Direktur Reserse Kriminal Umum, Kombes Pol Iman Imanuddin, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, pelaku berdalih melakukan aksi tersebut hanya karena iseng.
”Namun kami tidak percaya begitu saja dan kami terus melakukan pendalaman terhadap pelaku, kemudian background (latar belakang) pelaku, dan keterhubungan pelaku dengan pihak-pihak yang lain,” kata Iman di Jakarta, Senin.
Iman menjelaskan kepolisian juga menelusuri kemungkinan adanya indikasi kekecewaan pribadi dari pelaku. Berdasarkan temuan awal, pelaku sempat mengutarakan adanya kekecewaan dalam kehidupan pribadinya, namun hal tersebut tidak berkaitan dengan pihak sekolah.
”Temuan awal hasil penyelidikan atau penyidikan kami, sementara hanya menyampaikan karena keisengan. Tapi sempat juga menyampaikan ada kekecewaan secara pribadi, tapi kekecewaan dalam hidupnya, bukan terhadap sekolah,” ujar Iman.
Berdasarkan profilnya, pelaku sehari-hari bekerja sebagai wiraswasta dan tidak memiliki rekam jejak aktivitas spesifik yang mencurigakan.
Namun, dari hasil pengembangan pascapenangkapan, terungkap bahwa pelaku sebelumnya pernah mengirimkan pesan ancaman bom yang sama melalui aplikasi WhatsApp kepada Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya.
“Aksi terdahulu tersebut tidak sempat dilaporkan ke polisi lantaran Ketua RT setempat mengenal pelaku secara pribadi dan langsung menyelesaikan masalah tersebut lewat komunikasi personal. Kasus lama ini baru terkuak setelah polisi mengamankan pelaku pascateror di Srengseng,” ucapnya.
Mengenai kondisi di lingkungan sekolah, Iman memastikan situasi saat ini aman dan kondusif. Pihak Polsek setempat bersama jajaran Pemerintah Kota Jakarta Selatan telah turun ke lokasi untuk berkoordinasi dan memastikan keamanan masyarakat.
”Sementara ini kami dari catatan, baik itu dengan Kapolsek tadi juga disampaikan, dan komunikasi pihak sekolah dengan Polsek, kemudian tadi juga dari pihak Walikota Jakarta Selatan juga sudah ikut serta bersama-sama dengan kami,” kata Iman.
Pemeriksaan Kejiwaan
Kepolisian akan melakukan tes kejiwaan kepada MY (34), pelaku teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, untuk memastikan kesehatan kejiwaan.
“Iya betul, kami akan melakukan tes kejiwaan,” kata Pelaksana tugas (Plt) Kanit Krimum Satreskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Ipda Alpino De Tech kepada wartawan di Polres Metro Jakarta Selatan, Senin.
Alpino mengatakan hingga kini pelaku masih menjalani pemeriksaan dan statusnya masih menjadi saksi.
“Sampai saat ini masih saksi, nanti kami akan sampaikan pada kesempatan berikutnya,” ucapnya.
Alpino menegaskan, Polres Metro Jakarta Selatan senantiasa berkomitmen merespon cepat laporan kejadian. Kepolisian juga bergerak cepat dan langsung mengimbau siswa untuk kembali ke rumah saat kejadian.
Kemudian, tim penjinak bom (jibom) Gegana juga telah melakukan penyisiran terhadap lokasi yang ditebar oleh pelaku. Adapun tim Direktorat PPA-PPO Polda Metro Jaya juga akan memberikan pemulihan trauma (trauma healing) kepada siswa.
“Besok dari Direktorat PPA PPO akan hadir ke sekolah untuk melakukan trauma healing terhadap anak-anak kita,” kata Alpino.
Sebelumnya, kepolisian menelusuri dugaan teror bom di SDN Srengseng Sawah 15 Pagi, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada hari pertama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Polisi menerima laporan teror bom pada pukul 07.30 WIB, saat siswa dan guru di sekolah tersebut sedang melaksanakan upacara pada hari pertama MPLS.
Teror berawal dari pesan pribadi melalui aplikasi WhatsApp yang diterima guru kelas 1 dan staf Tata Usaha (TU).
Adapun isi pesan WhatsApp tersebut yakni peneror mengancam akan meledakkan bom ke 11 titik sekolah dan meminta pihak sekolah tidak melapor ke polisi.
Pihak sekolah kemudian melaporkan ancaman tersebut kepada kepolisian yang segera melakukan penyisiran. (ant)






