Makna Kemerdekaan bebas Tanpa Imunitas. 𝘐𝘬𝘩𝘵𝘪𝘢𝘳 𝘬𝘦𝘣𝘢𝘯𝘨𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘸𝘢𝘯 hegemoni global.

OPINI266 Dilihat

Laporan : Iswadi / Editor : YR

SOFIFI [kabarpublik.id] – Sejenak memotret dinamika nasional saat ini, ada semacam suasana psikologi sosial yang mengandaikan bahwa kini kita berada pada wajah indonesia yang lain – indonesia yang kian jauh berbeda dengan yang di cita – citakan sebelumnya.

Carut – marut dinamika keindonesiaan kita yang hampir “kepayahan” kala memasuki usianya yang ke – 76 tahun hari ini. Performa kebangsaan saat ini seakan – akan terdistorsi dalam sebuah tafsir bebas yang tak terumuskan dimana problem kesenjangan sosial dan eskalasi ekonomi dalam negeri yang lagi “bolong” akibat pandemi Covid-19. Disaat yang bersamaan pula, kebebasan publik semakin terhimpit oleh sikap ambiguitas pemerintah yang dipertontonkan melalui kebijakan yang terkesan inkonsisten kaitannya dengan penanganan pandemi Covid-19.

Instrumen kebijakan yang “enggan” bersahabat dengan aturan main sebagai negara demokratis kaitannya dengan pembatasan kebebasan aktifitas publik yang sesungguhnya memberatkan masyarakat dari berbagai aspek kehidupannya.

Fakta – fakta ini semakin relevan dengan yang disampaikan presiden jokowi dalam pidato kenegaraannya dini hari ini (senin 16/08), bahwa pemerintah menyadari adanya kepenatan, kejenuhan, kelelahan, kesedihan, dan kesusahan selama pandemi Covid-19

Bahkan pemerintah kerap kali diserang dengan banyak kritikan hingga pada aksi protes, terutama terhadap hal – hal yang belum bisa diselesaikan. Dan salah satu kritik yang paling menonjol oleh publik adalah menyangkut kebijakan pengetatan dan pelonggaran mobilitas Masyarakat (PSBB – PPKM) yang “kontras” dengan angka-angka kasus Covid-19 yang terus melonjak.

Mungkin (kebijakan) inilah yang oleh publik civil society diklaim sebagai kebijakan yang berubah-ubah, atau kebijakan yang tidak konsisten. Negara seakan – akan kehilangan pamor dan kepercayaan publik (public trust) atas kesulitan dalam upaya menemukan kombinasi terbaik antara kepentingan kesehatan dan kepentingan perekonomian masyarakat. Karena virusnya yang selalu berubah dan bermutasi, sehingga cara penanganannya pun terus berubah – ubah sesuai dengan tantangan yang dihadapi.

Pengetatan mobilitas yang tidak bisa dihindari ini membuat pemerintah harus memberikan bantuan sosial yang lebih banyak dibanding pada situasi normal. Dan pada dititik inilah asal – muasal problematika sosial menjadi semakin kacau mewarnai gejolak sosial, ekonomi dan tatanan publik selama masa pandemi.

Dirgahayu Indonesiaku yang Ke – 76 Tahun
Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh

Risman Tidore,
pemerhati kebijakan publik dan civil society

Apa Reaksi Anda?
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0
+1
0

Komentar