor ke PTUN dan saya biayai. Golojo jabatan, tidak loyalitas, kinerja tidak baik, tidak mungkin di nonjob kalau bagus pekerjaannya. Kalau ada yang mo lawan saya, saya kasih uang, nanti saya tunggu di Alun-alun, di kantor Bupati dan rumah dinas, apa keberhasilan anda melawan saya”, tantang Bupati Darwis Moridu.
Namun, pada akhirnya Bupati pun memberikan jabatan kepada mereka yang ‘membangkan’.
“Saya tidak pilih kasih, meski ada unjuk rasa, semoga mereka ini sadar. Jika tidak sadar, mereka adalah binatang,” ungkap Bupati kesal.
“Insyaallah masih 2 tahun saya menjabat, dan kita nanti ketemu, sebagai teman maupun musuh saya,” tandas Bupti lagi.
Dirinya pun kesal atas kinerja ASN Esselon II, padahal TKD sudah dinaikan hingga 50 persen.
“Sudah dinaikan TKD 50 persen tapi kinerja tidak bagus, tidak masksimal. Berarti kalian mau makan uang haram, sementara rakyat menderita. Yang bagus kinerjanya akan dinaikan lagi TKD nya, termasuk tenaga kontrak. Elesson II kurang ngaja semua. Esselon ii menyiksa Esselon dibawahnya. Tidak bayar orang punya hak, orang punya pembayaran,” ucap Bupati lagi.
Bupati pun membongkar kedok buruk ASN yang meminjam uang kepada pihak ketiga yakni para kontraktor.
“Ada ASN yang pinjam uang di rakyat dan hingga sekarang belum dibayar. Pakai uang para kontraktor dan kembalikan hari ini, jika tidak di non job hari ini. Jangan bikin malu ASN jangan bikin malu Bupati, sudah terbalik dunia ini,” tegas Bupati.
Bupati pun menegaskan jika dirinya berbuat seperti ini karena membela rakyat.
“Saya tidak punya kepentingan apa-apa, kecuali membela rakyat, bukan membela kalian yang munafik. Elesson II banyak yang munafik. Saya menindak ASN karena untuk rakyat. Bagaimana rakyat harus sejahtera. Saya tahu roman-roman para munafik. Biarkan ASN melawan saya, bila perlu dikasih uang,” kata Bupati.
Nampaknya keinginan Bupati dalam membela rakyat sudah bulat. Karena disadarinya, yang memilih dirinya jadi Bupati adalah rakyat Boalemo.
“Pilkada urusan Allah. Ada kepala daerah takut dengan Pilkada dan takut menindak ASN,” kata Bupati mengakhiri statemennya soal Eseselon II yang dipandang tidak loyal dan munafik terhadap dirinya.#[KP]





