KISAH DILEMATIS ABANG BENTOR DITENGAH ANCAMAN VIRUS CORONA

Selasa, 28 Apr 2020
Dengarkan dgn suara Siap
5.1K pembaca

Laporan : Hidayat Mokambu (JMSI), Editor : Mahmud Marhaba

KABUPATEN GORONTALO [KP] – Sejumlah pengemudi Bentor yang sedang mangkal di bawah menara Limboto rela berbuka puasa di pangkalan ketimbang pulang ke rumah untuk berbuka bersama dengan keluarga.

Gambar konten
Sumber: Kabarpublik.id

Dari penelusuran tim kabarpublik.id ternyata mereka juga tidak ingin melewatkan momentum-momentum berharga bersama keluarga saat bulan Ramadhan ini. Akan tetapi, ketika mereka pulang ke rumah hasil dari pendapatan mereka selama satu hari masih tergolong sedikit. Terlebih lagi saat ini, pemberlakuan jam malam yang ada di Kabupaten Gorontalo sudah dilaksanakan sejak tanggal 4 April yang lalu. Dengan demikian mereka tidak ingin melewatkan hal itu.

Ditambah lagi dengan kondisi seperti sekarang ini, tercatat sudah ada 14 pasien positif covid-19 yang sudah terkonfirmasi saat ini dan 1 orang sudah meninggal, sementara lainnya belum ada yang dinyatakan pulih. Meski demikian, perasaan yang diselimuti dengan penuh kecemasan tentang adanya ancaman yang ada di luar rumah, nampaknya tidak kalah jauh ketika disandingkan dengan ancaman yang timbul dari dalam rumah. Meskipun tingkat resikonya sangat berbeda.

Seperti yang saat ini dirasakan oleh Wano warga Kelurahan Kayubulan Kecamatan Limboto yang menghidupi keluarganya dengan bergantung pada upah harian yang didapatkan dari hasil mengemudi bentor. Sementara, saat ini banyak masyarakat yang membatasi diri dan lebih memilih untuk tetap berada di dalam rumah. Dengan demikian, penumpang jelas berkurang dan berimbas pada pendapatan.

“Saya saat sekarang berada di kondisi dilema, kalau ditanya takut Corona saya jelas takut. Tapi kalau saya tetap berdiam diri di dalam rumah anak istri saya tidak akan bisa makan,” ucap Wano saat diwawancarai, Senin (27/04/2020)

Dengan demikian Wano lebih memilih untuk berada di pangkalan dan menunggu penumpang. Mirisnya dalam pangkalan tersebut diberlakukan antrian untuk para pengemudi bentor yang ingin membawa penumpang.

“Apabila saya akan berbuka puasa di rumah, saya akan melewatkan kesempatan saya, karena sedikit lagi kesempatan saya untuk membawa penumpang, kata Wano.

Di lokasi yang tak jauh berbeda, hal yang sama juga dikeluhkan oleh Jufri, seorang pengemudi bentor yang merasa beruntung jika mendapatkan penghasilan Rp35.000,00 – Rp50.000,00 perhari.

“Saat corona ini, saya mendapatkan pemasukkan paling tinggi hanya pada saat hari pasar saja. Dan kalau diluar itu, saya hanya mendapatkan kurang lebih Rp20 Ribu perhari, itupun belum pendapatan bersih Separuhnya akan saya gunakan untuk mengisi Bahan Bakar Minyak.” keluh Jufri

Merasa pendapatannya belum mencukupi untuk kebutuhan keluarganya, Jufri memilih berbuka puasa di jalanan dan akan pulang ke rumah saat jam malam tiba. #[KP]

No More Posts Available.

No more pages to load.