Oleh: H. Abdullah Sugiyanto
Dari sekian banyak ibadah hanya ibadah puasa yang merupakan ibadah privat, artinya hanya Allah Subhana Wata’ala dan yang menjalankan ibadah puasa itu yang benar-benar mengetahui. Tidak ada seorangpun yang bisa menjamin dan mengetahui apalagi memastikan kalau si fulan berpuasa, sekalipun dia menunjukkan tanda-tanda lahiriyah berpuasa. Misalkan di siang bolong terik matahari panas kelihatan lemah lunglai, bibir kering, dan sebagainya.
Namun bisa jadi disaat sendirian dia meneguk segelas air, dan disaat yang bersamaan tidak ada yang mengetahui.
Inilah maknanya bahwa puasa dinamakan sebagai ibadah privat yang sama sekali tidak adanya kontrol sosial yang bisa dijadikan sebagai indikator bahwa puasa bisa diketahui orang lain. Ibadah yang satu ini berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya.
Sementara ibadah lainya bukan merupakan ibadah privat, mengapa karna bisa diketahui dan dipastikan orang lain kalau sifulan menjalankan ibadah yang dimaksud. Bahkan ibadah selain puasa justru melibatkan orang lain dan relatif besar kontrol sosialnya. Semisal ibadah sholat fardlu itu lebih baik dilaksanakan dengan berjamaah, berarti melibatkan orang lain dan dikerjakan di masjid atau mushola, sehingga orang mengetahui kalau si fulan sedang melaksanakan ibadah sholat.
Begitu juga ibadah zakat dikerjakan melalui panitia zakat sehingga tercatat dan diketahui
banyak orang kalau si fulan zakat, begitu juga ibadah haji dimana kontrol sosialnya jauh lebih besar dibanding yang lainnya, karena saat pelaksanaan diketahui banyak orang. Misal saat pemberangkatan diantar oleh keluarga, saudara dan handaitulan. Bahkan ibadah yang kontrol sosialnya paling besar dan diketahui banyak orang adalah ibadah haji. Ini menunjukkan bahwa ibadah tersebut tidak hanya yang bersangkutan saja yang mengetahui tetapi orang lain juga mengetaui.
Karna ibadah puasa merupakan ibadah privat hanya yang menjalankan dan Alllah Subhana Wata’ala yang mengetahui maka harus punya komitmen untuk menjaga nilai-nilai puasa. Dalam sebuah Hadits Riwayat An-Nasaβi dikatakan berapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Juga dalam hadits Qudsi Alllah berfirman “Semua amal anak adam untuknya kecuali puasa, puasa hanya untukku dan hanya aku sendiri yang akan membalasnya.
Semoga perjuangan ketika puasa ramadhan nanti dijadikan Allah Subhana Wata’ala sebagai bekal kelak di yaumul qiyamah dan diterima sebagai amal sholeh, aamin ya robbal ‘alamiin.
Wallahu ‘alam bi showab.






